Hari itu, Fatimah menepati janjinya. Mereka berempat menuju Perpustakaan Alexandria. Perpustakaan yang baru dibangun kembali di lokasi perpustakaan kuno yang legendaris, adalah sebuah mahakarya arsitektur modern yang memadukan desain futuristik dengan simbolisme kuno. Bentuknya yang mirip piringan cakram raksasa yang miring dan tertanam ke dalam tanah, dengan fasad yang dipenuhi tulisan-tulisan dari berbagai aksara kuno, membuat Lev langsung terpukau.
“Ini... luar biasa,” bisik Lev, matanya tidak bisa lepas dari fasad perpustakaan.
“Bagaimana arsitektur modern bisa begitu menghormati sejarah,” tambahnya, suaranya dipenuhi kekaguman.
“Itulah yang mereka coba lakukan,” jawab Khadijah, berdiri di sebelahnya. “Mereka mencoba menghidupkan kembali roh dari perpustakaan kuno yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia.”
Fatimah mengamati keduanya dengan senyum puas. “Lihat, Lev? Ada lebih banyak hal di Mesir daripada sekadar Piramida. Aku tahu kalian akan menyukai ini.”
Aisyah, yang sudah siap dengan kameranya, langsung berpose di depan fasad perpustakaan yang unik. “Konten vintage modern! Keren!”
Mereka masuk ke dalam perpustakaan. Di dalamnya, suasana tenang dan damai, dipenuhi rak-rak buku yang menjulang tinggi, menjangkau langit-langit yang terang. Cahaya alami masuk melalui jendela-jendela besar, menerangi setiap sudut. Lev merasa seperti berada di surga bagi para pembelajar. Ia melihat rak-rak buku yang berisi manuskrip kuno, buku-buku langka, dan koleksi-koleksi berharga lainnya.
Fatimah memandu mereka ke area yang memamerkan replika manuskrip kuno. Ia menjelaskan dengan penuh semangat tentang sejarah ilmu pengetahuan Islam, bagaimana para cendekiawan di Baghdad dan Kairo pada masa lampau berjasa dalam bidang matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat. Lev, yang sudah banyak membaca tentang ini, merasa seperti berada di depan peninggalan sejarah yang hidup.
Khadijah, yang memang ahli dalam sejarah peradaban Islam, menambahkan beberapa detail yang mungkin terlewat oleh Fatimah. Ia menjelaskan tentang bagaimana buku-buku dari Yunani dan Romawi kuno diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan bagaimana ilmu pengetahuan itu kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh para cendekiawan Muslim.
“Banyak orang tidak tahu, bahwa banyak pengetahuan modern yang kita nikmati sekarang, akarnya ada di sini,” kata Khadijah, menunjuk ke sebuah replika manuskrip kedokteran kuno. “Para ilmuwan di sini sudah melakukan operasi bedah yang canggih ribuan tahun lalu.”
Fatimah menimpali, “Dan yang lebih penting, mereka tidak hanya menerjemahkan, tapi juga mengembangkannya. Mereka tidak hanya mengambil, tapi juga memberi. Mereka adalah jembatan antara peradaban kuno dan peradaban modern.”
Aisyah, yang sedari tadi mendengarkan dengan saksama, tiba-tiba bertanya. “Jadi, kenapa bisa hilang semua, Fatimah? Perpustakaan ini, kok bisa hancur?”
Fatimah dan Khadijah terdiam sejenak. Fatimah, dengan nada sedih, menjelaskan tentang bagaimana perang, fanatisme, dan pergolakan politik bisa menghancurkan ilmu pengetahuan. Khadijah menambahkan bahwa meskipun perpustakaan fisiknya hancur, roh ilmu pengetahuan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ilmu itu menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Eropa, dan menjadi dasar bagi renaisans.
“Itu pelajaran penting bagi kita,” kata Khadijah. “Bahwa ilmu itu tidak bisa dibatasi oleh satu tempat. Ia harus terus mengalir.”
“Dan kita, sebagai generasi penerus, harus terus menyebarkan ilmu itu,” timpal Fatimah.
Lev, yang tadinya hanya mendengarkan, kini berbicara. “Aku rasa, perpustakaan ini adalah simbol. Simbol dari kegigihan manusia untuk belajar. Simbol dari harapan. Meskipun perpustakaan yang lama hancur, kita bisa membangunnya kembali, bahkan lebih baik. Seperti kita, meskipun kita berbeda, kita bisa bersatu.”
Mereka berempat kemudian menghabiskan sisa hari di perpustakaan. Lev membaca buku-buku tentang arsitektur kuno Mesir. Khadijah membaca manuskrip tentang sejarah Islam. Fatimah membaca buku-buku tentang politik dan filsafat. Dan Aisyah, setelah puas merekam, mulai membaca buku-buku tentang sejarah Mesir yang ia pinjam. Di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi, mereka berempat merasa seperti di rumah. Mereka tidak hanya belajar tentang sejarah, tetapi juga tentang arti persahabatan, arti berbagi, dan arti harapan.
