BAB 2: Diplomasi Pasar Paringin dan Tragedi Bagasi

BAB 2: Diplomasi Pasar Paringin dan Tragedi Bagasi

Lev
0

Matahari di atas Bumi Sanggam mulai merangkak naik, mengusir sisa-sisa embun yang sempat menempel di dedukunan pohon kasturi di belakang rumah. Bagi masyarakat Paringin, hari pasar adalah hari yang sakral. Pasar Paringin yang terletak di pusat kota menjadi muara bertemunya segala hajat hidup orang banyak, mulai dari sayuran segar dari pegunungan Meratus hingga ikan puyu yang masih melompat-lompat di dalam ember plastik.

Di Gang Rukun Roda, suasana pagi itu mendadak sibuk. Bukan karena ada kerja bakti dadakan, melainkan karena dua ibu rumah tangga paling berpengaruh di gang tersebut, Hj. Siti (istri Haji Luqman) dan Acil (Bibi) Imas (istri Abah Zaki), sudah berdiri di depan pagar dengan tas belanja besar di tangan masing-masing.

"Ayo, Abah Zaki! Cepat dipanaskan itu motor 'keren'-nya. Jangan sampai ikan haruan yang paling besar diambil orang duluan!" teriak Acil Imas dengan suara melengking yang sanggup membangunkan kucing yang sedang tidur di seberang jalan.

Abah Zaki, yang sedang asyik memoles spion Yamaha N-Max miliknya agar terlihat glowing, langsung sigap. "Sabar, Umanya Zaki. Motor Yamaha ini butuh suhu yang pas supaya tarikannya 'joss'. Kita tidak hanya mau ke pasar, kita mau tampil berwibawa di jalanan Paringin!"

Di saat yang sama, Haji Luqman keluar dengan santai. Ia hanya mengenakan kaos berkerah dan celana kain, kunci Honda Vario-nya terselip di jari telunjuk. "Mari, Ji, kita berangkat bareng lagi. Biar jalanan Paringin tahu kalau kita ini tetangga paling kompak se-Kalimantan Selatan," ajak Haji Luqman dengan nada teduh.

Kedua pasangan suami-istri itu pun berangkat. Namun, masalah mulai muncul ketika mereka sampai di area parkir Pasar Paringin yang sangat padat.

"Nah, lihat Ji," kata Abah Zaki sambil berusaha memarkir N-Max-nya yang berbodi bongsor. "Motor besar begini memang gagah, tapi kalau parkiran sempit begini, butuh tenaga ekstra. Tapi tidak apa-apa, yang penting gaya!"

Haji Luqman dengan mudah menyelipkan Honda Vario-nya di celah sempit antara gerobak jualan dan motor bebek lama. "Itulah bedanya, Ki. Honda ini dirancang untuk kelincahan masyarakat yang aktif. Tidak perlu makan tempat, yang penting fungsi. Islam juga mengajarkan kita untuk tidak berlebih-lebihan, bukan? Termasuk dalam memakan ruang parkir umum," goda Haji Luqman sambil mengunci stang motornya.

Setelah hampir satu jam berjibaku di dalam pasar yang riuh dengan tawar-menawar dalam bahasa Banjar yang kental, kedua keluarga itu keluar dengan tangan penuh kantong plastik. Di sinilah "perang dingin" otomotif babak kedua dimulai: Ujian Kapasitas Bagasi.

Acil Imas membawa dua liter minyak goreng, tiga ekor ikan haruan besar, sayur mayur, dan sekarung kecil beras. Ia menatap N-Max Abah Zaki dengan penuh harap. "Bah, masukkan semua ini ke dalam bagasi. Saya capek kalau harus memangku belanjaan sebanyak ini di belakang."

