Bab 6: Ketika Tubuh Mulai Berkhianat

Bab 6: Ketika Tubuh Mulai Berkhianat

Lev
0
Sebuah novel Islami paling sedih tentang Elena, mualaf asal Sofia, Bulgaria, yang mempertanyakan arti keberadaannya di mata Allah dan manusia. Kisah haru tentang kesepian, iman, dan kematian.



Januari 2026 terasa seperti monster yang ingin menelan Sofia dalam kebekuan. Di dalam apartemen nomor 4B, Elena terbangun dengan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan lagi sekadar tusukan, melainkan rasa panas yang menjalar dari perut hingga ke dadanya, seolah-olah ada api yang sedang melahap organ tubuhnya dari dalam.

Ia mencoba bangkit untuk mengambil air wudu, namun kakinya seakan berubah menjadi jeli. Elena terjatuh di samping tempat tidurnya. Napasnya tersengal, pendek dan berat. Ia menatap tangannya yang kini hanya tulang berbalut kulit pucat dengan urat-urat biru yang menonjol.

"Kenapa sekarang, ya Allah?" bisiknya tertahan. "Aku bahkan belum sempat memperbaiki bacaan surat Al-Mulk-ku..."

Tubuhnya, yang selama dua puluh enam tahun ini menemaninya mendaki gunung-gunung di Bulgaria dan merancang gedung-gedung indah, kini berkhianat. Sel-sel di dalamnya melakukan pemberontakan yang tak bisa ia redam dengan doa sekalipun. Ia merasa dikhianati oleh dirinya sendiri.

Dengan sisa tenaga, Elena menyeret tubuhnya di atas lantai kayu yang dingin menuju dapur. Ia butuh obat pereda nyeri itu. Setiap inci pergeseran tubuhnya terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit. Di tengah perjalanan, ia berhenti di depan cermin besar di lorong—cermin yang dulu sering ia gunakan untuk mematut diri dengan gaun-gaun cantik sebelum pergi ke pesta.

Kini, sosok di cermin itu adalah orang asing. Matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam, bibirnya pecah-pecah dan berdarah, serta rambut pirangnya yang mulai rontok di sana-sini. Ia menyentuh wajahnya sendiri di cermin.

“Siapa kau?” tanyanya dalam hati. “Jika dunia melihatmu sekarang, mereka tidak akan mengejek hijabmu lagi. Mereka akan memalingkan wajah karena muak melihat kerapuhanmu.”

Pikiran jahat mulai merayap. Ia membayangkan jika ia mati di lantai ini, tubuhnya akan membusuk perlahan. Tidak ada suami yang akan memandikannya, tidak ada ibu yang akan menyisir rambutnya untuk terakhir kali, dan tidak ada teman yang akan membungkusnya dengan kain kafan putih yang bersih. Ia akan menjadi "sampah medis" yang diangkut oleh petugas negara dengan sarung tangan karet dan masker, tanpa rasa hormat sedikit pun.

Namun, di tengah keputusasaan itu, secercah memori tentang pengajian daring yang pernah ia ikuti muncul. Sang guru berkata: "Sakitnya seorang mukmin adalah pembersih dosa. Bahkan duri yang menusuk kaki pun ada pahalanya."

Elena memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya. "Jika ini adalah caramu menyucikan aku sebelum pulang, maka aku rida," rintihnya.

Ia akhirnya berhasil mencapai lemari dapur. Dengan tangan gemetar, ia menelan butiran pil tanpa air. Ia bersandar di bawah meja dapur, memeluk lututnya yang gemetar. Di sana, di atas lantai dapur yang dingin, ia menyadari satu hal yang luar biasa: ia tidak lagi takut pada kematian itu sendiri. Ia hanya takut jika kematiannya tidak membawa makna apa pun bagi hubungannya dengan Pencipta.

Ia mengambil secarik kertas dan pena yang tergeletak di rak bawah. Dengan tulisan yang cakar ayam karena tangan yang bergetar hebat, ia menulis satu kalimat untuk bab selanjutnya di buku hariannya:

"Hari ini tubuhku menyerah, tapi jiwaku baru saja mulai belajar cara untuk terbang."

Dunia di luar sana masih sibuk dengan berita politik dan peluncuran teknologi terbaru 2026. Sofia tetap angkuh dengan gedung-gedung betonnya. Tak ada yang peduli bahwa di sebuah dapur sempit, seorang wanita asing sedang memenangkan peperangan terbesar dalam hidupnya: peperangan melawan rasa keberartian diri.

Navigasi & Informasi untuk Pembaca:

Bab ini menggambarkan realitas pahit penderitaan fisik dan isolasi pasien terminal. Bagi Anda yang ingin mendalami tentang perawatan pasien di akhir hayat dalam Islam, Anda dapat mengunjungi Islamic Medical Association of North America (IMANA).

Simak kelanjutannya di Bab 7: Surat Cinta untuk Tuhan yang Tak Pernah Kulihat, di mana Elena menuangkan seluruh sisa cintanya dalam tulisan sebelum tangannya tak lagi mampu menggenggam pena. Untuk dukungan bagi mereka yang menghadapi penyakit kronis, silakan kunjungi Hospice Foundation of America.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default