BAB 5: Palu Raksasa dan Badai Salju di Teluk Norwegia

BAB 5: Palu Raksasa dan Badai Salju di Teluk Norwegia

Lev
0
Ikuti petualangan Lev Ryley dalam novel bajak laut modern dengan bumbu komedi, romansa, dan persahabatan sejati. Menjelajahi lautan dari Eropa hingga Australia bersama 11 kru unik.


Setelah meninggalkan kehangatan Spanyol, The Azure Vagabond kini berlayar membelah ombak dingin menuju wilayah Utara. Suara biola Isabella yang biasanya lembut kini harus bersaing dengan gemeretak gigi Bastian yang menggigil kedinginan.

Angin Nordik bertiup kencang, membawa serpihan es yang menusuk kulit. Lukas sibuk memasang pemanas darurat buatannya di dek, namun alih-alih hangat, mesin itu justru mengeluarkan uap cokelat yang berbau seperti kaos kaki basah.

"Lukas! Aku bersumpah jika kapal ini meledak di tengah es, aku akan membedahmu tanpa bius!" teriak Sienna sambil merapatkan jubah bulunya.

Lev Ryley, sebaliknya, tampak sangat bersemangat. Ia berdiri di haluan kapal, membiarkan salju menempel di topi kaptennya. "Lihat itu! Kepulauan Lofoten! Di sana tinggal wanita yang bisa membelah kayu ek hanya dengan tangan kosong!"

Mereka mendarat di sebuah desa nelayan kecil yang dikelilingi oleh pegunungan es yang menjulang tinggi. Di ujung dermaga, terdengar suara dentuman logam yang sangat keras—DANG! DANG! DANG!—yang menggetarkan air laut di sekitarnya.

Di sebuah bengkel kapal terbuka, seorang wanita dengan tinggi hampir 190 cm dengan otot lengan yang kokoh sedang menghantamkan palu raksasa ke sebuah rangka kapal kayu. Rambut pirang panjangnya dikuncir kuda, dan wajahnya tercoreng abu kayu. Dialah Freya Holm, tukang kayu kapal paling legendaris namun paling ditakuti di Norwegia karena sifatnya yang anti-sosial.

"Pergi. Aku tidak menerima pesanan kapal untuk turis," ucap Freya tanpa menoleh, suaranya berat dan berwibawa.

Lev berjalan maju dengan santai. "Aku bukan turis. Aku adalah kapten dari kapal yang hampir hancur karena ledakan mesin pemanas air jeruk."

Freya berhenti menghantamkan palunya. Ia berbalik dan menatap The Azure Vagabond yang bersandar di dermaga dengan tatapan menghina. "Kapal itu... itu adalah penghinaan bagi laut. Konstruksinya berantakan, sambungan lambungnya lemah, dan siapa yang mengecatnya dengan warna biru murahan itu?"

"Tepat!" seru Lev sambil tertawa. "Itulah kenapa aku membutuhkanmu, Freya. Aku ingin kapal ini menjadi rumah bagi kami. Sebuah rumah yang tidak bisa dihancurkan oleh monster laut atau meriam angkatan laut."

Tiba-tiba, ketenangan mereka terganggu oleh kedatangan dua kapal perang besar milik penguasa lokal yang korup. Mereka telah mengejar Lev sejak dari Jerman. "Serahkan kapal curian itu dan kaptennya, atau desa ini akan kami ratakan!" teriak komandan melalui pengeras suara.

Freya mengerutkan kening. Ia sangat benci orang yang mengganggu waktu kerjanya. "Kalian membawa masalah ke rumahku, Anak Kecil?" tanya Freya pada Lev.

"Hanya sedikit hiburan sebelum kita berlayar," jawab Lev sambil bersiap dengan kuda-kudanya.

Namun, sebelum Lev bergerak, Freya sudah melangkah maju. Ia mengangkat sebatang balok kayu ek raksasa seberat ratusan kilogram seolah itu hanya sebatang pensil. Dengan satu ayunan luar biasa, ia melemparkan balok itu ke arah kapal perang pertama, menghancurkan tiang layarnya seketika.

BRAKKK!

"Kalian merusak pemandangan bengkelku!" teriak Freya. Ia kemudian menoleh ke arah Lev. "Jika aku ikut, aku ingin otoritas penuh atas perbaikan kapal itu. Dan tidak boleh ada ledakan lagi dari pria kacamata itu (Lukas)."

"Kesepakatan tercapai!" jawab Lev riang.

Di tengah kekacauan pertempuran kecil itu, seorang wanita lain muncul dari balik bayangan hutan pinus dekat dermaga. Ia mengenakan mantel panjang hijau tua dengan sabuk penuh perlengkapan militer. Wajahnya tenang namun matanya tajam seperti elang. Dialah Elena Vance, seorang mantan komandan garda depan asal Irlandia yang sedang dalam pelarian.

"Sepertinya kalian butuh strategi untuk keluar dari kepungan ini, bukan sekadar otot," ucap Elena sambil mengeluarkan sebuah peta taktis.

Lev melihat Elena dan langsung merasa bahwa inilah potongan terakhir untuk posisi Wakil Kapten. "Kau... kau punya tatapan mata seorang pemimpin. Mau mengarahkan kapal ini menuju kebebasan?"

Elena menatap kru Lev yang heterogen—seorang ksatria, arkeolog, koki, dokter, penemu, musisi, dan tukang kayu raksasa. "Kelompok yang sangat tidak masuk akal. Aku suka."

Dengan strategi brilian dari Elena dan kekuatan fisik Freya yang mampu memperbaiki kebocoran kapal dalam hitungan menit di tengah pertempuran, The Azure Vagabond berhasil meloloskan diri dari kepungan es Norwegia.

Kini, dengan 9 anggota kru, mereka tinggal membutuhkan dua orang lagi untuk melengkapi 11 legenda. Lev mengarahkan kompasnya ke arah Marseille, Prancis, untuk mencari sang penembak jitu yang dikabarkan tidak pernah meleset.

Daftar Kru yang Terkumpul (Update Bab 5):
Lev Ryley (Kapten)
Bastian Vogel (Navigator)
Arthur Thorne (Ahli Pedang)
Clara Lefebvre (Arkeolog)
Matteo Rossi (Koki)
Sienna Moretti (Dokter)
Lukas Novak (Penemu)
Isabella Ruiz (Musisi)
Freya Holm (Tukang Kayu)
Elena Vance (Wakil Kapten)

Selanjutnya di Bab 6: Pencarian Oliver Dubois, sang penembak jitu flamboyan di Marseille, dan bagaimana Elena mulai mendisiplinkan kru Lev yang super kacau!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default