Bab 14: Cemburu yang Tidak Jelas

Bab 14: Cemburu yang Tidak Jelas

Lev
0

Diskusi proyek sekolah antara Vania dan Lev berlangsung intensif. Mereka sering bertemu di luar jam kerja, terkadang di kafe "Senja Martapura", tempat yang kini penuh kenangan. Tak jarang, Vania merasa jantungnya berdebar setiap kali Lev Ryley, ayah dari muridnya yang paling usil, tersenyum dan membahas ide-ide inovatif untuk proyek. Hubungan profesional ini perlahan-lahan beralih ke ranah yang lebih personal.

"Van, kamu lihat Lev, ya? Dia itu seperti kura-kura, tampangnya kalem, tapi diam-diam menghanyutkan," kata Mia, memicingkan mata sambil menyedot es jeruk nipisnya di kafe. "Dia sudah menunjukkan ketertarikannya dengan cara-cara yang manis."

"Apaan sih, Mia? Dia cuma profesional. Itu wajar kalau dia jadi perhatian sama proyek sekolah, kan?" Vania berusaha menyangkal, tapi pipinya sedikit merona.

"Vania, aku kan sudah bilang! Dia itu punya kehidupan ganda. Dia pengusaha sukses yang kalem, tapi kalau lagi di depan kamu, dia kayak cowok kasmaran. Pura-pura aja kamu nggak tahu," timpal Sarah, menambahi.

"Apaan, sih, kalian ini? Nanti kalau ada yang dengar gimana?" Vania melihat sekeliling, khawatir ada yang mendengarkan obrolan mereka.

Saat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba datang seorang pria yang Vania kenal, Pak Riko, guru olahraga yang pernah mengajaknya makan siang. Pak Riko duduk di meja mereka, dengan senyum ramah yang kini terlihat sedikit cemas.

"Vania, boleh saya bicara sebentar?" tanya Pak Riko. "Empat mata."

Vania melirik Mia dan Sarah, yang langsung mengerti dan beranjak pergi, setelah Mia sempat mengacungkan jempolnya ke Vania.

"Ada apa, Pak Riko?" tanya Vania, bingung.

"Ini soal proyek sains dan teknologi yang sedang kamu kerjakan dengan Pak Lev," Pak Riko memulai. "Banyak guru yang iri dengan kedekatan kalian. Mereka pikir kalian ada apa-apa."

"Ya, ampun! Tidak, Pak Riko! Kami cuma rekan kerja, kok!" Vania membela diri.

"Tapi... saya lihat, Pak Lev itu sering memperhatikan kamu. Dia sering senyum-senyum sendiri saat melihat kamu," kata Pak Riko, suaranya sedikit kecewa. "Saya juga sering lihat kalian berdua di kafe ini."

Vania terdiam. Perkataan Pak Riko menusuk hatinya. Ia tidak menyangka kedekatannya dengan Lev akan menjadi bahan gosip di sekolah. Ia merasa malu, dan juga khawatir.

"Pak Riko, saya mohon, jangan salah paham," Vania mencoba menjelaskan. "Kami benar-benar cuma rekan kerja. Proyek ini sangat penting untuk sekolah."

"Maaf, Vania. Saya... saya cemburu," kata Pak Riko, tiba-tiba.
Vania terkejut. "Cemburu?"

"Iya. Saya suka sama kamu, Vania. Dari dulu. Tapi kamu kan selalu menolak ajakan saya," Pak Riko menundukkan kepalanya. "Dan sekarang, ada Pak Lev. Saya merasa... tidak adil."

Vania merasa serba salah. Ia tidak ingin menyakiti perasaan Pak Riko, tapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya. Ia memang tidak memiliki perasaan lebih kepada Pak Riko.

"Pak Riko, saya minta maaf," kata Vania, dengan lembut. "Tapi... perasaan tidak bisa dipaksakan. Saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri."

"Tapi... kamu tidak mencintai Pak Lev, kan?" tanya Pak Riko, dengan mata berbinar penuh harapan.

"Saya... saya tidak tahu," Vania berkata jujur. Ia memang tidak tahu. Ia hanya merasa nyaman di dekat Lev. Ia merasa bahagia saat bersama Lev. Tapi apakah itu cinta? Ia belum tahu.

"Kalau begitu, saya akan tetap mengejar kamu, Vania," Pak Riko tersenyum. "Saya akan buktikan kalau saya lebih baik dari Pak Lev."

Vania hanya bisa menghela napas. Ia merasa hidupnya semakin rumit. Setelah drama arisan online, insiden bebek dan es kelapa muda, kini ia harus menghadapi drama cemburu yang tidak jelas. Ia hanya bisa berdoa, semoga ia bisa melewati semua ini dengan baik. Dan semoga, perasaannya kepada Lev bisa segera ia temukan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default