Bab 8: Imam Muda Terkejut

Bab 8: Imam Muda Terkejut

Lev
0

Keluarga Al-Fassi menjalankan ibadah salat Magrib mereka secara berjamaah di rumah malam itu. Zayn merasa sudah waktunya mereka mengundang Imam muda dari masjid lokal, Ustaz Idris, untuk makan malam dan mempererat silaturahmi. Ustaz Idris dikenal karena kesederhanaan dan kedalaman ilmunya.

"Umi, pastikan hidangannya tetap standar kita, tapi jangan terlalu berlebihan sampai membuat Ustaz Idris tidak nyaman," pesan Zayn kepada Laila, yang sedang sibuk mengawasi persiapan di dapur.

"Ya, Abi, aku sudah siapkan tajine ayam lemon yang klasik dan pastilla ikan yang lezat. Piringnya pakai yang Hermès Mosaique saja, bukan Versace yang agak 'ramai'," jawab Laila, membuat keputusan diplomatik dalam penataan meja.

Pukul 8 malam, Ustaz Idris tiba. Dia seorang pria muda berusia 30-an, dengan jenggot rapi, mengenakan jubah putih sederhana dan kopiah Maroko tradisional. Dia disambut hangat oleh keluarga Al-Fassi di pintu masuk.

"Assalamualaikum, Ustaz Idris. Ahlan wa sahlan (Selamat datang) di rumah kami," sapa Zayn sambil menjabat tangan sang Ustaz.

"Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Tuan Zayn. Jazakallah khairan atas undangannya," balas Ustaz Idris dengan senyum tulus.

Saat masuk ke ruang tamu utama, Ustaz Idris harus menahan napasnya. Meskipun sudah sering mengunjungi rumah-rumah orang kaya di Casablanca, kemewahan di vila Al-Fassi berada di level yang berbeda.

Lampu gantung kristal Baccarat di ruang tamu memancarkan cahaya hangat yang membuat marmer Carrara di lantai bersinar. Sofa-sofa Roche Bobois yang mewah dan lembut mengundang untuk diduduki. Di dinding tergantung kaligrafi Arab kontemporer yang dibuat khusus, berbingkai emas putih.
"Masya Allah, rumah Tuan Zayn sangat indah dan megah," puji Ustaz Idris sopan, mencoba menyembunyikan keterkejutannya.

"Ini semua titipan dari Allah SWT, Ustaz. Kami hanya menikmatinya sambil berusaha menjaganya," jawab Zayn merendah.

Mereka duduk di ruang tamu, dan Laila menyajikan teh mint dalam teko perak antik yang elegan. Ustaz Idris memperhatikan gelas teh kristal di tangannya, yang berkilau di bawah cahaya Baccarat.

Anak-anak Al-Fassi—Amira, Tariq, dan Sofia—juga ikut bergabung, mengenakan pakaian santai yang tetap branded. Tariq masih memakai hoodie Off-White, dan Sofia dengan gaun kasual Gucci Kids.

Selama makan malam, perbincangan mengalir lancar. Mereka membahas perkembangan masjid, kegiatan amal di masyarakat, dan tantangan yang dihadapi generasi muda Muslim di era modern. Zayn dan Laila mengajukan banyak pertanyaan tentang fikih (hukum Islam) terkait dengan kekayaan dan materialisme.

"Ustaz, bagaimana pandangan Islam tentang menikmati rezeki yang melimpah seperti ini? Apakah kami termasuk israf (berlebihan)?" tanya Laila terus terang, sedikit khawatir.

Ustaz Idris tersenyum bijak. "Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya atau menikmati keindahan dunia, Bu Laila. Allah itu indah dan menyukai keindahan. Yang dilarang adalah israf yang mengarah pada kesombongan, melupakan orang lain, dan melupakan kewajiban kita kepada Allah."

Dia melanjutkan, "Selama kekayaan itu diperoleh secara halal, dan kewajiban zakat serta sedekah ditunaikan, maka itu adalah nikmat yang harus disyukuri. Memiliki mobil Rolls-Royce atau tas Hermès bukan dosa, asalkan hati kita tidak terikat pada benda-benda itu, dan kita tetap rendah hati."

Kata-kata Ustaz Idris menenangkan hati Zayn dan Laila. Mereka merasa lega karena filosofi hidup mereka sejalan dengan ajaran agama, asalkan niatnya benar.

Setelah makan malam selesai dan hidangan porselen Hermès dikumpulkan, Zayn mengantar Ustaz Idris pulang. Di garasi, Ustaz Idris kembali terkejut melihat koleksi mobil mewah yang rapi berjejer.

"Masya Allah, koleksi yang luar biasa, Tuan Zayn," ujarnya, matanya tertuju pada Lamborghini Aventador.

"Ini hobi saya, Ustaz," kata Zayn sambil tertawa.

Ustaz Idris pamit dengan hati yang penuh rasa syukur atas keramahan keluarga Al-Fassi. Di mata Ustaz Idris, keluarga ini mungkin hidup dalam kemewahan yang luar biasa, tetapi hati mereka tetap terhubung dengan agama dan masyarakat. Mereka adalah bukti hidup bahwa iman dan kekayaan bisa berjalan beriringan, meskipun dengan sentuhan komedi khas Al-Fassi dalam memilih prioritas "standar" mereka.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default