Bab 3: Diplomasi Meong dan Aroma Cempedak

Bab 3: Diplomasi Meong dan Aroma Cempedak

Lev
0
Ikuti kisah hangat Khalisah & Naura merawat kucing oren dan Persia di Tabalong. Novel Islami keluarga PNS & Dokter Gigi yang penuh komedi, edukasi Abu Hurairah, dan persahabatan kucing di Murung Pudak. Baca selengkapnya!


Pagi itu, udara di Murung Pudak terasa lebih lembap dari biasanya. Aroma buah cempedak yang mulai masak dari kebun tetangga menyeruak masuk melalui ventilasi rumah dinas Muhammad Hifni. Di meja makan, suasana sedikit lebih sunyi. Hifni sedang sibuk mengunyah pisang goreng sambil membaca berita di tabletnya, sementara Rina Rufida sibuk mengaduk teh dengan gerakan sendok yang berdenting lebih keras dari frekuensi normal.

"Bah," panggil Rina tiba-tiba.

"Ya, Sayang?" Hifni menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari berita proyek pembangunan jalan di wilayah Utara Tabalong.

"Kemarin aku bertemu Dokter Dina. Dokter gigi baru itu," lanjut Rina. "Ternyata dia punya anak seumuran Khalisah. Namanya... Naura Salsabilla."

Gerakan tangan Hifni yang hendak mengambil pisang goreng kedua mendadak terhenti di udara. Ia berdeham, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat menegang. "Oh, ya? Namanya pasaran kali, Bun. Salsabilla itu kan artinya mata air di surga. Semua orang tua pasti mau anaknya dapat berkah itu."

Rina menyipitkan mata. Sebagai guru Bahasa Inggris, ia pakar dalam membaca gestur dan intonasi. "Tapi nama belakangnya persis sama dengan Khalisah, Bah. Dan Dina bilang, titip salam untuk Abah. Kalian... teman lama?"

"Teman... waktu kegiatan mahasiswa dulu di Banjarmasin. Biasalah, relasi antar fakultas," jawab Hifni cepat, lalu segera menoleh ke arah Khalisah yang sedang asyik menuangkan susu ke piring kecil di lantai. "Khalisah! Itu susu buat kamu, kenapa dikasih ke Jagau lagi?"

"Jagau butuh kalsium, Abah! Biar tulangnya kuat seperti beton kantor Abah!" seru Khalisah tanpa dosa. Di kakinya, si Jagau—kucing oren dengan bekas luka di hidung itu—sedang menjilat susu dengan rakus, ekornya bergoyang-goyang penuh kemenangan.

Upaya pengalihan isu Hifni berhasil. Perhatian Rina teralih pada lantai yang mulai belepotan. Namun, drama sebenarnya dimulai satu jam kemudian ketika sebuah mobil SUV putih bersih berhenti di depan pagar rumah mereka. Dari dalam mobil, keluarlah drg. Dina Yulianti bersama Naura Salsabilla yang menggendong Snowee di dalam tas ransel astronot khusus kucing.

"Assalamu’alaikum! Khalisah, aku datang mau main sama Jagau!" teriak Naura dari depan pagar.

Khalisah melompat kegirangan. "Wa’alaikumussalam! Masuk, Naura! Jagau baru saja selesai sarapan susu mahal!"

Pertemuan itu adalah sebuah kontras yang nyata. Naura turun dengan sepatu barbie yang berkilauan, sementara Khalisah hanya mengenakan kaus oblong bergambar kucing kartun dan sandal jepit. Snowee di dalam tas ranselnya tampak bingung melihat lingkungan Murung Pudak yang penuh dengan pohon rambutan, sementara Jagau langsung berdiri tegak, bulu punggungnya sedikit naik melihat "penyusup" berkulit putih bersih masuk ke wilayah kekuasaannya.

"Ini rumah kamu, Khalisah?" tanya Naura sambil melihat sekeliling teras yang penuh dengan pot bunga anggrek milik Rina. "Kok tidak ada AC-nya di teras?"

"Teras itu pakai AC alami, Naura. Namanya angin sepoi-sepoi," sahut Khalisah bangga. Ia menarik tangan Naura menuju sudut teras tempat Jagau sedang nangkring di atas tumpukan koran bekas.

