Bab 5: Lorong Putih dan Aroma Obat

Bab 5: Lorong Putih dan Aroma Obat

Lev
0
Listen Before I Go menceritakan puisi-puisi puncak keikhlasan Lev Ryley melepas Vania Larasati di Banjarbaru. 

Ada aroma tertentu yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh hidung manusia, sekeras apa pun mereka mencoba. Bagi Lev Ryley, aroma itu adalah campuran antara cairan antiseptik, bau besi dari ranjang rumah sakit, dan kesunyian yang mencekam. Hari ini, tepat setahun lewat beberapa hari setelah kematian Vania, Lev berdiri di depan pintu kaca otomatis RSUD Idaman Banjarbaru.

Langkahnya tertahan di ambang pintu. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah setiap detaknya mencoba memperingatkan otaknya: Jangan masuk, di sini tempat harapanmu mati.

Namun, Lev mengingat pesan-pesan yang masuk ke blognya. Ia mengingat pelayan kafe kemarin. Ia tahu bahwa "Listen Before I Go" tidak akan lengkap jika ia hanya menulis dari balik kenyamanan meja kamarnya. Ia harus menghadapi trauma itu. Ia harus mendengar suara-suara dari mereka yang masih berjuang di dalam sana.

Lev melangkah masuk. Setiap langkahnya di atas lantai porselen putih yang mengkilap terasa seperti dentuman di telinganya. Ia berjalan menuju sayap Onkologi, tempat yang dulu menjadi "rumah" kedua baginya dan Vania selama berbulan-bulan.

Ia melewati kamar 313. Langkahnya berhenti mendadak. Itu adalah kamar Vania. Di sana, setahun lalu, ia melihat Vania Larasati—gadis tercantik di matanya—terbujur kaku dengan selimut putih menutupi wajahnya di usia yang baru 20 tahun. Lev memejamkan mata, memegang dinding untuk menjaga keseimbangan. Bayangan Vania yang tersenyum saat menahan mual akibat kemo seolah muncul di hadapannya.
"Sedang apa di sini, Nak?" suara lembut seorang perawat senior memecah lamunannya.

Lev menoleh. "Suster Sarah?"

Suster Sarah tertegun, lalu matanya melembut. "Lev Ryley? Kamu... kamu kembali ke sini?"

"Saya ingin memberikan sesuatu, Sus," jawab Lev sambil mengeluarkan beberapa tumpukan kertas naskah puisinya yang telah ia cetak dengan rapi. "Saya menulis tentang Vania. Saya ingin naskah ini ada di ruang tunggu pasien. Mungkin... mungkin ini bisa memberi mereka sedikit kekuatan."

Suster Sarah menerima naskah itu dengan tangan bergetar. Ia tahu betul bagaimana Lev mencintai Vania. Ia saksi bisu bagaimana pemuda ini tidak pernah absen menjaga Vania, membacakan Al-Qur'an di telinganya hingga nafas terakhir gadis itu.

Lev kemudian duduk di ruang tunggu, mengambil pulpennya, dan mulai menulis bab kelima dari rangkaian puisinya. Di tengah hiruk-pikuk suara monitor jantung yang terdengar dari kejauhan, ia melahirkan baris-baris yang paling jujur.

Puisi: Listen Before I Go (Bagian V – Di Lorong Antara Hidup dan Mati)

Dengarkanlah, sebelum aku melangkah keluar dari lorong putih ini,
Di mana dinding-dindingnya telah merekam ribuan jeritan dan doa yang tak terucap.

Vania, aku kembali ke tempat di mana aku pernah membenci takdir,
Namun kini aku sadar, di sini pulalah Allah menunjukkan kasih-Nya yang paling getir.

Listen before I go...

Dengarlah suara nafas yang tersengal di balik masker oksigen,
Setiap detiknya adalah tasbih yang lebih berat dari gunung Uhud.

Jangan kau tanyakan mengapa penyakit ini memilihmu,
Tapi tanyakanlah, sudahkah hatimu siap saat Dia memanggilmu pulang?

Dengarlah, wahai dunia yang sibuk dengan urusan fana,
Di rumah sakit ini, kasta dan harta tak lagi punya makna.

Hanya iman yang tersisa saat raga mulai menyerah pada kanker,
Dan aku di sini, menuliskan bahwa cinta sejati tidak akan pernah luntur.

Lev mengakhiri tulisannya dengan tangan yang kini tak lagi gemetar. Ia menyadari satu hal besar: Vania memang pergi di usia 20 tahun, namun kehadirannya di rumah sakit ini tetap terasa melalui kata-kata yang ia tinggalkan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default