Petualangan di Mesir terus berlanjut. Fatimah, yang mahir berbahasa Arab, selalu menjadi penerjemah bagi Lev dan Aisyah, yang hanya bisa berbicara bahasa Inggris. Khadijah, meskipun juga mahir, lebih sering membiarkan Fatimah memimpin. Namun, ada kalanya, Lev dan Aisyah mencoba untuk berbicara bahasa lokal, yang seringkali berakhir dengan kejadian-kejadian lucu.
Suatu sore, mereka mampir ke sebuah kedai jus tebu yang ramai. Lev, yang ingin mencoba jus tebu segar, memutuskan untuk memesan sendiri. Ia melihat Fatimah berbicara dengan penjual dengan lancar, dan ia merasa ingin mencoba hal yang sama.
"Aku akan coba pesan sendiri," kata Lev, dengan nada penuh percaya diri. "Fatimah, ajari aku cara bilang 'jus tebu satu'."
"Mudah, Lev," jawab Fatimah. "Bilang saja, 'asir qasab waahid."
"Asir qasab waahid," Lev mengulang, mencoba menirukan intonasi Fatimah.
Lev berjalan menuju penjual, tersenyum lebar. Penjual itu, seorang pria paruh baya dengan senyum ramah, menyambutnya. Lev, dengan napas terengah-engah, mencoba mengeluarkan kalimat yang sudah ia hafal.
"Asir qasab... waahid?" kata Lev, dengan aksen yang kacau.
Penjual itu menatapnya dengan bingung. "Apa, Nak?"
Lev, yang panik, mencoba mengulang lagi. "Asir qasab! Waahid! Juice!"
Penjual itu masih tidak mengerti. Akhirnya, ia menunjuk ke sebuah wadah berisi jus mangga. "Jus mangga? Mango juice?"
Lev, yang frustrasi, menggelengkan kepala. "Bukan! Ini! Yang... yang seperti kayu!" Lev mencoba menirukan gerakan orang mengupas tebu.
Fatimah, yang sudah tidak tahan menahan tawa, akhirnya menghampiri Lev. "Lev, jangan buat dia bingung."
"Aku sudah bilang, Fatimah," kata Lev, merasa malu. "Tapi dia tidak mengerti."
"Itu karena kamu salah intonasi, Lev," jawab Fatimah. "Sini, biar aku saja."
Fatimah berbicara dengan penjual itu dengan cepat, dan tak lama kemudian, penjual itu menyajikan empat gelas jus tebu segar. Lev, yang merasa malu, hanya bisa tertawa.
"Ternyata, bahasa Arab lebih sulit dari yang aku kira," gumamnya.
"Bukan sulit, Lev. Kamu hanya butuh latihan," kata Khadijah, menenangkan.
"Tapi kan jadi lucu, Khadijah," kata Aisyah. "Kontennya jadi lebih menarik!"
Lev, yang tadinya merasa malu, kini merasa lebih nyaman. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya tentang melihat tempat-tempat indah, tetapi juga tentang belajar berinteraksi dengan budaya yang berbeda. Dan terkadang, interaksi itu bisa jadi lucu.
Di lain waktu, mereka berada di sebuah pasar tradisional. Aisyah, yang ingin membeli suvenir, mencoba menawar dengan bahasa Inggris yang campur aduk. Penjualnya, seorang pria tua dengan wajah keriput, hanya bisa menggelengkan kepala, geli. Lev, yang sudah belajar dari pengalaman sebelumnya, tidak ikut campur. Ia hanya berdiri di samping Aisyah, menertawakan kekonyolan temannya.
"Tidak bisa ditawar, Aisyah," kata Fatimah, yang sudah berbicara dengan penjual. "Harga di sini memang sudah pas."
"Kok bisa, Fatimah? Bukannya tawar menawar itu sudah jadi budaya di sini?" Aisyah protes.
"Ya, tapi tidak semua barang bisa ditawar. Ini barang seni, Aisyah. Bukan barang biasa," jawab Fatimah.
Aisyah akhirnya menyerah. Ia membeli suvenir itu dengan harga yang sudah ditetapkan. Meskipun gagal menawar, ia tetap bahagia karena ia berhasil mendapatkan suvenir yang ia inginkan.
Di malam hari, mereka berkumpul di sebuah kafe, membicarakan pengalaman mereka hari itu. Lev menceritakan kekonyolannya saat memesan jus tebu. Aisyah menceritakan kegagalannya saat menawar suvenir. Fatimah dan Khadijah mendengarkan sambil tertawa.
"Ternyata, bahasa itu bukan cuma tentang kata-kata," kata Lev, bijaksana. "Tapi juga tentang intonasi, ekspresi, dan... ya, kekonyolan."
"Benar, Lev," kata Khadijah. "Bahasa itu adalah jendela kebudayaan. Dan kamu sudah berhasil membukanya, meskipun sedikit kacau."
"Tapi kan seru, Khadijah!" kata Aisyah. "Momen-momen seperti ini yang akan aku ingat seumur hidup."
Fatimah mengangguk setuju. Ia tahu, di balik kekonyolan dan kegagalan itu, ada pelajaran berharga yang mereka dapatkan. Pelajaran tentang bagaimana berinteraksi dengan budaya yang berbeda, tentang bagaimana menghargai setiap perbedaan, dan tentang bagaimana menemukan kebahagiaan di tengah ketidaksempurnaan.
