Matahari mulai meninggi di langit Kandangan, membiaskan cahaya keemasan yang memantul di permukaan Sungai Amandit. Di Gang Taqwa, aroma udara subuh yang dingin kini telah berganti dengan aroma yang jauh lebih menggoda selera: bau kuah santan kental yang dimasak dengan kayu bakar. Hari ini adalah hari Sabtu, hari di mana rutinitas kantor Pemda libur—meski bagi Pak Ahmad Subarjo istilah "libur" hanyalah perpindahan lokasi kerja dari meja kantor ke kebun mawar—dan bagi Pak Rahman Hakim, ini adalah waktunya melakukan "inspeksi mendalam" terhadap akar-akar anggreknya.
Namun, Sabtu pagi ini berbeda. Ibu Aminah, istri Pak Rahman, telah menyiapkan panci besar. Sejak subuh, beliau sudah sibuk menghaluskan bumbu: kemiri, kencur, jahe, dan kunyit. Ya, hari ini keluarga Pak Rahman berniat mengadakan syukuran kecil-kecilan atas selesainya renovasi kecil di bagian dapur mereka. Menu wajibnya? Tentu saja Ketupat Kandangan yang legendaris, lengkap dengan ikan haruan (gabus) yang dipanggang terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam kuah santan yang gurih.
"Abahnya, tolong lihatkan pagar samping. Tadi Ibu Fatimah bilang ada paket besar datang untuk kita, ditaruh kurir di sana," teriak Ibu Aminah dari arah dapur yang mengepulkan uap sedap.
Pak Rahman, yang sedang mengenakan kaos oblong dan sarung yang diikat kuat di pinggang—seragam kebanggaannya saat berkebun—segera melangkah ke pagar ulin. Benar saja, ada dua karung besar bermerek "Pupuk Super Organik: Bikin Mekar Seketika". Tanpa pikir panjang, dengan logika matematika gurunya yang menganggap Variabel A + Variabel B = Hasil, Pak Rahman menarik karung itu ke arah kebun anggreknya.
"Wah, ini pasti pupuk cair organik pesanan saya lewat online kemarin. Katanya bisa membuat anggrek Vanda cepat berbahu (berbunga)," gumam Pak Rahman dengan mata berbinar.
Di saat yang bersamaan, di balik pagar, Pak Ahmad Subarjo baru saja keluar dengan celana training dan kaos bertuliskan "HSS Sehati". Ia tampak bingung mencari sesuatu di sekitar pagar mawarnya.
"Lho, Pak Guru! Lihat karung saya tidak? Harusnya ada kiriman pupuk khusus mawar dari dinas pertanian kawan saya. Isinya formula rahasia, dosis tinggi, biar mawar saya merahnya bisa mengalahkan warna karpet merah di istana negara!" seru Pak Ahmad sambil berkacak pinggang.
Pak Rahman berhenti menyendok isi karung yang ternyata berbentuk butiran hitam pekat dan berbau sangat tajam. "Lho, ini bukan milik saya? Saya pikir ini pesanan saya yang katanya bau jamu. Tapi ini... baunya seperti... kandang ayam raksasa, Pak Ahmad."
Pak Ahmad mendekat ke pagar, mengendus udara, dan matanya membelalak. "Astagfirullah, Pak Rahman! Itu pupuk 'Mawar Perkasa' saya! Itu dosisnya keras sekali! Kalau Bapak kasih ke anggrek Bapak yang manja dan sensitif itu, bisa-bisa besok anggrek Bapak bukannya mekar, malah mutasi jadi pohon jati!"
Pak Rahman panik. Ia melihat pot anggrek Dendrobium kesayangannya yang sudah terlanjur ia taburi segenggam butiran tersebut. "Waduh! Bagaimana ini? Saya kira ini pupuk lembut berbahan rumput laut!"
Di tengah kepanikan dua bapak-bapak ini, muncullah Ibu Fatimah dari arah rumah Pak Ahmad dengan membawa nampan berisi teh manis, dan Ibu Aminah keluar membawa piring kecil berisi potongan Dodol Kandangan sebagai cemilan pagi.
