Minggu pertama Ramadhan mulai beranjak menuju pertengahan, dan di rumah keluarga Lev Ryley, suhu kreativitas digital sedang mencapai puncaknya. Ghina Qalbi, si anak ketiga yang ekspresif, telah mengubah sudut ruang tamu menjadi studio mini. Dengan bantuan lampu softbox yang dipesan ibunya minggu lalu dan sebuah mikrofon clip-on kecil, ia bersiap melakukan ritual tahunan: Review Produk Perlengkapan Ibadah Ramadhan.
"Oke, teman-teman pecinta anabul dan pencari berkah! Kembali lagi di saluran Ghina Q. Hari ini kita bakal unboxing paket-paket kiriman Mama Anindya yang katanya bisa bikin puasa kita naik level ke 'Sultan Mode'. Dan tebak siapa bintang tamunya?" Ghina mengarahkan kamera ke bawah, di mana Muezza sedang duduk tenang mengenakan kopiah hitam kecil yang miring ke kiri. "Ya! Muezza sang penjaga paket!"
Di balik layar, Lev Ryley hanya bisa menggelengkan kepala sambil menyeruput kopi sisa sahurnya yang sudah dingin. Ia sedang sibuk melakukan maintenance server untuk kliennya di Jakarta, namun kebisingan kreatif anak-anaknya selalu menjadi backsound wajib setiap pagi.
"Ghina, jangan terlalu berisik. Kak Aisyah sedang fokus mengerjakan tugas metodologi penelitian di ruang makan," tegur Lev pelan.
"Tenang, Bah! Ini bagian dari edukasi publik. Ghina mau menunjukkan kalau jadi Muslimah itu harus keren dan terorganisir!" jawab Ghina mantap.
Satu per satu paket dibuka. Ada sajadah orthopedic yang katanya bisa mencegah lutut sakit saat sujud lama, hingga jam dinding digital yang bisa mengeluarkan suara adzan dengan pilihan dialek dari berbagai negara. Namun, puncaknya adalah sebuah kotak kayu kecil yang terlihat sangat mewah.
"Nah, ini dia! Smart Digital Tasbih dengan sinkronisasi Bluetooth ke ponsel!" seru Ghina. "Jadi kalau kita dzikir, jumlahnya langsung tercatat di aplikasi. Bisa buat kompetisi dzikir sama teman-teman sekelas, lho!"
Aisyah Humaira tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur, memegang sebuah buku tebal. "Ghina, ibadah itu bukan buat kompetisi di media sosial, lho. Niatnya harus dijaga, jangan sampai terjebak riya hanya demi likes."
Ghina terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar. "Justru itu, Kak! Konten Ghina kali ini tujuannya untuk memotivasi anak-anak SMP di Banjarmasin supaya lebih semangat tadarusnya. Kalau mereka lihat alat-alatnya keren, mereka jadi semangat ke masjid, kan?"
Debat kecil antara si organisatoris dan si konten kreator itu terhenti saat Maryam Safiya masuk membawa baki berisi air mineral dan kurma. "Sudah, jangan ribut. Daripada debat, lebih baik bantu aku. Aku baru saja menemukan toko online yang menjual cat air berbahan dasar alami dan ramah lingkungan. Katanya aman kalau tidak sengaja terjilat kucing."
"Buat apa, Maryam?" tanya Anindya yang baru saja selesai mandi dan bergabung di ruang tengah.
"Maryam mau mewarnai kaligrafi di kardus-kardus bekas paket Mama. Daripada jadi sampah, lebih baik kita jadikan hiasan dinding untuk menyambut malam Nuzulul Qur'an nanti," jawab Maryam dengan tenang.
Ide Maryam langsung disetujui oleh semua orang. Sore itu, rumah mereka berubah menjadi bengkel seni dadakan. Lev yang biasanya kaku dengan urusan teknologi, dipaksa membantu memotong kardus menjadi bentuk bintang dan bulan sabit. Rayyan bertugas mengoleskan lem, sementara Muezza—seperti biasa—bertugas mengganggu dengan cara duduk di atas kertas yang sedang dicat.
Ghina tidak menyia-nyiakan momen ini. Ia merekam seluruh kegiatan keluarga tersebut. "Lihat ya, teman-teman! Ini cara keluarga kita mengurangi limbah belanja online Mama. Kita ubah sampah jadi berkah!"
Malamnya, video "Unboxing & DIY Kardus Ramadhan" milik Ghina diunggah. Tak disangka, video itu meledak. Ribuan warga Banjarmasin memberikan komentar positif. Banyak yang memuji kreativitas mereka dalam mengolah sampah paket yang biasanya menumpuk di pinggir jalan Pierre Tendean. Bahkan, beberapa pengikut setianya mulai bertanya di mana bisa mendapatkan kopiah kecil seperti yang dipakai Muezza.
"Ma, lihat! Video kita viral lagi! Banyak yang bilang mau ikut bikin hiasan dari kardus bekas di rumah mereka juga," seru Ghina dengan mata berbinar-binar saat mereka sedang bersiap untuk berangkat Tarawih.
Lev Ryley tersenyum bangga. Ia merangkul Ghina dan Rayyan. "Ternyata benar kata Kak Aisyah, teknologi itu hanya alat. Yang penting adalah bagaimana kita menggunakannya untuk menebar kebaikan. Hari ini, Ghina sudah melakukan 'dakwah digital' lewat kardus bekas."
Saat mereka melangkah keluar menuju masjid, pemandangan indah tersaji. Tetangga-tetangga di sekitar Jalan Pierre Tendean mulai memasang lampu hias di teras rumah mereka, terinspirasi dari video Ghina. Banjarmasin malam itu tampak lebih bercahaya, bukan hanya karena lampu-lampu paket, tapi karena semangat kebersamaan yang mulai menyebar.
Di dalam rumah yang kosong, Muezza mendengkur halus di atas sajadah barunya, menjaga rumah yang kini penuh dengan hiasan bintang-bintang dari kardus hasil karya keluarga paling sibuk (dan paling banyak paketnya) di kota itu.
