Bab 4: Khalisa dan Taman Bermain

Bab 4: Khalisa dan Taman Bermain

Lev
0
Sore telah tiba di Puruk Cahu. Matahari mulai condong ke barat, meninggalkan semburat jingga di atas rimbunnya hutan tropis di kejauhan. Di sebuah taman bermain sederhana di kompleks perumahan dinas, tawa riang Khalisa Salsabilla (5 tahun) memecah keheningan sore itu.

Khalisa, atau Nisa, panggilan akrabnya, adalah pusat dunia bagi Hifni dan Rina. Di usianya yang masih belia, Nisa adalah anak yang cerdas, ekspresif, dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi—persis seperti ibunya. Dia mengenakan kaus merah muda dan celana training, asyik bermain perosotan bersama beberapa teman seteman kompleksnya.

Rina mengawasi Nisa dari bangku taman, tangannya sibuk membalas beberapa surel kantornya di ponsel. Hifni baru saja tiba, masih mengenakan seragam khakinya yang sedikit kusut karena drama rapat seharian. Wajahnya yang lelah langsung sirna begitu melihat senyum putrinya.

"Assalamualaikum, jagoan Ayah!" sapa Hifni sambil mengangkat Nisa dari perosotan dan memeluknya erat.

"Waalaikumsalam, Ayah!" Nisa tertawa geli. "Ayah sudah pulang? Nisa tadi bisa naik perosotan sendiri lho!"

"Wah, hebat sekali anak Ayah. Sudah besar ya," puji Hifni.
Rina menghampiri mereka. "Gimana Mas rapatnya? Lancar? Mukamu kusut sekali."

Hifni tersenyum kecut. "Alhamdulillah, lancar dalam arti sudah selesai. Tapi ya gitu, Bun. Namanya juga birokrasi, penuh drama. Bu Kabid itu keras kepala sekali. Tapi berkas sudah saya kirim sore tadi. Semoga besok pagi ada kabar baik dari provinsi."

Mereka duduk bertiga di bangku taman. Nisa duduk di pangkuan Ayahnya. Suasana sore itu menjadi momen keluarga yang sakral bagi mereka, di mana semua penat dunia kerja seolah menguap.

"Ayah, tadi di sekolah Nisa belajar tentang nabi-nabi," celetuk Nisa.

"Oh ya? Nabi siapa?" tanya Rina, antusias.

"Nabi Muhammad SAW. Kata Ustadzah, Nabi itu orangnya jujur sekali. Makanya dipanggil Al-Amin. Jujur itu masuk surga kan, Ayah?"

Hifni mengangguk, hatinya menghangat mendengar pertanyaan polos putrinya. Ini adalah hasil didikan Rina yang selalu menekankan pendidikan agama sejak dini. "Betul, Sayang. Orang jujur itu temannya Allah di surga nanti."

Nisa terdiam sejenak, memikirkan sesuatu dengan serius. "Berarti Ayah harus jujur terus di kantor biar masuk surga bareng Bunda sama Nisa, kan?"

Pertanyaan Nisa seperti tamparan lembut bagi Hifni. Tadi siang, di tengah dilema kantor, dia sempat tergoda untuk sedikit 'melonggarkan' standarnya demi menyenangkan seniornya. Namun, kata-kata Nisa mengingatkannya kembali pada komitmen awal mereka.

"Pasti, Sayang. Ayah akan selalu jujur. Ayah janji," ucap Hifni mantap, sambil mengeratkan pelukannya pada Nisa.

Rina mengusap punggung Hifni, mengerti apa yang sedang berkecamuk di pikiran suaminya. Nisa, di usianya yang lima tahun, secara tidak langsung menjadi kompas moral bagi orang tuanya.

Di taman bermain itu, interaksi sosial mereka juga berjalan. Beberapa tetangga PNS lain ikut bergabung. Ada Pak Lurah muda yang baru pindah dari Jawa, Mas Toni namanya, yang membawa serta istrinya yang cerewet tapi baik hati, Mbak Sarah.

"Wah, Pak Hifni, baru kelihatan nih. Sibuk banget ya ngurusin proposal cairin dana," sapa Mbak Sarah dengan nada sedikit menyindir, unsur komedi kehidupan bertetangga yang santai.

"Alhamdulillah, Mbak. Dinikmati saja prosesnya," balas Hifni diplomatis.

"Eh, Bu Rina. Dengar-dengar mau jadi dosen tetap ya di STIA? Wah, saingan saya makin berat nih cari baju batik seragaman," canda Mbak Sarah, yang juga seorang staf di Dinas Perindustrian.

Taman bermain itu menjadi pusat interaksi sosial sore hari. Di Puruk Cahu, kehidupan bertetangga masih kental. Mereka saling peduli, saling bantu, dan juga saling ‘gosip’ ringan yang sifatnya lebih ke tukar informasi dan hiburan.

Saat maghrib mulai mendekat, Rina mengajak Nisa pulang. "Nisa, yuk pulang. Sudah mau Maghrib. Kita mandi, siap-siap shalat jamaah di rumah."

"Iya, Bunda." Nisa turun dari pangkuan Hifni, mencium pipi ayah dan ibunya, lalu berlari kecil menuju rumah mereka yang jaraknya hanya sepelemparan batu.

Hifni dan Rina berjalan beriringan di belakang Nisa. Hifni menggenggam tangan Rina erat.

"Makasih ya, Bun. Nisa itu pengingat terbaik buat Mas," ujar Hifni, tulus.

Rina tersenyum. "Nisa itu anugerah dari Allah, Mas. Dia penyejuk mata kita. Tugas kita menjaganya tetap jernih, seperti air Salsabilla di surga."

Mereka memasuki rumah, siap menyambut malam yang penuh ketenangan. Babak kehidupan mereka sebagai orang tua di Puruk Cahu ini mengajarkan mereka bahwa kebahagiaan sejati bukanlah soal jabatan tinggi atau uang berlimpah, tapi soal keluarga yang utuh, saling mendukung, dan selalu berjalan di jalan-Nya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default