Perjalanan dari pusat Kota Banjarmasin menuju Kelurahan Kelampayan, Kecamatan Astambul, memakan waktu sekitar satu setengah jam di sore hari. Lev sengaja memilih waktu ini agar bisa menikmati suasana senja di area makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, ulama besar yang juga dikenal sebagai Datu Kelampayan, penulis Kitab Sabilal Muhtadin yang tersohor itu.
Setibanya di sana, suasana lebih tenang dibanding dua tempat ziarah sebelumnya. Kompleks makam Datu Kelampayan ini luas, asri, dan terawat dengan baik. Arsitektur masjid dan makamnya memancarkan nilai sejarah yang kental, dengan dominasi ukiran kayu khas Banjar yang elegan.
Mereka salat Ashar berjemaah di Masjid Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang bersebelahan dengan area makam. Usai salat, Lev, Anindya, dan Aisyah memasuki area kubah makam. Suasananya begitu sakral. Ratusan lampu gantung kristal menghiasi langit-langit, memantulkan cahaya lembut yang menerangi makam utama dan makam keluarga serta murid-murid beliau di sekitarnya.
Lev kembali larut dalam kekhusyukan. Datu Kelampayan adalah sosok sentral dalam penyebaran Islam di Kalimantan. Berdoa di sini serasa terhubung langsung dengan sejarah ratusan tahun lalu.
Anindya, seperti biasa, sigap mengurus Aisyah yang kini mulai tertarik pada lampu-lampu gantung yang berkelap-kelip.
"Abi, lampunya banyak sekali, kayak bintang!" seru Aisyah, menunjuk ke atas.
"Iya, Nak. Yang di dalam makam ini orang pintar sekali, beliau guru besar. Berkat ilmu beliau, banyak orang jadi tahu agama," jelas Anindya dengan sabar.
Setelah selesai berdoa dan membaca tahlil, mereka keluar dari area makam. Lev mengajak Anindya dan Aisyah berjalan kaki sebentar ke arah Museum Lambung Mangkurat yang letaknya tidak terlalu jauh, masih di area Banjarbaru. Mereka ingin menambah wawasan sejarah Kesultanan Banjar yang berkaitan erat dengan peran para ulama ini.
Di museum, Aisyah kembali mendapatkan dunianya. Dia berlarian di antara etalase yang memamerkan keris kuno, pakaian adat, hingga Al-Qur'an tulisan tangan yang berusia ratusan tahun.
"Mas, lihat ini. Ini tombak asli Kerajaan Banjar?" tanya Anindya antusias, menunjuk sebuah tombak yang dipajang rapi.
Lev mengangguk sambil membaca keterangan di sebelahnya. "Iya, Nindya. Senjata-senjata ini yang digunakan para pejuang dan santri zaman dulu melawan penjajah, dipimpin oleh para ulama seperti Datu Kelampayan ini."
Momen komedi terjadi ketika Aisyah mencoba meniru gaya prajurit dengan mengambil payung lipatnya dan berpura-pura menjadi pendekar silat di depan patung Pangeran Antasari. Pengunjung lain dan petugas museum tersenyum geli melihat tingkah polah Aisyah.
"Aisyah, itu bukan tempat bermain peran, Nak," tegur Lev, menahan tawa.
Kunjungan ke museum ini menjadi penyeimbang yang sempurna untuk perjalanan spiritual mereka. Mereka mendapatkan konteks sejarah yang membuat ziarah mereka semakin bermakna. Mereka melihat bagaimana agama dan budaya, spiritualitas dan perjuangan fisik, berjalan beriringan di tanah Banjar.
Matahari benar-benar terbenam saat mereka meninggalkan area museum. Lampu-lampu jalan mulai menyala, menerangi perjalanan pulang mereka menuju Banjarmasin.
Di dalam mobil, Anindya terlihat lelah namun bahagia. "Ternyata seru juga ya, Mas, ziarah sambil belajar sejarah begini. Capeknya nggak terasa."
"Itu tujuannya, Nindya. Kita nggak cuma cari berkah di makam, tapi juga mengambil ibrah (pelajaran) dari perjuangan mereka semasa hidup," jawab Lev, fokus menyetir di tengah kemacetan senja.
Aisyah sudah kembali tertidur pulas di kursi belakang, memeluk erat payung lipatnya yang kini beralih fungsi menjadi tombak sakti.
Tiga makam besar di Kalimantan Selatan sudah mereka kunjungi. Hati Lev terasa semakin mantap. Nazar ini bukan lagi sekadar kewajiban, tapi sebuah kebutuhan ruhani. Malam ini mereka akan beristirahat di Banjarmasin, karena besok pagi, petualangan akan berlanjut ke makam lain yang tak kalah legendaris: Datu Nuraya di Kabupaten Tapin.
