Baca Novel Islami terbaru 2025: 'Sajadah di Tepian Mahakam'. Kisah komedi haru 3 keluarga bertetangga di Samarinda. Antara hobi belanja online Dokter Raisa, gaya mall Ibu Rossa, dan ketangguhan pasar Ibu Mahalini. Temukan makna ukhuwah dan hijrah finansial di Bumi Tepian. Klik di sini!
Jika fajar di Cluster Ar-Raudhah dimulai dengan kurir paket yang mendatangi rumah Dokter Raisa, maka siang harinya adalah panggung utama bagi Ibu Rossa. Sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas di salah satu dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Rossa memiliki jadwal yang sangat teratur. Namun, di balik kedisiplinan absensi sidik jarinya, terdapat sebuah peta mental yang sangat akurat mengenai letak toko-toko yang sedang mengadakan End of Season Sale di seluruh penjuru Kota Samarinda.
Pukul 12.05 WITA, saat lonceng istirahat berbunyi, Rossa tidak menuju ke kantin kantor seperti rekan-rekannya yang lain. Dengan langkah yang terukur dan jilbab cokelat yang tetap tegak paripurna meski cuaca Samarinda sedang terik-teriknya, ia memacu mobilnya menuju Big Mall, pusat perbelanjaan termegah yang berdiri kokoh di tepian Sungai Mahakam.
Bagi Rossa, Mall bukan sekadar tempat belanja. Ia adalah tempat terapi. Di sana, aroma parfum mewah yang menyembur dari diffuser di pintu masuk dan suhu udara yang stabil di angka 20 derajat Celcius adalah penawar paling ampuh setelah seharian berkutat dengan berkas-berkas laporan keuangan negara.
"Selamat siang, Ibu Rossa. Koleksi jilbab sutra yang Ibu tanyakan minggu lalu sudah masuk, lho. Warnanya dusty rose, sangat cocok dengan warna kulit Ibu," sapa seorang pramuniaga di sebuah butik ternama.
Rossa tersenyum penuh kemenangan. Inilah alasan mengapa ia lebih suka belanja di mall daripada belanja online seperti Dokter Raisa atau berjibaku di pasar becek seperti Ibu Mahalini. Di sini, ia merasa dihormati sebagai ratu. Ia bisa menyentuh tekstur kain, memastikan jahitan tidak ada yang melompat, dan yang paling penting: ia bisa mencobanya di depan cermin besar dengan pencahayaan yang membuatnya tampak lima tahun lebih muda.
"Wah, cantik sekali ini, Mbak. Tapi harganya masih sama dengan yang di label?" tanya Rossa sambil membolak-balik kartu member berwarna emas di tangannya.
"Khusus pemegang kartu member VIP seperti Ibu, ada potongan tambahan 15 persen plus cashback poin," jawab si pramuniaga dengan nada persuasif.
Di sinilah letak keahlian Rossa. Sebagai seorang PNS yang terbiasa menghitung anggaran daerah, ia sangat teliti soal angka. Ia tidak akan membeli barang dengan harga penuh jika ia tahu ada celah diskon yang bisa digunakan. Baginya, belanja di mall adalah seni bernegosiasi dengan sistem, bukan dengan orang seperti yang dilakukan Mahalini di pasar.
Namun, di tengah asyiknya memilih jilbab, ponselnya bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari Dokter Raisa.
"Halo, Bu Rossa? Lagi di mana? Ini lho, ada kurir paket datang lagi ke rumah saya, tapi katanya ini buat Ibu. Mas kurirnya bingung karena Ibu nggak ada di rumah, sedangkan ini paket frozen food yang harus masuk kulkas!" suara Raisa terdengar agak panik di seberang sana.
Rossa menepuk dahinya. "Ya Allah, Bu Dokter! Saya lupa! Itu saya pesan dimsum frozen hasil jastip teman kantor semalam. Titip dulu ya Bu Dokter, masukkan ke kulkas Ibu dulu. Saya masih ada 'urusan dinas' sebentar di Big Mall!"
