Bab 14: Kucing-Kucing Kairo

Bab 14: Kucing-Kucing Kairo

Lev
0

Kairo adalah kota yang ramah bagi kucing. Di setiap sudut jalan, di sela-sela gang, atau di depan kedai-kedai teh, selalu ada kucing-kucing yang tampak santai. Mereka seolah-olah menjadi penduduk tetap kota, bagian dari lanskap Kairo yang padat dan bersejarah. Lev, yang di Banjarmasin terbiasa dengan kucing-kucing peliharaan, merasa takjub dengan pemandangan ini.

Pagi itu, setelah sarapan, mereka berempat berjalan-jalan santai di sekitar kawasan Al-Azhar yang sudah mereka kunjungi. Mereka melewati gang-gang kecil yang sempit, dengan dinding-dinding bata tua yang penuh dengan coretan grafiti dan tanaman rambat. Tiba-tiba, perhatian Lev teralih pada seekor anak kucing yang sendirian di sebuah sudut. Kucing itu tampak kurus dan kotor, dengan mata yang sayu.

"Kasihan sekali," bisik Lev, mendekati anak kucing itu.
Ia mencoba mengelus anak kucing itu, namun anak kucing itu justru menjauh dengan takut.

"Mereka bukan kucing rumahan, Lev," kata Fatimah, yang mengikutinya. "Mereka terbiasa hidup mandiri."

"Tapi kan kasihan," jawab Lev. "Aku mau kasih makan."

Lev pun bergegas ke sebuah toko roti kecil yang berada di dekat sana. Ia membeli sepotong roti, lalu kembali ke tempat anak kucing itu. Ia mencoba menyuapi anak kucing itu, namun anak kucing itu justru tidak mau.

"Dia takut, Lev," kata Khadijah, yang juga sudah berada di dekat sana. "Dia butuh waktu."

"Aku mau adopsi dia," kata Lev tiba-tiba.

"Apa?!" Fatimah dan Aisyah serentak kaget.

"Adopsi? Lev, kita sedang dalam perjalanan. Kita tidak bisa membawa kucing ke mana-mana," kata Fatimah, mencoba menjelaskan.

"Tapi kan kasihan," jawab Lev. "Aku bisa rawat dia. Bawa dia pulang ke Banjarmasin."

Aisyah, yang sedari tadi merekam, ikut-ikutan berkomentar.
 "Ini ide yang sangat lucu, Lev! Tapi juga nekat! Coba bayangkan, membawa kucing dari Mesir ke Banjarmasin. Pasti akan jadi konten yang viral!"

"Aisyah, ini bukan konten," kata Lev, serius. "Ini tentang menyelamatkan nyawa. Anak kucing ini butuh pertolongan."

Khadijah, yang selalu bijaksana, mencoba mencari jalan tengah. "Lev, niatmu baik. Tapi kita harus realistis. Kita tidak bisa membawanya pulang. Tapi kita bisa membantunya."

"Bagaimana caranya?" tanya Lev, matanya penuh harap.

"Kita cari tempat penampungan hewan di sini. Atau kita bisa titipkan ke salah satu toko hewan. Kita bisa biayai dia sampai ada yang mau adopsi," jawab Khadijah.

"Dan kita bisa membuat vlog tentang itu!" seru Aisyah. "Vlog 'Misi Menyelamatkan Anak Kucing di Kairo!' Pasti banyak yang suka!"

Lev mengangguk setuju. Ia tahu, ide Khadijah lebih masuk akal. Mereka berempat kemudian mencari tempat penampungan hewan terdekat. Setelah bertanya kepada beberapa penduduk lokal, mereka menemukan sebuah toko hewan yang mau menerima anak kucing itu dan mencarikannya adopter.

"Kamu punya hati yang lembut, Lev," kata Fatimah, menatap Lev dengan pandangan kagum. "Meskipun kadang konyol, tapi kamu selalu berpikir untuk orang lain. Atau... untuk kucing."

Lev tersenyum. "Terima kasih, Fatimah. Aku hanya... tidak bisa melihat makhluk kecil menderita."

"Bagus," kata Fatimah. "Kita sebagai manusia, harus punya empati."

Setelah mengantar anak kucing itu ke toko hewan, mereka berempat melanjutkan perjalanan. Lev merasa lega, meskipun sedikit sedih harus berpisah dengan anak kucing itu. Namun, ia tahu, anak kucing itu kini berada di tangan yang tepat.

Sore itu, mereka duduk di sebuah kafe, menikmati teh mint dan makanan ringan. Lev memandang keluar jendela, melihat kucing-kucing lain yang sedang tidur di bawah terik matahari. Ia tersenyum. Kairo bukan hanya kota seribu menara, tetapi juga kota seribu kucing. Dan di kota itu, ia belajar bahwa kebaikan tidak mengenal batas. Kebaikan bisa diberikan kepada siapa saja, bahkan kepada makhluk kecil yang paling tidak berdaya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default