Bus rombongan akhirnya berhenti di depan sebuah hotel mewah di pelataran Masjid Nabawi. Begitu pintu bus terbuka, aroma khas Madinah—campuran antara harum parfum oud, udara gurun yang kering namun sejuk, dan aroma roti tamis yang baru matang—menyambut mereka.
Muhammad Hifni segera menurunkan koper-kopernya dengan sigap, namun ia harus ekstra waspada karena Khalisah Salsabilla sudah berdiri di ambang pintu bus dengan mata berbinar. "Abah! Lihat! Itu ada kucing warnanya seperti kopi susu!" teriak Khalisah sambil menunjuk ke arah pilar-pilar besar di kejauhan.
"Sabar, Nak! Kita check-in dulu," sahut Hifni. Namun, di samping Khalisah, Naura Salsabilla juga tak kalah antusias. Dua bocah bernama belakang sama itu kini seperti dua detektif cilik yang sedang mengintai mangsa. drg. Dina Yulianti hanya bisa menghela napas sambil memegang pundak Naura. "Pak Hifni, sepertinya kita harus membuat jadwal 'patroli kucing' supaya mereka tidak kabur saat kita shalat nanti," canda Dina yang mulai merasa akrab dengan keluarga tetangganya itu.
Sementara itu, di sisi lain lobi hotel, Anindya Putri sedang melakukan unboxing kilat di depan lift. Ia mengeluarkan sebuah mukena berbahan sutra khas Banjar untuk ditunjukkan ke arah kamera ponselnya. "Halo semuanya! Kita sudah sampai di Madinah. Lihat mukenanya, cantik banget kan buat shalat tarawih nanti?" ujarnya penuh semangat.
Lev ℛyley berdiri di belakangnya, memegang dua koper besar yang beratnya seolah mengandung batu gunung. "Ma, kalau Papa jadi cameraman terus, kapan Papa bisa istirahat buat persiapan tarawih? Ingat, ini malam pertama kita di sini," keluh Lev dengan nada humorisnya.
Aisyah Humaira segera mengambil alih kendali. "Pa, Ma, mari masuk kamar dulu. Maryam, bantu bawa tas kecilnya. Ghina, matikan dulu HP-nya, kita harus bagi kunci kamar." Aisyah, dengan ketegasan mahasiswi PGSD ULM, memastikan semua adiknya masuk ke kamar masing-masing agar tidak mengganggu jamaah lain.
Malam harinya, suasana berubah menjadi sangat syahdu. Inilah malam pertama shalat Tarawih di Masjid Nabawi. Ribuan orang berbaju putih dan hitam mengalir seperti sungai menuju masjid. Rayyan Zuhayr, yang mengenakan gamis kecil pemberian ayahnya, berjalan dengan langkah mantap. Ia tidak lagi menanyakan mainan. Matanya terpaku pada kubah hijau (Green Dome) yang terlihat megah di bawah sinar lampu.
"Yah, itu makam Rasulullah ya?" tanya Rayyan berbisik. Lev mengangguk pelan, rasa haru mulai merayap di dadanya, melupakan sejenak urusan IT dan paket belanjaan istrinya.
Di saf wanita, Rina Rufida dan drg. Dina duduk berdampingan. Di antara mereka, dua Salsabilla duduk tenang—sebuah keajaiban langka. Rupanya, mereka telah berjanji: jika mereka tenang selama shalat, besok pagi mereka diizinkan memberi makan kucing di pelataran masjid.
Saat imam mulai membacakan ayat suci Al-Qur'an dengan suara yang menggetarkan jiwa, suasana pelataran Nabawi menjadi hening. Hanya suara angin malam yang sesekali meniup kain mukena para jamaah. Di situlah, Anindya Putri, sang influencer, menyadari sesuatu. Ia menyimpan ponselnya di dalam tas. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak merasa perlu memotret apa pun. Keindahan di depan matanya terlalu suci untuk sekadar dibingkai dalam layar Instagram.
Shalat tarawih pertama itu ditutup dengan doa yang panjang. Ketiga keluarga dari Kalimantan Selatan ini bersujud di atas marmer dingin Madinah, merasa sangat kecil di hadapan Sang Pencipta, namun merasa sangat dicintai karena telah diundang ke rumah-Nya.
Informasi Penting: Bagi jamaah yang membawa anak kecil, pastikan membawa stroller ringan atau gendongan yang nyaman. Cek panduan lengkap di Situs Resmi Haji & Umroh.
Apakah 'Operasi Kucing' Khalisah dan Naura akan berjalan lancar esok pagi? Dan bagaimana reaksi Pak Hifni saat tanpa sengaja bertemu teman lama di depan pintu masuk Raudah?
Lanjutkan ke Bab 4: Suara Azan Pertama di Madinah untuk petualangan yang lebih seru!
