Tahun 2013 – Sebuah Gang di Jalan Hasan Basry
Bagi Muhammad Hifni, Irvan, Nazib, Khairi, dan Amin, bangunan kayu dua lantai itu bukan sekadar tempat berteduh. "Kos Nomor 13" telah menjadi saksi bisu bagaimana lima kepala dari latar belakang berbeda mencoba menyatukan ego di tengah himpitan ekonomi mahasiswa rantau. Dinamika slice of life yang sesungguhnya tidak terjadi di ruang kelas, melainkan di ruang tengah kos yang beralaskan tikar purun dan beraroma campuran antara parfum murah, buku tua, dan bau kaos kaki yang lupa dicuci.
Tahun 2013 adalah masa di mana uang seratus ribu rupiah terasa sangat berharga bagi mereka. Jika kiriman dari kampung terlambat datang—yang biasanya disebabkan oleh harga karet yang anjlok di Barabai atau hasil panen yang menurun di Amuntai—maka "Prosedur Darurat Kos Nomor 13" pun diberlakukan.
"Hif, ini tanggal 25. Kondisi dompetku sudah mencapai tahap kritis, sudah masuk mode hibernation," keluh Nazib sambil mengguncang-guncang celengan ayamnya yang hanya berbunyi koin lima ratusan.
Hifni, sebagai ketua kos yang tidak resmi, segera mengumpulkan sahabat-sahabatnya. "Oke, semuanya kumpulkan sisa uang yang ada. Kita beli beras satu karung kecil dan telur satu rak. Amin, bagaimana stok sayur di 'laboratorium' terasmu?"
Amin mengangguk mantap. "Sawi dan cabai sudah bisa dipetik. Cukup untuk menambah gizi mie instan kita selama seminggu ke depan."
Di sinilah unsur komedi dan solidaritas mereka menyatu. Malam itu, mereka memasak bersama di dapur kecil yang terletak di bagian belakang kos. Asap mengepul, diiringi suara tawa saat Khairi mencoba membalik telur dadar namun malah mendarat di lantai.
"Aduh, Khairi! Itu telur satu-satunya harapan kita malam ini!" teriak Irvan sambil tertawa, sementara Khairi hanya bisa menggaruk kepala yang tidak gatal. Akhirnya, telur "setengah lantai" itu pun tetap mereka sikat habis setelah dibersihkan bagian atasnya, diiringi doa syukur yang dipimpin oleh Irvan.
Kehidupan masyarakat di sekitar kos juga memberi warna tersendiri. Sebagai anak kos yang sopan, mereka sering dimintai tolong oleh Ibu Kos, seorang janda tua yang mereka panggil Acil Siti. Kadang Nazib diminta memperbaiki TV yang gambarnya kesemutan, atau Irvan diminta mengisi kultum singkat di mushola gang saat imam tetap sedang berhalangan. Imbalannya tidak mewah—biasanya sepiring gorengan atau wadai bingka hangat—namun bagi mereka, itu adalah kemewahan yang tak ternilai.
"Hidup di Banjarmasin ini keras kalau kita sendirian," ujar Hifni saat mereka duduk di balkon lantai dua, menatap lampu-lampu jalan Kayu Tangi yang mulai meredup. "Tapi karena ada kalian, rasa hambar mie instan pun jadi terasa seperti makan di restoran hotel."
Namun, tidak selamanya hubungan mereka mulus. Ada kalanya ketegangan muncul, seperti saat Amin tidak sengaja menyiram kabel komputer Nazib hingga konslet, atau saat Khairi merasa terganggu dengan suara latihan pidato Hifni yang terlalu lantang di malam hari. Namun, nilai-nilai Islami yang mereka pegang selalu menjadi penengah. Irvan tak pernah bosan mengingatkan tentang keutamaan menjaga ukhuwah.
"Jangan sampai gara-gara masalah sepele, silaturahmi kita putus. Ingat, kita di sini senasib sepenanggungan," pesan Irvan yang selalu berhasil mendinginkan suasana.
Bab ini menutup malam dengan adegan mereka berlima yang tertidur berjejer di ruang tengah karena kamar mereka terasa sangat panas akibat mati lampu—hal yang lumrah terjadi di Banjarmasin tahun 2013. Di tengah kegelapan dan gigitan nyamuk, mereka tetap bermimpi besar. Mereka sadar, kemiskinan mahasiswa hanyalah fase sementara, namun persahabatan yang mereka bangun di Kos Nomor 13 adalah investasi selamanya.
Lanjut ke Bab 8: Kuliner Akhir Bulan – Komedi Perjuangan Makan Mie Instan Bersama
