Bab 15: Kisah di Balik Senyum Yumi

Bab 15: Kisah di Balik Senyum Yumi

Lev
0
Kabar kematian Naufal meninggalkan luka yang mendalam, tidak hanya bagi Maimunah, tetapi juga bagi Yumi. Maimunah mengamati Yumi. Di balik senyumnya yang ramah dan wajahnya yang tenang, Maimunah bisa melihat kesedihan yang sama seperti yang ia rasakan.

"Yumi, kamu nggak apa-apa?" tanya Maimunah, saat mereka berdua sedang duduk di taman. Zainab dan Adam sengaja membiarkan mereka berdua.

Yumi tersenyum, tetapi senyumnya terlihat hampa. "Aku... aku sedih. Tapi aku juga merasa lega."

Maimunah mengerutkan kening. "Lega?"

"Iya," jawab Yumi, "aku merasa, Naufal sudah menemukan jalannya. Aku merasa, dia sudah tenang di sana."

Maimunah merasa, Yumi adalah wanita yang kuat. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Ia selalu tersenyum, meskipun hatinya terluka.

"Yumi, kenapa kamu hijrah?" tanya Maimunah, "apa karena Naufal?"

Yumi menggeleng. "Tidak. Aku hijrah karena aku merasa, aku harus hijrah. Aku merasa, aku harus kembali ke jalan yang benar."

Yumi menceritakan kisah masa lalunya. Kisah tentang bagaimana ia dan Naufal bertemu di Jepang. Kisah tentang bagaimana mereka jatuh cinta. Kisah tentang bagaimana mereka harus berpisah karena perbedaan agama.

"Aku merasa, aku telah membuat kesalahan," kata Yumi, "aku seharusnya nggak pacaran sama Naufal. Aku seharusnya nggak jatuh cinta sama dia."

Maimunah terharu. Ia merasa, Yumi adalah wanita yang beriman.

"Tapi... apa kamu nggak sedih, melihat Naufal meninggal?" tanya Maimunah.

"Tentu saja sedih," jawab Yumi, "tapi aku juga merasa, ini sudah takdir. Aku percaya, Allah punya rencana yang lebih baik."

Maimunah merasa, ia semakin terinspirasi oleh Yumi. Ia merasa, ia tidak sendirian. Ada banyak muslimah di luar sana yang berjuang untuk hijrah.

"Yumi, aku... aku minta maaf," kata Maimunah, "aku nggak tahu, kalau kalian pernah punya hubungan."

Yumi tersenyum. "Nggak apa-apa, Mun. Kamu nggak salah."

Setelah itu, Maimunah dan Yumi kembali ke asrama. Di kamar, Maimunah mengambil buku yang diberikan Naufal. Ia membacanya, dan ia menemukan sebuah catatan kecil.

Maimunah, kalau kamu baca ini, berarti aku udah nggak ada. Aku minta maaf, aku udah nyakitin kamu. Aku cuma mau kamu tahu, kalau kamu itu wanita yang baik. Aku harap, kamu bisa menemukan kebahagiaanmu. Dan jangan lupa, selalu hijrah. Karena hijrah itu bukan cuma tentang penampilan, tapi tentang hati. - Naufal.

Maimunah menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena haru. Ia merasa, Naufal telah memberinya hadiah terindah. Hadiah berupa nasihat yang tulus.

Keesokan harinya, Maimunah kembali mengikuti kajian. Ia membaca Al-Quran. Ia kembali ke jalannya. Ia merasa, ia telah menemukan kebahagiaan.

Namun, di tengah-tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba Yumi datang. Yumi membawa sebuah surat.

"Maimunah," kata Yumi, "ini surat dari Naufal."

Maimunah mengambil surat itu. Ia membukanya, dan ia terkejut. Di dalam surat itu, Naufal menuliskan permintaan maafnya pada Yumi. Naufal juga menuliskan, kalau ia masih mencintai Maimunah.

"Aku... aku nggak tahu harus gimana," kata Maimunah.

Yumi tersenyum. "Naufal itu memang pria yang baik. Tapi dia juga pria yang pengecut. Dia nggak berani jujur sama perasaannya."

Maimunah terdiam. Ia merasa, Yumi adalah wanita yang kuat.
"Maimunah, aku... aku minta maaf," kata Yumi, "aku tahu, kamu pasti sakit hati."

"Nggak apa-apa," jawab Maimunah, "aku udah ikhlas."

Yumi tersenyum. "Kamu wanita yang kuat, Mun."

Maimunah merasa, ia telah menemukan sahabat baru. Yumi, seorang wanita dari Jepang yang ternyata memiliki kisah yang sama dengan Maimunah. Maimunah merasa, ia tidak sendirian.

To be continued...

Sorry bab 14 dan bab 15 memiliki isi yang sama itu terjadi karena unsur kesengajaan. 

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default