BAB 3: Krisdayanti dan Misi Mengubah Fahri Menjadi Tom Cruise Versi Syariah

BAB 3: Krisdayanti dan Misi Mengubah Fahri Menjadi Tom Cruise Versi Syariah

Lev
0
Ikuti kisah kocak Ibu Hermione, Ibu Krisdayanti, Ibu Siti Nurhaliza dalam novel Islami terbaru 2026. Tiga suami di Palangkaraya yang harus berjuang menghadapi hobi unik istri mereka: dari kecanduan Drakor, obsesi Hollywood, hingga drama Sinetron. Sebanyak 27 bab penuh tawa, cinta, dan hikmah religi. Baca selengkapnya!


Matahari Palangkaraya sedang berada di puncaknya, menyebarkan panas yang membuat aspal di jalanan seolah bergetar. Namun, panas di luar rumah belum sebanding dengan "panasnya" suasana di dalam kediaman keluarga Fahri.

Fahri, seorang pengusaha kayu yang terbiasa menghadapi kerasnya lapangan dan debu pelabuhan, kini harus berdiri mematung di tengah ruang tamu. Di depannya, Krisdayanti berdiri dengan gaya bak sutradara film blockbuster dari Hollywood. Di tangan kirinya ada botol parfum mahal, dan di tangan kanannya ada sebuah kacamata hitam model aviator.

"Fahri, look at me," ujar Krisdayanti dengan nada bicara yang sengaja dibuat serak-serak basah ala aktris Amerika. "Aku baru saja menonton ulang film Top Gun. Dan aku tersadar, selama ini potensi ketampananmu itu terkubur di bawah tumpukan kayu-kayu itu!"

Fahri mengusap pelipisnya yang mulai berkeringat. "Daya, Sayang... Aku ini baru saja pulang dari gudang. Bauku ini bau kayu meranti, bukan bau aktor Hollywood. Lagipula, kacamata hitam ini kalau kupakai di dalam rumah, aku tidak bisa melihat jalannya saklar lampu."

"Itu namanya pengorbanan demi estetika, Fahri!" balas Krisdayanti cepat. "Mulai besok, aku sudah memesan sepatu boots kulit dari pengrajin terbaik. Aku ingin saat kita jalan-jalan di Palangkaraya Mall besok sore, orang-orang akan mengira Tom Cruise sedang melakukan syuting rahasia di Kalimantan Tengah."

Fahri membayangkan dirinya berjalan di mal dengan sepatu boots berat dan jaket kulit tebal di tengah cuaca Palangkaraya yang rata-rata 33 derajat Celcius. Bisa-bisa aku pingsan karena dehidrasi sebelum sampai ke toko buku, batinnya miris.

Sementara itu, di rumah sebelah, Zaki sedang menghadapi "ujian nasional" versi Korea. Siti Nurhaliza baru saja selesai menonton drama tentang persaingan koki hebat di Seoul. Akibatnya, dapur mereka kini dipenuhi dengan botol-botol saus merah yang Zaki sendiri tidak tahu cara membacanya.

"Mas Zaki, coba ini," perintah Siti sambil menyodorkan sesendok pasta berwarna merah membara. "Ini namanya Gochujang asli. Aku ingin Mas terbiasa dengan rasa pedas Korea agar lidah kita sinkron dengan gaya hidup sehat para aktor."

Zaki mencoba sedikit. Detik berikutnya, wajahnya berubah merah padam. Lidahnya terasa seperti baru saja bersentuhan dengan knalpot motor yang panas. "Air... Siti, air!"

"Aduh Mas, jangan lemah begitu dong! Di drama itu, si aktor makan ini sambil tersenyum puitis meskipun hatinya sedang hancur," Siti mengomel sambil memberikan segelas teh obeng (teh manis dingin khas Palangkaraya).

"Siti," ujar Zaki setelah nafasnya kembali normal. "Di sini hatiku tidak hancur, tapi lambungku yang mau protes. Kenapa kita tidak makan sambal limau saja? Itu kan juga pedas, tapi pedasnya sopan di perut."

