Minggu pagi adalah waktunya car free day di Banjarmasin, tapi bagi keluarga Rahmat, ini adalah waktu terbaik untuk petualangan kuliner pagi. Target kali ini adalah Lontong Orari yang legendaris, sebuah warung yang sudah puluhan tahun eksis dan konon rasanya tak pernah berubah.
Lontong Orari adalah kuliner khas Banjarmasin yang unik. Lontongnya dibentuk prisma segitiga, disajikan dengan kuah santan kental berwarna kemerahan, dengan pilihan lauk ikan gabus bumbu merah atau telur bebek bumbu bali.
"Siap-siap, tim ekspedisi kuliner!" Ayah Rahmat berseru di depan pintu. "Kita akan menuju tempat suci para pecinta lontong!"
Mereka pun meluncur. Warung Lontong Orari yang dituju terletak di sebuah gang kecil, lokasinya tersembunyi tapi selalu ramai pembeli. Antreannya sudah mengular bahkan sebelum warung benar-benar buka.
"Ya Allah, ramenya..." gumam Ibu Salma, terkejut melihat antusiasme warga.
"Namanya juga legendaris, Bu. Sabar ya, demi nikmatnya lontong," Ayah Rahmat berusaha menenangkan.
Mereka pun ikut mengantre. Di sinilah komedi situasi kembali terjadi. Ayah Rahmat yang dasarnya cerewet, mulai berinteraksi dengan orang-orang di antrean. Dia bertanya dari mana mereka tahu warung ini, sudah berapa kali makan di sini, sampai me-review warung lontong lain yang pernah ia kunjungi.
"Mas, sudah pernah coba Lontong Orari yang di seberang sana? Enak juga lho, tapi kuahnya beda tipis," Ayah Rahmat sok akrab dengan seorang bapak di depannya.
Aisyah merekam semua interaksi itu secara diam-diam untuk konten TikTok. "Ayah nih marketing dadakan warung sebelah," bisiknya ke Sarah, yang hanya bisa tertawa geli.
Setelah menunggu hampir satu jam, giliran mereka pun tiba. Ayah Rahmat memesan empat porsi lengkap dengan ikan gabus bumbu merah. Mereka duduk di bangku panjang yang sempit, berdesakan dengan pembeli lain, tapi suasana kebersamaan itu justru terasa hangat.
Saat porsi Lontong Orari tersaji, mata mereka langsung terbelalak. Porsinya besar, kuahnya kental dan menggiurkan, serta ikan gabusnya yang besar dan shining shimmering splendid.
"Bismillah..." mereka berdoa dan mulai makan.
Seketika, keheningan melanda meja mereka. Semua sibuk dengan porsi masing-masing. Lontongnya yang padat berpadu sempurna dengan kuah santan pedas gurih yang medok. Daging ikan gabusnya lembut dan bumbunya meresap hingga ke tulang.
"Pak, ini... sempurna," ujar Ibu Salma, tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Ini baru greget! Nek Ida, maafkan aku, kamu punya saingan berat!" seru Ayah Rahmat, mengacu pada warung Ketupat Kandangan langganan mereka di Bab 2.
Aisyah bahkan lupa merekam karena terlalu asyik makan. "Ya ampun, guys, aku lupa review saking enaknya! Pokoknya worth it banget antre sejam!"
Di tengah kelezatan itu, Ayah Rahmat menyadari ada hikmah dari perburuan mereka kali ini.
"Lihatlah, dari antrean panjang ini kita belajar sabar. Dari rasa yang luar biasa ini, kita belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Dan dari makan berdesakan kayak gini, kita belajar indahnya kebersamaan," tutur Ayah Rahmat bijak, membuat momen makan mereka jadi sedikit religius.
Zaki yang sudah menghabiskan porsinya, mengangguk setuju. "Iya, Yah. Tadi Zaki tabrakan sikut sama Om di sebelah, tapi Omnya malah senyum. Berkah Lontong Orari!"
Misi perburuan Lontong Orari legendaris sukses besar. Mereka pulang dengan perut kenyang, hati senang, dan pelajaran berharga tentang kesabaran, rasa syukur, dan kebersamaan yang tak ternilai harganya. Kuliner di Banjarmasin bukan hanya soal rasa, tapi soal cerita dan pengalaman hidup yang terjalin di setiap suapannya.
