Pagi berikutnya, trio pahlawan kita memulai "Quest #2: Misi Air Jernih". Berbekal informasi dari flash drive dan petunjuk dari Profesor Owa, mereka bergerak menuju Sungai Kristal, sumber kehidupan Hutan Evergreen yang kini terancam.
Perjalanan itu membawa mereka ke area yang sebelumnya merupakan bagian paling indah dari hutan. Namun, saat mereka mendekati sungai, pemandangan berubah drastis. Pepohonan di tepi sungai layu, daunnya berubah menjadi coklat kusam. Air yang biasanya jernih dan berkilauan kini keruh, berwarna hijau keruh dengan lapisan busa berminyak mengambang di permukaan. Bau kimia yang menyengat menggantikan aroma segar embun pagi.
"Ya ampun! Ini... ini mengerikan!" seru Bumble, terbang dengan hati-hati di atas air yang tercemar. "Baunya seperti kamar mandi umum di terminal bus!"
Leo mendengus marah, cakarnya mengepal. "Mereka bahkan tidak peduli dengan sumber air. Mereka hanya membuang limbah produksi mereka langsung ke sungai suci ini."
Spinner, yang memeriksa sampel air dengan hati-hati, memasang ekspresi jijik. "Ini campuran minyak mesin, bahan kimia pemrosesan kayu, dan entah apa lagi. Tingkat toksisitasnya sangat tinggi. Jika terus begini, seluruh kehidupan di bagian bawah sungai akan mati dalam seminggu."
Menurut Profesor Owa, solusi untuk mendapatkan "esensi alam" dan meningkatkan kemampuan mereka adalah dengan mencapai Pohon Kehidupan di hulu sungai, tetapi air yang tercemar ini menghalangi jalan mereka. Mereka harus membersihkan aliran air terlebih dahulu.
Trio itu menemukan sumber pencemaran: sebuah pipa raksasa yang tersamar dengan buruk di balik bebatuan, memuntahkan cairan beracun dari kamp manusia.
"Kita punya dua pilihan," kata Spinner, menyusun rencana di tempat. "Pertama, kita menyumbat pipa itu. Kedua, kita menetralisir racun di dalam air. Menyumbat pipa hanya akan membuat mereka menemukan cara lain membuang limbah di tempat lain. Kita harus menetralisir."
"Bagaimana caranya menetralisir racun sebanyak ini?" tanya Bumble, panik melanda lagi.
"Profesor Owa menyebutkan ada lumpur detoksifikasi khusus di rawa kuno di sebelah timur," jelas Spinner. "Lumpur itu memiliki kemampuan alami untuk menyerap racun."
"Baiklah, Leo dan aku akan ke rawa!" putus Bumble. "Spinner, kamu tetap di sini, jaga agar tidak ada makhluk hutan lain yang minum air ini, dan awasi kamp manusia."
Leo dan Bumble bergegas ke rawa kuno. Perjalanan itu sendiri adalah mini-quest. Mereka harus menghindari jebakan lumpur hisap, melintasi jembatan akar rapuh, dan bahkan berhadapan dengan sekelompok kepiting rawa raksasa yang marah karena lingkungan mereka juga mulai terganggu oleh bau busuk dari sungai.
Sementara itu, Spinner menjalankan tugasnya. Dia merajut jaring sutra peringatan di sepanjang tepi sungai dan menggunakan pengetahuannya tentang flora lokal untuk membuat penghalang tanaman penyerap racun darurat, memperlambat penyebaran limbah beracun tersebut.
Di rawa, Leo dan Bumble berhasil mengalahkan kepiting rawa dengan kombinasi cakar lincah Leo dan sengatan listrik Bumble. Mereka mengumpulkan lumpur detoksifikasi dalam jumlah besar, menumpuknya di atas daun raksasa.
Mereka kembali ke sungai dengan muatan penuh. Dengan susah payah, mereka mulai melemparkan lumpur ajaib itu ke dalam aliran limbah. Ini adalah kerja keras yang melelahkan. Bumble terbang bolak-balik membawa bongkahan lumpur, sementara Leo menggunakan cakarnya untuk mengaduk dan mencampurkan lumpur ke dalam air beracun.
Sedikit demi sedikit, keajaiban terjadi. Air keruh mulai bereaksi terhadap lumpur detoksifikasi. Warnanya berubah dari hijau keruh menjadi abu-abu, lalu berangsur-angsur menjadi bening. Proses itu memakan waktu berjam-jam.
Saat matahari mulai terbenam, air di sekitar pipa kembali jernih. Bau busuk menghilang, digantikan oleh aroma tanah basah dan mineral. Misi Air Jernih berhasil diselesaikan.
Lelah tapi puas, trio itu berjalan menyusuri tepi sungai yang kini bersih menuju hulu, di mana Pohon Kehidupan menjulang, memancarkan cahaya biru lembut sebagai tanda terima kasih alam. Mereka telah membuktikan nilai mereka.
"Quest selesai," kata Leo, menjilat lumpur yang menempel di cakarnya.
"Sekarang saatnya upgrade kemampuan!" dengung Bumble gembira. "Aku tidak sabar untuk jadi lebih kuat!"
Di belakang mereka, di kamp manusia, Pak Budi dan timnya bingung melihat air sungai yang tadinya keruh tiba-tiba menjadi jernih kembali. Mereka mengira itu keajaiban alam biasa, atau mungkin kerusakan pipa mereka sudah selesai memperbaiki diri. Mereka tidak tahu bahwa trio monster di hutan itu baru saja mendapatkan kekuatan baru yang akan membuat rencana Tuan Arsitek menjadi jauh lebih sulit.