Dua anak manusia itu berjongkok di depan dua makhluk berbulu yang berbeda kasta tersebut. Snowee dikeluarkan dari tasnya. Kucing British Shorthair itu tampak ragu memijakkan kakinya di lantai semen. Ia mengendus-endus udara dengan hidung merah mudanya, lalu menatap Jagau dengan pandangan merendahkan.

"Jagau, kenalkan, ini Snowee. Dia kucing kota," ucap Khalisah memperkenalkan.

Jagau hanya mengeluarkan bunyi "Mrrrp" pendek, lalu kembali menjilati kakinya yang penuh debu tanah.

"Snowee tidak mau main kalau tempatnya tidak ada karpet," kata Naura cemas melihat kucingnya hanya diam mematung. "Dia biasanya main laser point di rumah."

"Jagau tidak butuh laser! Dia bisa menangkap belalang sungguhan!" Khalisah kemudian mengambil sebuah lidi panjang yang ujungnya diikatkan plastik sisa bungkus kerupuk. Ia mengayun-ayunkannya di depan Jagau.

Dalam sekejap, insting predator Jagau bangkit. Ia melompat setinggi satu meter, melakukan putaran di udara, dan menerkam plastik itu dengan kecepatan kilat. Naura ternganga. Snowee bahkan sampai mundur selangkah karena kaget melihat atraksi kasar tersebut.

"Wah! Kucing kamu hebat! Bisa kungfu!" seru Naura kagum. Ia mencoba ikut memegang lidi itu. "Boleh aku coba?"

Di teras dalam, Hifni dan Dina duduk berhadapan di kursi rotan, dipisahkan oleh sebuah meja kecil berisi teh hangat dan camilan wadai (kue) khas Tabalong yang disuguhkan Rina. Suasananya canggung. Rina sedang di dapur mengambil piring tambahan, meninggalkan Hifni dan Dina dalam keheningan yang menyesakkan.

"Kamu memberikan nama Salsabilla juga, Hif," bisik Dina pelan, matanya menatap Naura yang tertawa riang di luar.

Hifni menatap cangkir tehnya. "Itu nama yang bagus, Din. Aku harap dia jadi penyejuk hati seperti arti namanya."

"Aku juga berpikir begitu lima tahun lalu," balas Dina dengan senyum tipis yang penuh makna.

Tepat saat itu, Rina kembali dengan sepiring kue untuk-untuk. Ia menangkap sisa-sisa ketegangan di udara. "Ayo dimakan kuenya, Dokter Dina. Ini asli buatan tetangga di Murung Pudak, masih hangat."

Di luar, diplomasi kucing sedang berlangsung sukses. Snowee, yang awalnya sombong, mulai berani mendekati Jagau. Mereka akhirnya duduk berdampingan di bawah pohon sawo—kucing mahal seharga motor dan kucing kampung seharga sisa ikan asin, terikat dalam rasa penasaran yang sama terhadap seekor kupu-kupu yang melintas.

"Lihat, Bunda! Jagau dan Snowee sudah jadi teman!" teriak Khalisah sambil berlari masuk. "Kata Naura, besok Jagau boleh main ke rumahnya yang ada kolam renangnya!"

Hifni tersenyum getir. Ia tahu, persahabatan dua bocah dan dua kucing ini akan membawa lebih banyak pertemuan antara dirinya dan Dina. Dan di bawah langit Tabalong yang cerah, ia hanya bisa berharap agar rahasia masa lalu tidak ikut "mengeong" keluar seperti si Jagau yang tak bisa diam.

Pelajaran dari Bab 3:

Menyayangi binatang dalam Islam tidak membeda-bedakan ras atau harga. Sebagaimana kisah Khalisah dan Naura, kasih sayang adalah bahasa universal. Bagi Anda yang memiliki kucing aktif seperti Jagau, pastikan mereka mendapatkan perlindungan dari parasit. Cek produk anti-kutu berkualitas di Shopee Indonesia atau Lazada.

Jika Anda tertarik mengunjungi lokasi seperti Murung Pudak, Anda bisa melihat keasrian wilayah ini melalui Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Tabalong.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default