Bab 9: Drama di Bandara

Bab 9: Drama di Bandara

Lev
0

Penerbangan dari Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin menuju Bandara Internasional Juanda Surabaya berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Aisyah tidur nyenyak sepanjang perjalanan, mungkin kelelahan setelah seharian bermain di Siring Martapura kemarin. Tepat pukul 11.00 WIB (Waktu Indonesia Barat), mereka mendarat di tanah Jawa.

"Alhamdulillah, sampai juga kita di Surabaya, kota pahlawan!" seru Anindya, meregangkan ototnya setelah duduk berjam-jam.

Namun, drama perjalanan baru saja dimulai. Mereka memutuskan untuk menyewa mobil di Surabaya untuk mobilitas keliling Jawa. Begitu keluar dari bandara dan menuju area pengambilan bagasi, Anindya menyadari sesuatu.

"Mas, koper kita kok cuma satu?" tanyanya panik, menghitung jumlah koper yang tersisa di troli. Seharusnya ada dua koper besar.

Jantung Lev berdebar kencang. Dia mengecek ulang tag bagasi. "Astaghfirullah, Nindya. Yang satu koper kita yang warna biru. Ini koper siapa? Mirip sih, tapi ini ada stiker Paris-nya."

Mereka panik. Koper biru yang hilang berisi semua pakaian ganti Aisyah, susu bubuk cadangan, dan beberapa dokumen penting. Mereka segera melapor ke bagian lost and found bandara.

Suasana tegang menyelimuti mereka. Anindya mulai panik dan sedikit menyalahkan Lev yang terlalu santai mengecek barang bawaan.

"Mas, aku sudah bilang, jangan santai-santai. Ini semua isinya barang penting Aisyah!"

"Iya, Nindya, maaf. Mas juga nggak nyangka bisa ketukar begini," balas Lev, mencoba tetap tenang sambil berbicara dengan petugas.

Syukurlah, petugas bandara sangat membantu. Setelah dicek di sistem, ternyata koper mereka yang asli terbawa oleh penumpang lain yang memiliki koper serupa. Penumpang tersebut juga panik dan sedang melapor di ujung ruangan.

Momen pertemuan dengan penumpang lain itu penuh dengan adegan komedi dan saling meminta maaf. Penumpang itu, seorang bapak paruh baya yang terburu-buru, juga salah ambil karena bentuk dan warna koper yang nyaris identik.

"Maaf sekali, Pak. Saya buru-buru tadi, maklum mata sudah rabun," ujar bapak itu bersalah.

"Sama-sama, Pak. Kami juga minta maaf kurang teliti," balas Lev lega.

Setelah koper kembali ke pemilik aslinya, ketegangan mencair menjadi tawa lega. Aisyah yang tadinya ikut bingung, kini kembali ceria.

"Alhamdulillah, semua sudah beres," kata Anindya, memeluk koper birunya erat-erat seolah takut hilang lagi.

Mereka akhirnya bisa keluar dari Bandara Juanda dan menuju tempat penyewaan mobil. Mobil yang mereka sewa kali ini lebih besar, sebuah MPV bongsor yang muat untuk semua koper dan mereka bertiga dengan nyaman.

"Oke, drama satu selesai. Sekarang, kita check-in hotel dulu di area Ampel, istirahat, baru besok pagi kita mulai ziarah ke Sunan Ampel," ujar Lev, memasang aplikasi navigasi di ponselnya.

Perjalanan dari bandara menuju kawasan Ampel memakan waktu sekitar satu jam. Suasana kota Surabaya yang panas dan padat terasa sangat berbeda dari Banjarmasin yang lebih santai. Lev harus ekstra fokus menyetir di tengah ramainya lalu lintas kota metropolitan.

Setibanya di area Ampel, suasana langsung berubah drastis. Gang-gang sempit, bangunan tua bergaya Arab dan Tiongkok, serta keramaian peziarah dan pedagang membuat area ini terasa hidup dan magis. Hotel yang mereka pesan berupa guesthouse kecil di tengah gang sempit, dekat dengan Masjid Ampel.

"Wah, seru banget di sini, Mas! Mirip kayak di Timur Tengah kayaknya," seru Anindya, matanya berbinar melihat keramaian.

Mereka menurunkan barang bawaan, dibantu oleh pemilik guesthouse yang ramah. Setelah mandi dan salat Zuhur-Ashar di kamar hotel, mereka memutuskan untuk jalan-jalan santai sore itu di sekitar area Ampel, mencicipi kuliner dan merasakan kehidupan bermasyarakat di sana.

Malam itu, mereka makan malam Nasi Mandhi di salah satu restoran Arab yang terkenal di sana. Aisyah lahap sekali makan daging kambing yang empuk. Perjalanan ke Jawa baru dimulai, dan meskipun diwarnai drama koper yang bikin jantungan, mereka tahu petualangan ini akan penuh warna dan cerita yang tak terlupakan. Mereka siap menyambut babak baru nazarnya di tanah para Wali Songo.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default