Di bawah cahaya remang-remang lampu toko, Eva duduk, memegang sebuah album foto yang sudah usang. Album itu terbuat dari kulit, dengan ukiran yang halus. Di dalamnya, ada foto-foto dari era yang berbeda, foto-foto dari kehidupan yang berbeda, foto-foto yang menyimpan cerita yang hanya ia yang tahu.
Alex, yang sedang sibuk menyusun ulang rak-rak buku, melihat Eva terdiam. Ia melihat ekspresi sedih di mata Eva, dan ia tahu, Eva sedang mengenang sesuatu. Alex mengambil sebuah kursi dan duduk di samping Eva, tidak mengatakan apa-apa.
Eva membuka album itu, dan matanya berhenti pada sebuah foto hitam-putih. Foto itu diambil di sebuah taman yang indah, di Paris. Di foto itu, seorang pria muda berambut pirang, dengan senyum yang menawan, memeluk seorang wanita yang mirip dengan Eva. Eva tersenyum pahit, tangannya mengusap wajah pria itu.
"Siapa dia?" tanya Alex, suaranya pelan.
"Pierre," jawab Eva, suaranya serak. "Cinta pertamaku."
Flashback.
Tahun 1789. Eva, yang saat itu tinggal di Paris, bertemu Pierre. Pierre adalah seorang pelukis yang bersemangat, penuh dengan impian dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Eva, yang telah menyaksikan ratusan tahun pergantian kekuasaan, perang, dan revolusi, melihat api yang menyala di mata Pierre. Api yang mengingatkannya pada Daniel Finch, si kapten yang gagah.
Mereka jatuh cinta. Cinta mereka mekar di tengah-tengah gejolak Revolusi Perancis. Mereka bersembunyi dari kerusuhan, melukis di sebuah apartemen kecil di Montmartre, dan saling berjanji akan masa depan.
"Aku akan melukis dirimu selamanya, Elara," kata Pierre, saat ia melukis Eva. "Agar semua orang tahu, ada keindahan yang abadi."
Eva tersenyum. Ia tidak memberitahu Pierre bahwa ia memang abadi. Ia ingin merasakan cinta yang tulus, cinta yang tidak didasarkan pada keabadiannya.
Tapi cinta mereka teruji. Revolusi semakin brutal. Kekerasan merajalela. Suatu malam, saat Pierre sedang melukis sebuah poster revolusi, ia ditangkap oleh tentara kerajaan. Eva, yang menyaksikannya, tidak bisa melakukan apa-apa. Ia takut identitasnya akan terbongkar. Ia takut akan membahayakan Pierre lebih jauh. Ia harus menyaksikan, dari jauh, saat Pierre dibawa pergi.
Eva berusaha mencari Pierre. Ia menyuap pejabat, menyamar sebagai warga sipil, mencari informasi dari setiap sudut kota. Tetapi Pierre sudah pergi. Ia dijatuhi hukuman mati.
Malam itu, di sebuah alun-alun di Paris, Eva melihat Pierre dibawa ke guillotine. Ia berdiri di tengah-tengah kerumunan, air mata mengalir di pipinya. Ia melihat Pierre, yang tersenyum padanya, senyum yang penuh dengan cinta dan keberanian. Dan ia melihat, saat pisau tajam itu jatuh.
Setelah itu, Eva meninggalkan Paris. Ia tidak bisa tinggal di sana lagi. Setiap sudut kota mengingatkannya pada Pierre. Ia pergi, membawa kesedihan yang tak terlukiskan.
Flashback berakhir.
Eva mengusap air matanya. Alex memegang tangannya. "Itu... sangat menyakitkan," kata Alex, suaranya bergetar.
"Setiap cinta yang kumiliki, selalu berakhir dengan kehilangan," kata Eva, suaranya serak. "Aku sudah terbiasa dengan itu."
"Tapi kau tidak boleh terbiasa," kata Alex, menatap mata Eva. "Cinta seharusnya tidak berakhir seperti itu."
"Tapi bagi kita, iya," kata Eva. "Kau akan menua. Aku akan tetap sama. Itu adalah takdir kita."
"Takdir tidak menentukan segalanya," kata Alex. "Kita yang menentukannya."
Eva tersenyum. Alex selalu punya cara untuk membuatnya merasa lebih baik, meskipun itu hanya untuk sesaat. Alex adalah sebuah keajaiban, sama seperti keabadian Eva. Alex adalah sebuah keajaiban yang fana, yang ia tahu suatu hari nanti akan pergi.
Eva menutup album foto itu, menyimpan kenangan Pierre kembali ke tempatnya. Ia menatap Alex, dengan matanya yang penuh harapan dan kehangatan. Ia tahu, ia harus berhati-hati. Ia tahu, ia harus melindungi hatinya. Tetapi di malam yang dingin itu, ia memutuskan, ia tidak akan lari. Ia akan menghadapi takdirnya, dengan Alex di sisinya, hingga saatnya tiba. Dan ia akan menikmati setiap detik dari kebersamaan itu, meskipun ia tahu, akhirnya akan menyakitkan.