"Ada apa sih ribut-ribut? Suara kalian sampai ke dapur," tanya Ibu Fatimah sambil tertawa melihat Pak Rahman yang masih memegang sekop kecil dengan wajah pucat.
Setelah dijelaskan duduk perkaranya, meledaklah tawa kedua ibu tersebut. Komedi situasi di pagi Sabtu itu pun pecah. Ternyata, kurir tadi memang salah menaruh posisi karung karena label alamatnya tertutup lumpur.
"Sudah, sudah. Pak Rahman, cepat siram anggreknya dengan air banyak-banyak supaya pupuknya larut dan tidak membakar akar. Pak Ahmad, ini karungnya angkut sendiri, jangan manja seperti mawar-mawar Bapak itu!" goda Ibu Aminah.
Sebagai bentuk "permintaan maaf" atas insiden pupuk tertukar tersebut, Ibu Aminah mengundang keluarga Pak Ahmad untuk makan siang Ketupat Kandangan bersama. Di sinilah diplomasi tingkat tinggi terjadi. Meja panjang diletakkan di teras yang berbatasan langsung dengan taman bunga. Di sisi kiri ada pemandangan anggrek Pak Rahman yang tenang, di sisi kanan ada mawar Pak Ahmad yang mentereng.
"Pak Ahmad," buka Pak Rahman sambil menyendok kuah santan yang kental ke atas ketupatnya yang dipotong-potong menggunakan tangan—cara makan asli Kandangan. "Kehidupan kita ini seperti ketupat ini. Beras yang dibungkus daun nipah, dimasak berjam-jam dalam panas, baru bisa jadi kenyal dan enak. Sama seperti bertetangga, butuh proses 'dimasak' oleh kesabaran agar hubungan kita enak dirasa."
Pak Ahmad, yang mulutnya masih penuh dengan daging ikan haruan, mengangguk-angguk mantap. "Betul sekali, Pak Guru. Dan ikan haruannya ini melambangkan saya; kuat dan licin di birokrasi, tapi kalau sudah kena kuah masakan Ibu Aminah, menyerah juga saya!"
Zaskia, putri Pak Ahmad yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba berseloroh, "Tapi kalau mawar dan anggrek disatukan dalam satu rangkaian bunga di acara kantor Pemda nanti, pasti cantik ya, Yah? Seperti kolaborasi antara ketelitian Papa Rahman dan semangat Ayah."
Farih, anak Pak Rahman yang biasanya pendiam, menyahut pelan, "Dalam biologi, itu namanya simbiosis mutualisme, Zas. Tapi kalau di Gang Taqwa, namanya simbiosis 'saling ledek tapi sayang'."
Gelak tawa kembali pecah di bawah langit siang Kandangan. Perut kenyang, hati senang. Perselisihan kecil tentang pupuk tadi pagi menguap begitu saja bersama aroma kayu manis dalam kuah ketupat. Mereka sadar bahwa meski selera flora mereka berbeda—yang satu menyukai bunga yang menggantung bebas di udara, yang satu menyukai bunga yang berakar kuat di tanah—mereka tetap berpijak pada bumi yang sama, Bumi Antaludin yang penuh berkah.
Bab ini ditutup dengan pemandangan kedua bapak tersebut, yang setelah makan kenyang, justru malah bekerja sama memindahkan karung pupuk yang benar ke tempatnya masing-masing. Sebuah pemandangan yang membuktikan bahwa di Gang Taqwa, sedalam apa pun perbedaan pendapat, ia akan selalu bisa diselesaikan dengan sepiring makanan khas daerah dan segelas teh hangat yang penuh ukhuwah.
Informasi Tambahan untuk Pembaca:
Jika Anda berkunjung ke Kandangan, jangan lupa mencicipi Ketupat Kandangan yang otentik. Proses pembuatannya yang unik, di mana ikan haruan dipanggang terlebih dahulu, memberikan citarasa smoky yang tidak ditemukan di daerah lain. Untuk memahami lebih dalam tentang etika bertetangga dalam Islam yang dipraktikkan keluarga ini, Anda dapat merujuk pada kajian tentang Adabul Jiran yang menekankan bahwa memuliakan tetangga adalah bagian dari iman.
