Di rumah keluarga Al-Fatih, hari Sabtu malam bukan sekadar akhir pekan biasa. Itu adalah Hari Sakral. Tidak ada acara makan malam di luar, tidak ada kunjungan mendadak dari kerabat, dan semua pekerjaan rumah tangga harus selesai sebelum pukul 5 sore waktu London. Alasannya tunggal: Match Day, malam di mana Manchester United bertanding di Liga Inggris.
Ketegangan sudah terasa sejak sore. Haris sudah mulai gelisah. Ia mondar-mandir di ruang tamu, mengecek saluran TV berulang kali, memastikan tidak ada gangguan sinyal.
"Zayn, pastikan link streaming cadangan kita siap. Aku tidak mau ada drama buffering kalau MU lagi menyerang!" perintah Haris kepada putranya yang sedang sibuk menyusun snack di meja.
Persiapan match day memiliki ritual wajib yang tak bisa diganggu gugat.
Ritual Pertama: Jersey Wajib. Setiap anggota keluarga memiliki jersey MU favoritnya masing-masing. Haris memiliki jersey kandang musim 1999 yang sudah sedikit lusuh, penuh sejarah kemenangan treble winner. Zayn mengenakan jersey terbaru dengan nama Rashford di punggung. Hana dan Adam memakai jersey polos anak-anak. Hanya Aisyah dan Zoya yang lebih santai, kadang hanya memakai syal atau jaket merah.
"Abi, yakin mau pakai jersey keramat itu? Terakhir kali Abi pakai, MU kalah 1-0 dari tim promosi," protes Zayn, mencoba menakut-nakuti ayahnya.
Haris melotot. "Hus! Jersey ini punya memori magis. Ini jersey keberuntungan Abi! Jangan bicara sembarangan."
Ritual Kedua: Logistik Camilan. Aisyah bertanggung jawab penuh atas pasokan makanan dan minuman selama 90 menit pertandingan. Tidak boleh ada gangguan makan malam formal. Cukup camilan ringan tapi mengenyangkan: pisang goreng, kacang rebus, keripik pedas, dan teh panas.
"Umi, ini piringnya sudah siap. Tinggal nunggu peluit kick-off," lapor Aisyah dengan senyum. Dia tahu, selama pertandingan berlangsung, suaminya dan anak-anaknya akan berubah menjadi makhluk lain yang penuh emosi.
Ritual Ketiga: Doa dan Tawakal. Sebelum pertandingan dimulai, Haris selalu mengumpulkan keluarganya sebentar. Mereka membaca Surah Al-Fatihah bersama, mendoakan keselamatan pemain di lapangan, dan tentu saja, kemenangan bagi tim kesayangan mereka. Ini adalah cara mereka menyeimbangkan fanatisme dengan keyakinan.
"Ingat, menang atau kalah, itu takdir Allah. Tapi kalau bisa menang, kan lebih baik," canda Haris setelah memimpin doa.
Tepat pukul 5.30 sore waktu setempat, siaran langsung dimulai. Komentator mulai memanaskan suasana. Ruangan Al-Fatih mendadak hening, penuh antisipasi. Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya remang dari lampu samping dan cahaya terang dari layar TV.
Pertandingan dimulai. MU bertandang ke markas West Ham United di London Stadium. Ini adalah laga "Derby London" versi fans MU.
Menit ke-15, West Ham mencetak gol lebih dulu. Suasana di ruang tamu langsung berubah dramatis.
"Offside itu! Jelas-jelas offside!" teriak Haris, melompat dari sofa. Wajahnya memerah.
"Wasitnya buta! VAR mana VAR?!" timpal Zayn, ikut berdiri dengan tangan mengepal.
Hana, sang pakar statistik, mencoba menenangkan. "Sabar, Abi, Zayn. Menurut statistik penguasaan bola, MU masih dominan. Kita cuma kurang penyelesaian akhir."
Adam, yang duduk di karpet, mulai menangis kecil. "MU kalah, Abi..."
Aisyah segera memeluk Adam. "Tenang, Sayang. Masih panjang pertandingannya."
Babak pertama berakhir dengan skor 1-0 untuk West Ham. Waktu jeda dipenuhi dengan analisis panas dari Haris dan Zayn tentang taktik pelatih yang salah, pemain yang malas, dan wasit yang berpihak.
Babak kedua dimulai. Haris mengenakan kembali jersey keramatnya dengan penuh keyakinan. "Ayo, anak-anak, kita harus kasih energi positif ke Old Trafford sana!" teriaknya, seolah-olah suaranya bisa menembus ribuan kilometer ke stadion.
Menit ke-70, MU mendapat tendangan penalti. Haris, Zayn, Hana, dan Adam berdiri kaku. Aisyah membaca Shalawat pelan. Bruno Fernandes mengambil ancang-ancang.
GOOOOLLLL!
Ruang tamu Al-Fatih meledak oleh sorakan! "YESS! ALHAMDULILLAH!" Haris berpelukan dengan Zayn dan Adam. Suasana haru dan bahagia bercampur aduk.
Pertandingan berakhir 1-1. Bukan kemenangan, tapi hasil imbang yang terasa seperti kemenangan setelah tertinggal lebih dulu. Keluarga Al-Fatih bersorak gembira.
Bagi mereka, match day adalah lebih dari sekadar menonton sepak bola. Ini adalah momen kebersamaan, tempat emosi tercurah, dan pengingat bahwa dalam hidup, sama seperti sepak bola, kita harus selalu optimis, berjuang sampai akhir, dan yang terpenting, menjalaninya bersama keluarga. Malam itu, di London yang dingin, hati mereka hangat oleh semangat merah Manchester United.
