Dengan ketenangan yang mulai didapatkannya, Vania mulai memahami esensi dari keberadaannya di alam barzakh. Pengamatan rutinnya terhadap dunia di Kayu Tangi dan sekitarnya memberinya perspektif yang radikal mengenai kehidupan yang dulu ia jalani. Dari posisinya sebagai roh, hiruk pikuk kehidupan manusia tampak berbeda—lebih lambat, lebih fana, dan sering kali terfokus pada hal-hal yang, pada akhirnya, tidak dibawa mati.
Syekh, pemandunya yang sabar, sering mendampinginya saat Vania merenung di "ruang pandang" spiritualnya.
"Dulu, saat hidup, aku sering khawatir tentang hal-hal kecil, Syekh. Nilai ujian murid-murid, kenaikan pangkat, atau bahkan memilih warna kerudung yang pas untuk mengajar," tutur Vania, mengenang masa lalunya sebagai guru cantik yang perfeksionis. "Sekarang, semua itu terasa begitu remeh."
Syekh tersenyum. "Itulah hikmah dari alam barzakh, Vania. Di sini, prioritas menjadi jelas. Yang tersisa hanyalah amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh. Ketiga hal itu yang menjadi bekal abadi."
Vania mengangguk. Dia menyaksikan mantan rekan-rekannya di sekolah sedang sibuk menyiapkan akreditasi sekolah, panik mengejar target administratif. Cahaya kepanikan mereka tampak begitu kontras dengan cahaya ketenangan orang tuanya yang sedang beribadah. Vania merasakan dorongan aneh, keinginan untuk berbisik di telinga mereka: "Tenanglah, fokus pada esensi mendidik, bukan hanya administrasi." Tentu saja, itu mustahil.
Kesadaran ini membuat Vania merefleksikan kembali seluruh hidupnya di Banjarmasin. Dia bersyukur telah menanam banyak kebaikan. Cahaya dari murid-muridnya yang mendoakannya setelah salat, atau cahaya dari orang-orang yang terbantu oleh ilmu yang dia ajarkan, memancar ke arahnya seperti bintang-bintang kecil di alam barzakh.
Perspektif baru ini juga memengaruhi cara Vania memandang Lev Ryley. Jika sebelumnya ia fokus pada duka Lev, kini ia fokus pada potensi spiritual Lev.
Lev, yang merupakan mualaf, sedang berjuang keras mendalami Islam sendirian tanpa Vania di sisinya. Vania melihat Lev membaca buku-buku agama dengan tekun di apartemennya di daerah pusat kota. Ada cahaya kehausan spiritual yang kuat dari Lev.
Vania berdoa agar Lev diberikan kemudahan dalam memahami ajaran agama. Dia menyadari bahwa tujuan sejati manusia adalah mempersiapkan diri untuk alam barzakh ini, bukan sekadar mengejar kebahagiaan duniawi—meskipun kebahagiaan itu penting.
"Hidup di dunia adalah perjalanan, Vania. Kematian adalah tujuannya," ujar Syekh, seolah membaca pikiran Vania. "Banyak manusia lupa, mereka sibuk dengan perahu mereka di Sungai Martapura, tapi lupa mempersiapkan pelabuhan terakhir mereka."
Vania Larasati, sang guru cantik, kini menjadi murid di sekolah kehidupan terbesar. Dia belajar bahwa kematian bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan awal dari realitas yang abadi. Sudut pandang baru ini memberinya kekuatan untuk melepaskan keterikatan duniawi secara perlahan, meskipun bayangan Lev Ryley masih sering melintas di benaknya, membawa serta dilema baru.
