Banjarbaru, 20 April 2026
Lev Ryley berdiri di depan sebuah cermin besar di rumahnya. Ia menyisir rambutnya yang kini mulai menipis di bagian samping, tanda bahwa usia terus berjalan tanpa permisi. Pikirannya melayang pada tanggal yang sama, sebelas tahun silam. Ia teringat bagaimana jemarinya gemetar saat memegang sisir milik Vania.
"Kecantikan itu bukan pada apa yang terlihat oleh mata, Lev, tapi pada apa yang dirasakan oleh jiwa," suara lembut Vania seolah kembali terngiang, memantul di dinding kamarnya yang sunyi. Lev mengambil jaketnya, bersiap untuk rutinitas bulanannya: mengunjungi panti asuhan tempat Vania dulu sering mengajar, sebuah janji yang tetap ia jaga hingga detik ini di tahun 2026.
Banjarbaru, April 2015
Efek dari kemoterapi pertama mulai menunjukkan taringnya. RSUD Idaman kini menjadi rumah kedua bagi Lev dan Vania. Aroma obat-obatan yang tajam seolah sudah menyatu dengan pori-pori kulit mereka. Vania, yang dulu dikenal sebagai mahasiswi paling ceria di fakultasnya, kini menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berbaring lemas, menahan mual yang tak kunjung reda.
Namun, ujian yang paling berat bagi seorang wanita muda berusia 20 tahun datang pada suatu pagi di bulan April.
Lev baru saja datang membawa sebungkus nasi kuning khas Banjarbaru favorit Vania, berharap kekasihnya itu memiliki sedikit selera makan. Saat ia melangkah masuk ke ruang perawatan, ia menemukan Vania sedang duduk di tepi tempat tidur, menatap nanar ke arah bantalnya yang berwarna putih. Di atas sprei itu, berserakan helaian rambut hitam panjang yang sangat halus.
Vania menoleh ke arah Lev. Matanya berkaca-kaca. Ia mencoba menyentuh kepalanya, dan segenggam rambut kembali tertinggal di jemarinya.
"Lev..." suaranya pecah. "Mahkotaku... Allah sedang mengambilnya satu per satu."
Lev meletakkan bungkus nasi itu di meja nakas dengan tangan gemetar. Ia mendekat, berlutut di hadapan Vania agar posisi matanya lebih rendah dari gadis itu—sebuah gestur penghormatan yang selalu ia lakukan.
"Vania, lihat aku," ucap Lev lembut namun tegas.
Vania menggeleng, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Jangan lihat aku sekarang, Lev. Aku jelek. Aku akan botak. Aku bukan Vania yang kamu kenal lagi. Kamu seharusnya pergi, cari wanita lain yang sehat, yang bisa menemanimu wisuda dengan cantik."
Mendengar itu, hati Lev seolah diiris sembilu. Ia meraih tangan Vania, menjauhkannya dari wajah gadis itu, lalu menggenggamnya erat.
"Dengar, Vania Larasati. Aku jatuh cinta padamu bukan karena rambutmu yang panjang. Aku jatuh cinta karena caramu menundukkan pandangan saat kita bertemu. Aku jatuh cinta karena suaramu saat melantunkan surah Ar-Rahman. Rambut itu hanya hiasan dunia. Jika Allah ingin mengambilnya agar kamu lebih ringan melangkah menuju rida-Nya, maka biarlah."
Vania terisak. "Tapi aku takut kamu malu punya calon istri sepertiku..."
Lev tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan luka sekaligus kekuatan. "Malu? Justru aku bangga. Aku sedang mendampingi seorang pejuang. Seorang syahidah yang sedang berjihad melawan rasa sakitnya. Besok, aku akan membawa alat cukur. Kita akan habiskan sisa rambut ini agar kamu tidak perlu sedih lagi melihatnya rontok di bantal."
Keesokan harinya, dengan penuh ketakziman, Lev membantu ibu Vania mencukur habis rambut kekasihnya. Setiap helaian yang jatuh ke lantai dirasakan Lev seperti gugurnya kelopak bunga di musim gugur. Tidak ada tawa di ruangan itu, yang ada hanyalah lantunan dzikir yang terus mengalir dari bibir Vania yang mulai membiru.
Setelah selesai, Vania mengenakan sebuah turban sederhana berwarna krem. Lev menatapnya lama, lalu berbisik, "Kamu tetap cantik, Van. Bahkan lebih bercahaya dari biasanya. Seperti intan yang sudah bersih dari tanahnya."
Di tengah badai fisik yang menghancurkan itu, ikatan batin mereka justru menguat. Lev mulai meninggalkan kegiatan organisasinya di kampus demi menjaga Vania. Ia belajar bagaimana cara memijat kaki Vania yang mulai membengkak, bagaimana cara menyuapi makanan sedikit demi sedikit agar tidak dimuntahkan kembali, dan bagaimana cara membisikkan ayat-ayat penguat saat Vania terbangun di tengah malam karena tulang-tulangnya terasa seperti diremukkan.
April 2015 mengajarkan mereka bahwa cinta di usia 20 tahun tidak selalu berisi tentang jalan-jalan sore di Lapangan Murjani atau makan malam romantis. Bagi Lev dan Vania, cinta adalah tentang bertahan di dalam bangsal yang pengap, saling menguatkan saat maut mulai mengetuk pintu, dan percaya sepenuhnya bahwa apa pun yang diambil oleh Allah, akan digantikan dengan sesuatu yang jauh lebih indah di surga-Nya kelak.
