Bab 14: Kencan Ganda yang Kacau

Bab 14: Kencan Ganda yang Kacau

Lev
0

Misi persahabatan yang tidak terduga di taman telah meninggalkan kesan mendalam bagi Anatasya. Ia merasa hubungannya dengan Lev telah berkembang. Lev tidak lagi menyepi, tetapi mulai membuka diri. Kencan itu adalah awal dari sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak lagi hanya tentang buku dan perpustakaan.

Keesokan harinya, Maja datang ke perpustakaan dengan senyum yang mencurigakan. Ia mengedipkan mata kepada Anatasya, dan menyeretnya ke pojok yang lebih sepi.

"Aku punya ide!" bisik Maja, dengan nada yang penuh semangat. "Kencan ganda!"

Anatasya membelalakkan matanya. "Maja! Apa yang kau lakukan?"

"Aku sudah mengatur semuanya," kata Maja, dengan bangga. "Aku sudah berbicara dengan Lev, dan dia setuju."

Anatasya merasa terkejut. "Kau... kau berbicara dengan Lev? Apa yang kau katakan?"

"Aku hanya bilang bahwa kita akan mengadakan kencan ganda," kata Maja. "Aku bilang ini adalah cara yang bagus untuk lebih mengenal satu sama lain."

Anatasya menghela napas. "Maja, kau tidak seharusnya melakukan itu."

"Tapi kau menyukainya," kata Maja. "Aku bisa melihatnya. Kau berdua saling tertarik."

Anatasya tidak bisa membantah. Ia memang menyukai Lev. Ia menyukai ketenangan dan kebijaksanaannya. Ia menyukai cara ia melihat dunia.

"Siapa yang akan ikut kencan ganda ini?" tanya Anatasya.

"Aku dan pacarku, Bjorn," kata Maja. "Dan kau dan Lev."

Anatasya merasa gugup. Bjorn adalah seorang pelukis yang eksentrik, dan ia tahu, kencan ganda ini akan menjadi kekacauan.

Malam itu, mereka bertemu di sebuah restoran Italia yang ramai di pusat kota. Maja datang dengan Bjorn, yang mengenakan jas oranye dan syal hijau yang mencolok. Mereka terlihat seperti karakter dari film eksentrik.

Lev Ryley datang dengan jaket tebal yang biasa ia kenakan. Ia terlihat tenang, tetapi Anatasya bisa melihat sedikit kegugupan di matanya.

Mereka duduk di meja, dan Maja langsung memulai percakapan. "Jadi, Lev! Apa yang kau pikirkan tentang cinta?"

Lev Ryley terkejut dengan pertanyaan itu. Ia menatap Maja, lalu menatap Anatasya. "Aku... aku tidak tahu."

"Oh, ayolah!" kata Maja. "Kau seorang jenius! Kau harus punya pendapat tentang cinta!"

"Cinta itu... rumit," kata Lev, dengan nada yang hati-hati.

"Rumi?" tanya Bjorn, dengan nada yang bingung. "Siapa itu?"

Anatasya merasa malu. "Bukan Rumi, Bjorn. Rumit."

"Oh," kata Bjorn. "Aku pikir kau membicarakan tentang puisi."

Maja tertawa. "Tidak, Bjorn. Kita membicarakan tentang cinta."

Percakapan mereka berlanjut dengan kekacauan. Maja dan Bjorn terus membicarakan tentang cinta, seni, dan filosofi mereka yang aneh. Lev dan Anatasya hanya bisa duduk, mendengarkan, dan sesekali tertawa.

Tiba-tiba, Bjorn bangkit dari kursinya. "Aku punya ide! Kita harus memainkan permainan! Permainan kebenaran atau tantangan!"

Anatasya membelalakkan matanya. "Bjorn, tidak. Kita tidak akan memainkan permainan itu."

"Ayolah!" kata Bjorn. "Ini akan seru! Aku yang akan memulai!"
Bjorn menatap Lev. "Kebenaran atau tantangan?"

Lev Ryley menghela napas. "Kebenaran."

"Apakah kau benar-benar seorang jenius IT yang jatuh?" tanya Bjorn, dengan nada yang dramatis.

Suasana menjadi tegang. Anatasya merasa malu. Ia menatap Maja, yang kini terlihat menyesal.

Lev Ryley menatap Bjorn, dengan ekspresi yang dingin. "Itu bukan pertanyaan yang sopan."

"Oh, maaf," kata Bjorn, merasa bersalah. "Aku hanya penasaran."

Lev Ryley bangkit dari kursinya. "Aku pikir aku harus pergi."

"Lev, tunggu!" kata Anatasya, tetapi Lev sudah pergi.

Anatasya menatap Maja dan Bjorn. "Kalian merusak semuanya," kata Anatasya, dengan nada yang marah.

Maja merasa bersalah. "Anatasya, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud..."

"Aku tahu," kata Anatasya, dengan nada yang lelah. "Tapi kalian harus tahu, tidak semua orang ingin hidupnya menjadi drama."

Anatasya bangkit, dan meninggalkan restoran. Ia merasa kecewa. Ia merasa telah merusak semuanya. Ia berjalan di bawah salju yang turun. Ia merasa dingin. Ia merasa kesepian.

Tiba-tiba, ia merasakan seseorang menyentuh bahunya. Ia menoleh, dan melihat Lev Ryley berdiri di belakangnya.

"Lev?" tanya Anatasya, terkejut.

"Aku... aku minta maaf," kata Lev. "Aku tidak seharusnya pergi begitu saja."

"Tidak," kata Anatasya. "Aku yang seharusnya minta maaf. Aku yang mengajakmu keluar."

Lev Ryley tersenyum. "Tidak masalah."

Mereka berdua berjalan di bawah salju, dalam keheningan yang nyaman. Anatasya merasa ada kehangatan yang kembali menyelimuti hatinya.

"Mungkin kencan ganda itu bukan ide yang buruk," kata Lev, tiba-tiba.

"Kenapa?" tanya Anatasya.

"Karena itu membuatku tahu bahwa aku lebih suka berada di dekatmu, daripada dengan orang lain," kata Lev Ryley.

Anatasya merasa hatinya berdebar. Ia merasa ini adalah kencan yang paling romantis. Kencan yang dimulai dengan kekacauan, kencan yang dilanjutkan dengan pengakuan konyol, dan kencan yang berakhir dengan pengakuan tulus.
Dan ia tahu, ini adalah awal dari kekacauan yang lebih besar. Dan kali ini, ia tidak takut. Ia merasa... siap.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default