Matahari Madinah mulai meninggi, memantulkan cahaya putih yang berkilauan di atas marmer Masjid Nabawi. Suhu udara mulai merangkak naik, namun di bawah naungan payung-payung raksasa yang terbuka otomatis, suasana tetap sejuk. Inilah saat di mana "Operasi Kucing" kedua Salsabilla memasuki babak baru yang penuh komedi.
Khalisah Salsabilla dan Naura Salsabilla kini duduk bersila di pelataran, tepat di depan seekor kucing abu-abu gemuk yang tampak sangat angkuh. Kucing itu seolah tahu bahwa ia adalah penduduk asli kota suci, sementara dua bocah di depannya hanyalah "wisatawan" dari Tanjung, Tabalong.
"Naura, kucing Arab ini kok hidungnya mancung ya? Beda sama kucing di depan kantor Abah di Tanjung," bisik Khalisah dengan nada serius.
Naura manggut-manggut, tangannya memegang bando telinga kucingnya yang miring. "Mungkin karena dia sering makan kurma, Khalisah. Ayo, kasih snack-nya!"
Di belakang mereka, Muhammad Hifni dan drg. Dina Yulianti berdiri seperti pengawal pribadi. Hifni sesekali melirik jam tangannya, memastikan mereka tidak terlambat untuk kembali ke hotel sebelum matahari terlalu terik.
"Dokter Dina, sepertinya kita harus mulai membatasi durasi 'diplomasi kucing' ini. Kalau tidak, mereka bisa lupa waktu belajar mengaji di kamar," ujar Hifni sambil tersenyum simpul.
Dina tertawa kecil. "Betul, Pak Hifni. Tapi lihatlah, ini pertama kalinya Naura tidak rewel meski sedang belajar puasa setengah hari. Efek kucing Madinah ternyata lebih manjur daripada iming-iming es krim."
Di sudut lain pelataran yang dipenuhi ribuan burung merpati, keluarga Lev ℛyley sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Anindya Putri sudah berdiri dengan anggun di tengah kerumunan burung merpati yang terbang rendah. Ia memegang sekantong biji-bijian yang dibelinya dari pedagang lokal.
"Papa, ayo cepat! Rekam pas merpatinya terbang di sekitar Mama! Ini judulnya 'Peace in Madinah'," perintah Anindya pada suaminya.
Lev, sang ahli IT yang biasanya memegang mouse dan keyboard, kini harus memegang gimbal kamera dengan keringat bercucuran. "Ma, ini merpatinya ribuan. Kalau mereka semua hinggap di kepala Papa karena bau biji-bijian ini, Papa tidak tanggung jawab ya kalau nanti Papa error," keluh Lev. Namun, meski mengeluh, ia tetap memastikan angle kamera berada pada posisi terbaik.
Aisyah Humaira dan Maryam Safiya duduk agak jauh, memperhatikan kegaduhan orang tua mereka dengan ekspresi yang berbeda. Aisyah, dengan kedewasaan mahasiswi PGSD ULM, sedang membacakan kisah tentang kasih sayang Rasulullah kepada hewan untuk adiknya, Rayyan Zuhayr.
"Rayyan, tahu tidak kenapa merpati di sini tidak takut sama orang?" tanya Aisyah.
Rayyan menggeleng, matanya tetap tertuju pada burung-burung yang hinggap di tangan ibunya.
"Karena di tanah haram, kita dilarang menyakiti hewan dan tumbuhan. Jadi, hewan-hewan di sini merasa aman," jelas Aisyah.
Ghina Qalbi yang lincah langsung menyambar penjelasan kakaknya. "Wah, keren! Kak, bantu rekam aku ya. Aku mau buat voice over tentang 'Hukum Alam di Tanah Haram'. Pasti pengikut Ibu di Instagram suka!"
Tiba-tiba, sebuah kejadian lucu terjadi. Seekor merpati yang terlalu bersemangat mencoba mendarat di atas topi Rayyan. Bukannya takut, Rayyan malah tertawa geli. Hal ini memicu tawa dari jamaah lain yang lewat, termasuk seorang pria lokal berserban yang kemudian memberikan Rayyan sebuah tasbih kecil sebagai hadiah karena melihat keceriaannya.
Namun, drama sesungguhnya terjadi ketika kucing yang sedang diawasi Khalisah dan Naura tiba-tiba melompat karena kaget oleh kepakan sayap merpati yang terbang rendah. Kucing itu berlari kencang menuju arah hotel.
"Pusss! Jangan pergi!" teriak kedua Salsabilla kompak.
Mereka berdua lari mengejar, membuat Hifni dan Dina terpaksa ikut berlari di tengah kerumunan jamaah yang baru keluar dari pintu masjid. Lev ℛyley yang melihat adegan kejar-kejaran itu dari kejauhan langsung berteriak, "Pak Hifni! Awas offside! Ingat tensi darah!"
Aksi kejar-kejaran itu berakhir di depan sebuah toko parfum. Kucing tersebut menghilang di balik rak-rak botol minyak wangi yang harum semerbak. Khalisah dan Naura terengah-engah, wajah mereka memerah terkena matahari Madinah yang mulai menyengat.
"Sudah, sudah," ujar Rina Rufida yang baru menyusul sambil membawa botol air Zam-zam. "Kucingnya mau istirahat, dia mau shalat Duhur juga mungkin. Sekarang kita kembali ke hotel, ya? Kita ambil air wudhu."
Hari itu, meskipun tidak berhasil membawa pulang kucing ke hotel, Khalisah dan Naura belajar satu hal penting: di Madinah, semua makhluk hidup memiliki tempatnya sendiri untuk beribadah dan beristirahat. Sementara bagi Lev dan Hifni, mereka menyadari bahwa menjaga anak-anak di tengah ribuan jamaah adalah bentuk "olahraga tawaf" tersendiri yang menguras kalori sekaligus menambah kesabaran.
Optimasi SEO & Tips:
Keywords: Merpati Masjid Nabawi, Wisata Keluarga di Madinah, Etika Terhadap Hewan di Tanah Haram, Tips Umroh Bareng Balita.
Wawasan: Merpati di Madinah sering disebut sebagai "Merpati Nabawi". Penduduk lokal dan jamaah dilarang menangkap atau menyakiti mereka sesuai aturan Hukum Islam di Tanah Haram.
Akomodasi: Untuk kenyamanan keluarga, pilihlah hotel yang memiliki akses langsung ke pelataran, seperti yang bisa Anda cek di Booking.com Madinah.
Apakah di bab selanjutnya Anindya Putri akan berhasil menemukan barang antik di pasar Madinah? Dan bagaimana Maryam Safiya yang pendiam akhirnya menunjukkan bakat seninya saat melihat kaligrafi di dalam masjid?
Lanjutkan ke Bab 6: Tutorial Hijab Maryam Safiya di Pasar Kuria!
