Keesokan paginya, suasana desa pedalaman itu terasa begitu hidup. Anak-anak berlarian riang di halaman rumah betang, bermain kejar-kejaran dan petak umpet. Lev yang baru saja selesai shalat Subuh dan menikmati teh hangat buatan kepala desa, melihat pemandangan itu dengan senyum. Ia mengeluarkan kameranya, ingin mengabadikan keceriaan mereka.
"Anak-anak ini begitu polos dan bahagia, Faruq," bisik Lev kepada Faruq yang sedang memeriksa peta.
"Tentu saja, Lev. Mereka tumbuh di lingkungan yang alami dan penuh kasih sayang," jawab Faruq, tanpa mengalihkan pandangannya dari peta.
Lev mulai memotret. Ia memotret anak-anak yang tertawa, yang berlarian, dan yang bermain. Ia merasa terinspirasi, ia ingin menangkap setiap detailnya, setiap makna yang tersembunyi di balik keceriaan mereka.
Saat ia sedang asyik memotret, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun datang menghampirinya. Anak itu terlihat malu-malu, dengan wajah yang bersih dan senyum yang tulus.
"Assalamualaikum, mas," sapa anak itu.
"Waalaikumsalam, dek," jawab Lev, sambil tersenyum.
"Boleh saya lihat kameranya, mas?" tanya anak itu.
Lev memberikan kameranya. Anak itu terlihat begitu antusias. Ia memegang kamera itu dengan hati-hati, seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
"Ini kamera canggih, ya, mas? Mahal, ya?" tanya anak itu.
"Tidak terlalu, dek. Ini kamera biasa," jawab Lev.
"Saya juga mau jadi fotografer, mas. Saya mau foto pemandangan di sini," kata anak itu, dengan nada penuh harap.
Lev tersenyum. Ia mengajari anak itu cara memegang kamera, cara mengatur fokus, dan cara mengambil foto. Anak itu terlihat begitu cepat belajar. Ia mengambil beberapa foto, dan hasilnya... lumayan bagus.
Setelah puas bermain dengan kamera, anak itu mengembalikan kamera itu kepada Lev. "Terima kasih, mas. Nanti, kalau saya sudah besar, saya akan beli kamera sendiri."
Lev tersentuh. "Tentu, dek. Kamu pasti bisa."
Anak itu berlari kembali ke teman-temannya. Lev kembali memotret. Namun, kali ini, ia tidak lagi hanya memotret anak-anak, tapi juga memotret anak-anak yang sedang berinteraksi dengan orang dewasa, yang sedang belajar mengaji, dan yang sedang membantu orang tuanya. Ia merasa senang, ia mendapatkan banyak foto yang bagus.
Saat matahari mulai meninggi, Lev dan Faruq bersiap untuk meninggalkan desa itu. Mereka berpamitan dengan kepala desa dan para warga.
"Terima kasih, pak. Kami sudah banyak belajar di sini," kata Lev.
"Sama-sama, nak. Semoga perjalanan kalian lancar," kata kepala desa.
Saat mereka sedang berjalan menuju perahu, Lev melihat anak-anak yang tadi ia foto, datang menghampirinya.
"Mas Lev! Mas Lev!" panggil mereka.
Lev berhenti. "Ada apa, dek?"
Anak-anak itu memberikan sebuah bingkisan kepada Lev. "Ini untuk mas Lev. Sebagai kenang-kenangan."
Lev membuka bingkisan itu, dan di dalamnya, terdapat sebuah bingkai foto sederhana yang terbuat dari kayu, dengan foto Lev dan Faruq yang sedang duduk di teras rumah betang. Foto itu adalah hasil jepretan dari kamera anak itu sendiri.
Lev merasa terharu. Ia memeluk anak-anak itu satu per satu. "Terima kasih, dek. Ini hadiah terbaik yang pernah saya dapat."
Anak-anak itu tersenyum. Mereka melambaikan tangan, saat Lev dan Faruq naik ke perahu.
"Lev, kamu tahu? Anak-anak ini mengingatkan aku pada masa kecilku," kata Faruq.
"Itu artinya, kamu pernah sebahagia mereka," jawab Lev.
Mereka melanjutkan perjalanan. Lev melihat bingkai foto yang diberikan anak-anak itu. Ia merasa bahagia, ia merasa menjadi bagian dari desa ini. Ia tahu, perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
