Bab 8: Bekantan dan Janji ke Jawa

Bab 8: Bekantan dan Janji ke Jawa

Lev
0

Hari terakhir di tanah Kalimantan Selatan. Penerbangan mereka ke Surabaya dijadwalkan besok pagi. Lev memutuskan untuk tidak melakukan ziarah lagi hari ini, melainkan mengajak Anindya dan Aisyah menikmati ikon wisata Banjarmasin untuk kali terakhir sebelum petualangan ke Pulau Jawa dimulai.

"Pagi ini kita ke Pasar Terapung, tapi yang modern aja di Siring Sungai Martapura, biar Aisyah bisa lihat suasana sungai," usul Lev saat sarapan. "Sorenya, kita santai di area Patung Bekantan dan Menara Pandang."

Anindya setuju. Rencana hari ini lebih santai dan berorientasi pada hiburan untuk Aisyah.

Di area Siring Sungai Martapura, suasana pagi itu hidup. Banyak warga berolahraga, dan beberapa pedagang mulai membuka lapaknya. Meskipun Pasar Terapung Lok Baintan yang asli ada di luar kota dan buka di akhir pekan, area siring ini tetap memberikan nuansa khas kota seribu sungai. Beberapa perahu klotok hilir mudik, mengangkut penumpang atau barang.

Aisyah sangat senang. Dia berlari-lari di area pedestrian yang rapi, sesekali berhenti untuk melihat perahu yang lewat. Lev dan Anindya mengawasi dengan senyum. Mereka mampir ke salah satu penjual kue tradisional Banjar dan membeli beberapa potong cincin dan rangai untuk camilan.

"Seru ya, Mas. Suasana kayak gini yang bakal kita kangenin di Jawa nanti," ujar Anindya, menikmati suasana sungai.

Siang harinya, mereka kembali ke kontrakan untuk packing ulang dan beristirahat. Sore harinya, sesuai rencana, mereka kembali ke area Siring, kali ini fokus di sekitar Patung Bekantan, ikon kebanggaan Kota Banjarmasin.

Patung setinggi 6 meter yang sedang memegang buah rambai itu berdiri megah di tepi sungai, menjadi spot foto wajib bagi wisatawan lokal maupun luar kota. Aisyah langsung tertarik dengan bentuk bekantan yang unik dengan hidungnya yang mancung.

"Abi, monyetnya lucu sekali!" seru Aisyah, minta difoto di depan patung.

Mereka juga naik ke Menara Pandang Banjarmasin yang letaknya berdekatan. Dari lantai atas, mereka bisa melihat panorama 360 derajat Kota Banjarmasin, aliran Sungai Martapura, dan aktivitas klotok di bawahnya. Angin sore terasa sejuk.

"Indah sekali ya kota kita, Mas," kata Anindya, bersandar di bahu Lev, menikmati momen tenang di tengah hiruk pikuk kota.

Lev mengangguk. Hatinya penuh rasa syukur. Semua ziarah di Kalsel telah tuntas mereka lakukan. Nazar pertamanya sudah terlaksana dengan lancar, penuh hikmah, dan diselingi tawa Aisyah.

"Alhamdulillah, Nindya. Kalsel sudah selesai. Besok kita terbang. Siap-siap petualangan yang lebih jauh dan menantang di Pulau Jawa," ujar Lev, matanya menerawang ke arah sungai.

Setelah puas menikmati suasana sore di Menara Pandang, mereka makan malam di sekitar area siring, menikmati soto Banjar Bang Amat yang legendaris, salah satu kuliner wajib di Banjarmasin.

Malam harinya di kontrakan, suasana haru kembali terasa saat mereka merapikan koper untuk penerbangan besok pagi. Kali ini, tidak ada drama packing berlebihan. Semua sudah tertata rapi dan efisien.

"Semoga perjalanan ke Jawa semulus perjalanan kita di sini ya, Mas," harap Anindya.

Lev tersenyum. "Insya Allah, Nindya. Kita sudah punya bekal spiritual dari para alim di sini. Itu modal utama kita."

Mereka berdua menatap Aisyah yang sudah terlelap, memeluk boneka bekantan kecil yang baru dibelikan Lev di siring tadi sore.

Kalimantan Selatan telah memberikan banyak pelajaran berharga tentang spiritualitas, sejarah, dan kehidupan bermasyarakat. Kini, hati mereka siap untuk menapaki jejak Wali Songo, membawa misi yang sama: menunaikan nazar, mencari berkah, dan menguatkan iman keluarga kecil mereka. Janji ke Jawa akan segera terwujud.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default