Beberapa hari setelah Anindya mengirim email, tidak ada balasan dari ibunya. Sunyi. Keheningan itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Setiap kali ponselnya bergetar, jantung Anindya berdebar, namun hanya notifikasi biasa yang ia terima. Ia mencoba menelepon, tetapi panggilan itu tidak diangkat. Anindya tahu, ibunya sedang terluka.
Hingga suatu siang, ponsel Anindya berdering. Panggilan video masuk dari nomor ayahnya. Dengan tangan gemetar, ia menjawab.
"Karina," suara ayahnya terdengar berat, tidak seperti biasanya. Wajahnya di layar terlihat lelah, matanya memancarkan kekecewaan yang mendalam. Di sebelahnya, ibunya hanya diam, menundukkan kepala, enggan menatap layar.
"Ayah... Ibu..." sapa Anindya dengan suara pelan.
"Apa yang terjadi di sana, Karina?" tanya ayahnya, langsung ke inti masalah. "Ayah dan Ibu tidak habis pikir. Kamu ke sana untuk belajar, bukan untuk ganti agama."
Anindya merasa dadanya sesak. "Ayah, ini bukan hal yang tiba-tiba. Ini adalah proses yang panjang. Aku..."
"Proses apalagi?" potong ayahnya. "Ayah dengar dari teman-teman kamu kalau kamu dicuci otak oleh pacar kamu yang Muslim itu. Apa itu benar?"
Kata-kata ayahnya terasa seperti pukulan. Anindya tahu, teman-temannya pasti menyebarkan gosip. Namun, ia tidak menyangka gosip itu bisa sampai ke telinga orang tuanya. "Itu tidak benar, Ayah. Adam tidak pernah memaksa aku. Dia hanya membimbing aku. Keputusan ini murni dari hati Anin."
"Hati apa?" suara ibunya akhirnya terdengar, lirih namun penuh kepedihan. Ibunya mengangkat kepala, dan Anindya melihat air mata di matanya. "Hati apa yang membuat kamu lupa sama semua yang sudah Ibu dan Ayah berikan? Hati apa yang membuat kamu tega menyakiti Ibu begini?"
Melihat air mata ibunya, hati Anindya hancur berkeping-keping. "Ibu... Anin tidak bermaksud begitu. Anin...?
"Teman-teman kamu bilang, kamu sekarang jadi aneh. Pakai baju aneh-aneh. Kami malu, Karina. Malu."
Anindya terdiam, tak mampu membela diri. Ia merasa, bagaimanapun ia menjelaskan, orang tuanya tidak akan mengerti. Mereka melihat dari sudut pandang mereka, dari kekecewaan dan rasa malu yang mereka rasakan. Mereka melihat Karina yang mereka kenal telah menghilang, digantikan oleh Anindya yang asing.
"Pokoknya, Ayah tidak mau dengar alasan apa pun lagi," kata ayahnya dengan nada tegas. "Ayah dan Ibu tidak setuju. Ayah tidak mau kamu berhubungan lagi dengan laki-laki itu. Selesaikan kuliahmu baik-baik, dan cepat pulang."
Panggilan video itu terputus. Layar ponsel Anindya kembali gelap, namun hatinya terasa gelap gulita. Ia merasa sendirian, terputus dari keluarganya. Badai telah datang, dan ia harus menghadapinya sendiri di kota yang jauh dari rumah. Ia tahu, perjalanannya ini tidak akan mudah, tetapi ia tidak pernah menyangka akan sesulit ini.
Ia duduk termenung, air matanya mengalir tanpa henti. Namun, di tengah keputusasaannya, ia teringat pada doa-doa yang ia panjatkan dalam salat. Ia teringat pada janji Allah yang akan selalu bersamanya. Perlahan, ia merasakan ketenangan yang menenangkan hatinya. Ia tahu, ia tidak bisa menyerah. Ia harus kuat, demi keyakinan yang ia anut, demi kedamaian yang telah ia temukan. Badai ini adalah ujian. Dan ia akan menghadapinya dengan keyakinan, meskipun hatinya terasa sakit.
