Jika Imran memiliki The Rock dan Tariq memiliki Messi, maka Aisha memiliki Bey—Beyoncé Knowles, sang diva global. Aisha mengagumi Beyoncé bukan hanya karena musiknya, tapi karena etos kerjanya, kemandiriannya, dan bagaimana dia membangun sebuah kerajaan bisnis global. Di mata Aisha, Beyoncé adalah perwujudan kekuatan feminin modern, yang ia coba terapkan dalam mengelola butiknya dan komunitas Muslimah di Paris.
Setiap bulan, Aisha menjadi tuan rumah acara "Majelis Ilmu dan Teh Sore" di apartemennya. Ini adalah acara kumpul-kumpul yang dihadiri oleh sekitar selusin wanita Muslim dari berbagai latar belakang—dokter, seniman, ibu rumah tangga, dan pemilik bisnis—di mana mereka mendiskusikan topik keagamaan, tantangan hidup di Paris, dan sesekali, resep masakan.
Sore itu adalah jadwal majelis, dan Aisha sedang sibuk mempersiapkan croissant halal buatannya dan berbagai kue kering Prancis. Suasana di apartemen harus sempurna: elegan, menenangkan, dan sedikit mewah, layaknya lounge VIP yang mungkin disukai Beyoncé.
"Imran, tolong putar musik latarnya," pinta Aisha dari dapur. "Yang di daftar putar 'Majelis' di Spotify."
Imran, yang sedang membantu mengelap piring, mengangguk. Dia menyalakan speaker Bluetooth.
Daftar putar "Majelis" Aisha adalah sebuah mahakarya penyeimbang budaya. Lagu-lagu nasyid instrumental yang lembut akan berganti dengan musik jazz Prancis klasik, lalu disusul dengan—yang Imran sadari sekarang—versi instrumental dari lagu-lagu hit Beyoncé yang dibuat ulang dengan piano atau biola.
Saat para tamu mulai berdatangan, suasana menjadi hangat. Wanita-wanita dengan berbagai gaya hijab—dari pashmina kasual hingga jilbab syar'i yang elegan—memenuhi ruang tamu, tawa mereka memenuhi ruangan.
Aisha, mengenakan abaya sutra berwarna krem yang elegan, menyambut semua orang dengan senyum ramah. Dia mengawasi segalanya: memastikan setiap cangkir teh terisi, setiap nampan kue tidak kosong, dan yang terpenting, mood musik tetap terjaga.
Puncaknya terjadi ketika Aisha mulai memimpin diskusi tentang "Kemandirian Wanita Muslim dalam Ekonomi Modern". Topik ini adalah favoritnya, terinspirasi langsung dari mentalitas "Girls Run the World" milik sang diva.
"Kita tidak boleh hanya menunggu rezeki datang, Ukhti," ujarnya penuh semangat, tanpa sadar mulai menggunakan isyarat tangan yang sedikit dramatis, meniru cara Beyoncé berbicara di film dokumenter. "Kita harus forge our own destiny! Kita harus bekerja keras, profesional, dan tetap menjaga batasan kita!"
Para hadirin mengangguk setuju, terinspirasi oleh semangat Aisha. Mereka tidak menyadari bahwa di latar belakang, alunan biola lembut sedang memainkan melodi "Single Ladies" versi instrumental.
Di dapur, Imran yang sedang mengambil nampan teh kosong, nyaris tersedak tawanya. Aisha terlihat sangat serius dan berwibawa, sementara soundtrack diva pop mengiringi ceramah agamanya. Ini adalah komedi situasi terbaik di Paris.
Namun, pesta teh itu tidak luput dari drama kecil. Salah satu tamu, Ibu Aminah, seorang wanita paruh baya yang sangat konservatif dan sering mengkritik hal-hal modern, mulai merasa tidak nyaman dengan suasana yang terlalu "urban".
"Musik latar ini... sedikit... terlalu bersemangat, Aisha," bisik Ibu Aminah saat Aisha melintas. "Apakah ini musik duniawi?"
Aisha tersentak. Dia melihat ke arah speaker. Lagu instrumental "Halo" baru saja dimulai dengan crescendo dramatis.
Imran, yang berada di dekat sana, segera bertindak sigap. Dia menyelinap ke belakang speaker dan dengan cepat mengganti daftar putar ke nasyid Arab klasik yang menenangkan. Perubahan suasana musiknya sangat mendadak, dari alunan biola dramatis ke paduan suara pria yang melantunkan puji-pujian.
Ibu Aminah mengangguk puas. "Nah, ini baru menyejukkan hati."
Aisha menatap Imran dengan pandangan terima kasih. Imran mengedipkan mata padanya. Keseimbangan berhasil dipulihkan.
Meskipun ada sedikit insiden musik, Majelis Ilmu sore itu sukses besar. Para wanita pulang dengan semangat baru, ide-ide bisnis, dan perut kenyang croissant.
Setelah semua tamu pulang, Imran dan Aisha duduk di sofa yang berantakan, lelah tapi bahagia.
"Hampir ketahuan," kata Imran sambil tertawa. "Kamu terlalu bersemangat dengan gaya 'Queen Bey'mu."
Aisha melepaskan hijab pestanya dan mengibaskan rambutnya sejenak. "Semangat itu penting, Imran. Beyoncé mengajarkan kita untuk tidak takut bersinar. Hanya saja, lain kali, ingatkan aku untuk memeriksa daftar putar lebih teliti."
Mereka berdua tertawa. Di Paris, kota mode dan seni, keluarga Al-Fikri menemukan cara mereka sendiri untuk merayakan iman mereka. Dengan The Rock di gym, Messi di lapangan, dan Beyoncé di butik, mereka berhasil menciptakan harmoni halal mereka sendiri, penuh tawa, cinta, dan sedikit musik latar pop yang elegan.
