Hari Senin kembali datang. Vania berangkat ke sekolah dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia masih merasa malu dengan insiden di kencan buta yang gagal total. Di sisi lain, ia masih kepikiran tentang pertemuan tak terduga dengan Lev Ryley di Pasar Terapung. Ia sudah mencoba membalas pesan Lev di biro jodoh online dengan ucapan terima kasih atas bantuannya di Pasar Terapung. Namun, ia merasa terlalu canggung untuk membalas pesan yang lebih jauh.
Vania memasuki ruang guru. Mia dan Sarah sudah menunggunya dengan senyum lebar.
"Van! Kamu harus cerita semuanya!" seru Mia. "Bagaimana bisa kamu ketemu lagi sama Lev?"
"Sudah, Mia. Nanti saja," Vania berusaha menghindar.
"Tidak bisa nanti! Aku penasaran!" desak Mia.
Saat Vania sedang berusaha mengalihkan pembicaraan, pintu ruang guru terbuka. Seorang pria paruh baya, Pak Budi, masuk dengan seorang pria di belakangnya. Vania langsung terdiam. Pria itu adalah Lev Ryley.
Lev mengenakan setelan kemeja batik berwarna gelap yang elegan, memancarkan aura wibawa yang kuat. Ia tersenyum tipis saat matanya bertemu dengan mata Vania.
"Assalamualaikum," sapa Lev. "Pak Budi, saya sudah bertemu dengan Ibu Kepala Sekolah. Jadi, saya bisa langsung mengurus dokumennya."
"Waalaikumsalam," jawab Pak Budi. "Silakan, Pak Lev. Ibu Vania, Pak Lev ini adalah konsultan pendidikan yang akan bekerja sama dengan sekolah kita selama beberapa bulan ke depan. Dia akan membantu kita dalam program pengembangan sekolah."
Vania terkejut. "Konsultan?"
"Iya," jawab Lev, matanya tidak lepas dari Vania. "Saya Lev Ryley. Senang bisa bekerja sama dengan Anda, Bu Vania."
Vania hanya bisa mengangguk. Ia merasa seperti ada seratus kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Lev Ryley, pria misterius itu, ternyata adalah konsultan yang akan sering berinteraksi dengannya.
Mia dan Sarah, yang duduk di bangku belakang, saling melirik dengan senyum penuh arti. Mereka seolah berkata, "Lihat kan? Kita tidak perlu usaha apa-apa, takdir sudah bekerja dengan sendirinya."
Setelah Lev dan Pak Budi keluar dari ruangan, Mia langsung menghampiri Vania. "Van! Van! Ini kan yang namanya takdir! Ya ampun! Aku tidak menyangka akan secepat ini!"
"Mia, tolong tenang sedikit," kata Vania, berusaha menenangkan dirinya. "Dia kan cuma rekan kerja. Tidak ada yang spesial."
"Rekan kerja, ya? Kalau dia melamar kamu di depan murid-murid, baru kamu bilang tidak spesial," Mia kembali menggoda.
"Mia!" Vania memelototi Mia.
"Oke, oke. Aku diam," Mia menutup mulutnya dengan tangan.
Vania merasa semakin cemas. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Lev. Ia merasa takut Lev akan menganggapnya aneh, ceroboh, dan tidak profesional. Ia juga merasa takut akan salah tingkah, dan membuat Lev ilfil.
Saat Vania sedang sibuk dengan pikirannya, Lev kembali masuk ke ruangan.
"Vania, bisa saya minta tolong?" tanya Lev.
"Ada apa, Pak Lev?" Vania berusaha bersikap profesional.
"Saya butuh daftar nama-nama murid di kelas 3B, beserta wali muridnya. Apakah Anda bisa bantu?"
"Tentu," Vania mengambil laptopnya. "Sebentar saya carikan."
Lev berdiri di samping meja Vania, menunggunya. Vania merasa jantungnya berdebar kencang. Ia berusaha fokus, tapi ia tidak bisa. Ia merasa Lev terlalu dekat.
"Anda tidak perlu khawatir," bisik Lev.
"Khawatir apa, Pak Lev?" Vania menoleh.
"Soal es kelapa muda dan kencan buta Anda. Saya sudah memaafkan Anda," Lev tersenyum, lesung pipinya terlihat samar.
Vania merasa pipinya memanas. "Terima kasih, Pak Lev."
Lev hanya tersenyum. Vania merasa hatinya semakin berdebar kencang. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Ia merasa seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. Ia hanya bisa berdoa, semoga ia bisa bersikap profesional di depan Lev, dan semoga ia tidak melakukan hal-hal yang memalukan lagi. Ia tidak tahu, apakah ini takdir, atau sekadar lelucon semesta. Tapi, satu hal yang pasti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi sejak bertemu Lev Ryley.