Abah Zaki dengan bangga membuka bagasi motor Yamahanya. "Tenang, Umanya Zaki. Bagasi N-Max ini luasnya hampir seperti kolam renang. Helm saja masuk, apalagi cuma ikan dan minyak goreng!" Dengan penuh gaya, ia menata belanjaan itu. Namun, karena desain bagasi yang dalam namun melengkung, ia kesulitan menata beras dan ikan agar tidak saling tindih.

Sementara itu, Hj. Siti membawa belanjaan yang hampir sama banyaknya. Haji Luqman hanya tersenyum tipis. Ia membuka bagasi Vario-nya yang rata dan fungsional. Sebagian belanjaan masuk ke bagasi, dan sisanya—berkat desain dek depan Honda yang rata—bisa diletakkan di antara kaki Haji Luqman dengan sangat stabil.

"Lho, Abah Zaki, itu ikannya kenapa ditaruh di atas beras? Nanti berasnya bau amis, lho," tegur Hj. Siti sambil menahan tawa.

Abah Zaki berkeringat dingin. Ternyata memasukkan belanjaan pasar ke dalam motor "sporty" tidak semudah teorinya. "Ini... ini strategi distribusi beban, Umanya Luqman. Supaya motor tetap seimbang saat bermanuver di tikungan Jembatan Paringin nanti!" alasan Abah Zaki yang terdengar sangat dipaksakan.

Haji Luqman mendekat, lalu membantu merapikan belanjaan Abah Zaki. "Sini, Ki, saya bantu. Kita bagi dua saja. Berasnya taruh di depan motor saya, mumpung lantainya rata. Ikan pian biarlah di bagasi Yamaha yang luas itu. Itulah gunanya bertetangga, saling menutupi kekurangan. Motor pian menang di gaya dan kecepatan, motor saya menang di urusan angkut sayur dan beras. Kalau digabung, kita jadi armada logistik paling hebat di Balangan."

Mendengar itu, tawa pun pecah di antara mereka. Ketegangan soal merk motor langsung luruh oleh semangat tolong-menolong. Abah Zaki pun mengakui dalam hati, bahwa dalam urusan kepraktisan belanja ke pasar, Honda milik tetangganya memang punya keunggulan telak.

Sepanjang perjalanan pulang melewati jalanan Paringin yang mulai terik, mereka menjadi pemandangan yang unik. Sebuah Yamaha N-Max yang gagah melaju di depan dengan suara knalpot yang mantap, diikuti oleh sebuah Honda Vario yang tenang di belakangnya sambil membawa karung beras di dek depannya.

Di tengah perjalanan, mereka melewati Masjid Al-Akbar yang kubahnya berkilauan diterpa cahaya matahari. Haji Luqman bergumam dalam hati, bersyukur atas nikmat tetangga yang asyik diajak bercanda namun tetap tulus dalam membantu. Ia teringat salah satu hadits Nabi bahwa Jibril senantiasa mewasiatkan untuk berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai Nabi mengira tetangga akan mendapatkan harta waris.

"Ki! Nanti sore jangan lupa ya, jadwal kita gotong royong membersihkan selokan gang!" teriak Haji Luqman dari belakang.

"Siap, Ji! Nanti saya bawakan kopi paling enak sedunia, biar semangat kerja baktinya sekuat mesin Yamaha!" balas Abah Zaki sambil memberi jempol.

Hari itu, Pasar Paringin tidak hanya memberikan mereka bahan makanan untuk fisik, tetapi juga nutrisi bagi jiwa mereka. Pelajaran sederhana namun bermakna: bahwa setiap ciptaan manusia punya kelebihan dan kekurangan, namun hubungan antar manusia yang didasari iman akan selalu bisa menyempurnakan segalanya.

Sesampainya di rumah, mereka tidak langsung masuk. Di depan pagar, mereka kembali berbincang sejenak sambil menurunkan belanjaan. Persaingan Honda dan Yamaha hanyalah bumbu penyedap dalam hubungan mereka, sebuah komedi kehidupan yang membuat hari-hari di Paringin terasa jauh lebih berwarna dan bahagia.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default