Pagi itu, sinar matahari musim dingin yang jarang-jarang hadir menembus kaca jendela apartemen Lev. Cahayanya yang keemasan membingkai potret Vania di meja samping tempat tidur. Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, Lev tidak merasakan kepedihan yang menusuk saat melihat senyum Vania. Sebaliknya, ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, seperti kenangan manis yang membangunkannya dari mimpi buruk.
Ia bangun dengan perasaan yang lebih baik. Setelah salat subuh, ia memutuskan untuk memasak sarapan. Ia memasak nasi goreng ala Banjar dengan bumbu-bumbu yang ia bawa dari rumah. Ia teringat Vania yang selalu suka dengan masakan buatannya. Ia tersenyum kecil. Ia merasa bahwa dengan memasak, ia bisa merasa lebih dekat dengan Vania.
Ketika ia sedang menikmati sarapan, bel pintu apartemennya berbunyi. Ia terkejut. Siapa yang datang sepagi ini? Ia membuka pintu, dan melihat Anatasya berdiri di sana dengan senyum lebar.
"Pagi, Lev! Aku bawa kopi spesial untukmu," kata Anatasya sambil menyodorkan sebuah cangkir kopi.
Lev terkejut. "Kopi? Aku tidak minum kopi, Anatasya."
Anatasya tertawa. "Aku tahu! Ini kopi Swedia, kopi yang paling enak di sini. Tapi aku bawakan yang decaf. Aku tahu kamu tidak suka kafein."
Lev merasa terharu. Anatasya mengingat hal kecil tentangnya. "Terima kasih, Anatasya. Masuklah."
Anatasya masuk ke apartemen Lev. Ia melihat apartemen Lev yang bersih dan rapi. Ia melihat foto Vania di meja. "Vania?" tanyanya lembut.
Lev mengangguk. "Ya."
Anatasya tersenyum. "Dia cantik sekali."
"Dia memang cantik," jawab Lev.
Mereka duduk di sofa, menikmati kopi. Anatasya menceritakan tentang rencana mereka di perpustakaan. Ia ingin mengadakan acara baca buku anak-anak.
"Aku pikir, kamu bisa menjadi naratornya, Lev," kata Anatasya. "Suaramu menenangkan, anak-anak pasti suka."
Lev terkejut. "Aku? Aku tidak bisa. Aku... aku pemalu."
"Tidak apa-apa, Lev. Aku akan menemanimu," Anatasya meyakinkan. "Kita akan melakukannya bersama."
Lev ragu sejenak, tapi ia melihat antusiasme di mata Anatasya. Ia mengangguk. "Baiklah. Aku akan coba."
Anatasya tersenyum. "Itu baru Lev yang aku kenal."
Setelah selesai membahas pekerjaan, Anatasya melihat Lev sedang membaca Al-Qur'an. "Kamu setiap pagi membaca itu?" tanya Anatasya.
Lev mengangguk. "Ya. Ini membuat hatiku tenang."
"Bagus sekali," kata Anatasya. "Aku juga punya buku, tapi buku tentang filosofi. Aku suka membacanya saat aku merasa bingung."
"Aku juga suka buku filosofi," kata Lev. "Tapi... aku tidak terlalu mengerti."
"Kalau begitu, aku bisa ajari kamu," tawar Anatasya. "Kita bisa tukar buku. Aku ajari kamu filosofi, dan kamu ajari aku tentang... Al-Qur'an."
Lev terkejut. "Anatasya... itu..."
"Aku tidak bermaksud menyinggung, Lev," kata Anatasya. "Aku hanya penasaran. Aku ingin tahu lebih banyak tentang keyakinanmu."
Lev tersenyum. Ia merasa lega. Anatasya tidak melihatnya sebagai orang asing, tetapi sebagai teman. "Tentu, Anatasya.
Aku akan ajari kamu. Tapi... jangan berharap banyak ya."
"Aku tidak berharap banyak, Lev. Aku hanya ingin belajar," jawab Anatasya.
Mereka berdua tertawa. Tawa yang tulus, yang datang dari hati yang mulai terbuka. Lev merasa bahwa ia tidak hanya membuka hatinya untuk persahabatan baru, tetapi juga untuk kebahagiaan baru. Ia tahu, ia tidak akan pernah melupakan Vania. Tapi, dengan adanya Anatasya, ia tidak lagi merasa sendirian. Ia merasa bahwa ia bisa bahagia lagi. Ia siap untuk melanjutkan hidup.