Siti cemberut. "Mas tidak romantis. Mas tidak punya jiwa aesthetic seperti para pria di Hongdae."

Zaki hanya bisa mengelus dada. Ia teringat janji "Diplomasi Nasi Kuning" yang dirancang bersama Imran dan Fahri. Ia harus segera melaksanakan rencana itu sebelum rumahnya benar-benar berubah menjadi replika distrik Gangnam.

Namun, situasi paling unik terjadi di rumah Imran. Hermione, yang sedang terhanyut dalam drama Indonesia tentang "Istri yang Selalu Menangis", kini mulai menerapkan teknik komunikasi non-verbal.

Saat Imran pulang kerja dan bertanya, "Sayang, makan malam apa kita hari ini?", Hermione tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru berdiri dari kursi, berjalan menuju jendela, menatap ke arah pohon mangga di halaman dengan tatapan kosong, lalu menghela napas panjang seolah seluruh beban dunia ada di bahunya.

"Hermione? Kamu kenapa? Sakit?" tanya Imran khawatir.
Hermione berbalik perlahan, matanya yang sengaja ditetesi obat tetes mata agar tampak basah menatap Imran dengan pilu. "Mas... apa arti sebuah makanan, jika kejujuran sudah tidak ada lagi di meja ini?"

Imran mematung di pintu. "Kejujuran apa? Aku jujur kok, tadi aku memang singgah beli bensin sebentar."

"Tadi aku melihat ada sehelai rambut panjang di jok belakang mobilmu, Mas," ujar Hermione dengan suara bergetar yang sangat melodramatis.

"Itu rambutmu sendiri, Hermione! Kemarin kan kamu yang aku antar ke pasar!" seru Imran frustrasi.

"Ah..." Hermione terdiam sejenak, beralih dari mode drama ke mode normal selama dua detik. "Oh iya ya. Aku lupa. Tapi di sinetron tadi siang, adegannya memang harus curiga dulu, Mas, baru nanti ada adegan minta maaf yang mengharukan sambil hujan-hujanan."

Imran terduduk di kursi tamu. Ia merasa IQ-nya menurun drastis setiap kali istrinya menyelesaikan satu judul sinetron.

Malam itu, ketiga suami itu bertemu di pagar pembatas rumah mereka. Mereka berbicara dengan suara berbisik, seperti agen rahasia yang sedang merencanakan kudeta.

"Besok malam adalah waktunya," bisik Zaki. "Kita bawa mereka ke dermaga Rambang. Di sana ada ikan bakar patin dan udara segar Sungai Kahayan. Kita harus ingatkan mereka kalau hidup di Palangkaraya itu lebih indah daripada di layar TV."

"Aku setuju," sahut Fahri lesu. "Aku sudah tidak tahan pakai kacamata hitam di dalam rumah. Tadi aku menabrak pintu kamar mandi gara-gara tidak lihat ada genangan air."

"Aku juga," tambah Imran. "Aku lelah dituduh selingkuh tiap kali ada adegan baru di sinetronnya. Kita harus tunjukkan kalau kita ini suami dunia nyata yang lebih hebat dari aktor manapun."

Ketiganya saling berpegangan tangan, membentuk lingkaran solidaritas suami-suami "teraniaya" hobi istri. Mereka tidak tahu, bahwa di dalam rumah, Siti Nurhaliza, Krisdayanti, dan Hermione sedang mengadakan grup chat WhatsApp berjudul "Misi Mengubah Suami Jadi Idola".

Ternyata, para istri punya rencana besar untuk merombak penampilan suami mereka secara total besok malam di dermaga. Perang antara "Kearifan Lokal" melawan "Invasi Budaya Pop" akan segera dimulai di bawah lampu-lampu kota Palangkaraya.

Rekomendasi untuk Pembaca:
Apa yang terjadi ketika Zaki dipaksa pakai tuxedo, Fahri pakai sepatu boots, dan Imran harus berakting puitis di dermaga? Lanjutkan ke Bab 4: Misteri Nama Hermione dan Hobi Menangis di Depan Sinetron Azab!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default