Rossa menutup telepon dengan perasaan bersalah yang hanya bertahan lima detik, sebelum matanya kembali terpaku pada deretan sepatu hak tinggi di etalase sebelah. Namun, bayangan Ibu Mahalini yang sering mengingatkan tentang hidup hemat tiba-tiba melintas di pikirannya.
Sisi Lain: Ibu Mahalini dan Prinsip "Gengsi Tidak Bisa Dimakan"
Di waktu yang hampir bersamaan, Ibu Mahalini sedang duduk di meja kantornya di sebuah perusahaan tambang di daerah Palaran. Berbeda dengan Rossa yang sedang menikmati AC mall, Mahalini sedang asyik membuka bekal makan siangnya: nasi putih, sayur bening bayam, dan sambal mangga yang bahannya ia beli dari Pasar Segiri tadi subuh.
Mahalini adalah penganut aliran frugal living yang taat. Ia bekerja keras sebagai akuntan, namun ia sangat selektif dalam mengeluarkan uang. Baginya, harga sebuah baju di mall yang mencapai ratusan ribu rupiah bisa digunakan untuk membeli beras satu karung dan lauk pauk untuk dua minggu.
"Bu Lini, nggak bosan makan bekal terus? Yuk, sekali-sekali ikut kami makan siang di kafe baru di depan," ajak salah satu rekan kantornya yang lebih muda.
Mahalini tersenyum ramah, "Terima kasih, Jeng. Tapi sambal mangga saya ini nggak ada tandingannya di kafe mana pun. Lagipula, saya lagi nabung buat biaya umrah bareng keluarga tahun depan. Tiap rupiah yang saya hemat dari makan siang, saya masukkan ke tabungan syariah."
Prinsip Mahalini ini sering kali menjadi bahan diskusi (dan sedikit sindiran lucu) di grup WhatsApp tetangga mereka. Rossa sering menyebut Mahalini sebagai "Menteri Keuangan Cluster Ar-Raudhah", sementara Raisa menyebutnya sebagai "Alarm Penjaga Nafsu".
Nilai Spiritual: Menjaga Keseimbangan Antara Keinginan dan Keberkahan
Kehidupan tiga keluarga ini adalah representasi dari pergulatan batin banyak Muslim modern. Dalam Islam, memiliki barang yang bagus dan menjaga penampilan (seperti Ibu Rossa) adalah hal yang diperbolehkan, bahkan dicintai Allah selama tidak dibarengi dengan kesombongan. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan" (HR. Muslim).
Namun, Islam juga sangat menekankan pentingnya tidak berlebih-lebihan (israf) dan pentingnya manajemen keuangan yang baik untuk masa depan dan sedekah, sebagaimana yang dipraktikkan oleh Ibu Mahalini.
Bagi Anda yang ingin mengelola keuangan keluarga secara Islami, Anda dapat merujuk pada panduan Sakinah Finance yang memberikan tips praktis mengatur anggaran rumah tangga sesuai syariah. Selain itu, jika Anda sedang berada di Samarinda dan ingin mencari perpaduan antara belanja modern dan suasana lokal, mengunjungi Pasar Pagi Samarinda yang bersejarah bisa menjadi alternatif menarik untuk melatih keterampilan tawar-menawar seperti Ibu Mahalini.
Kesimpulan Bab 3:
Bab ini menunjukkan kontras yang lucu namun mendalam antara kepuasan instan di pusat perbelanjaan dan kepuasan jangka panjang melalui penghematan. Ketika Rossa asyik dengan kartu membernya dan Mahalini dengan bekal pasarnya, mereka tidak menyadari bahwa sore nanti, sebuah kejadian tak terduga di masjid kompleks akan menguji persahabatan mereka bertiga.
Apakah paket dimsum di rumah Dokter Raisa akan selamat sampai tangan Ibu Rossa? Atau justru akan menjadi hidangan pembuka diskusi hangat di teras rumah? Nantikan di Bab 4!
