BAB 7: Puisi Cinta atau Skripsi? Galau Fatimah di Tepi Sungai Martapura

BAB 7: Puisi Cinta atau Skripsi? Galau Fatimah di Tepi Sungai Martapura

Lev
0
Ikuti kisah inspiratif, lucu, dan penuh makna 5 mahasiswi perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga nilai-nilai Islami dalam balutan budaya Banjar.

Sore itu, langit Banjarmasin berwarna jingga keunguan, memantul indah di permukaan Sungai Martapura yang tenang. Fatimah duduk bersila di siring jalan Jenderal Sudirman, tepat di depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Di pangkuannya terdapat sebuah buku catatan bersampul cokelat dan sebuah ponsel Nokia slide yang layarnya mulai baret.

Sebagai mahasiswi jurusan Bahasa Indonesia, Fatimah adalah "pabrik kata-kata" di Kamar Nomor 5. Namun hari ini, pabrik itu sedang mogok produksi. Ia sedang mengalami krisis identitas yang sering menyerang mahasiswa baru: Untuk apa aku belajar sastra jika masa depan terlihat begitu puitis namun tidak realistis?

"Menulis puisi tidak akan membuatku bisa membelikan Mama mesin cuci baru," keluhnya pelan sambil mencoret-coret kertasnya.

Debat Senja di Pinggir Sungai

Lamunan Fatimah pecah ketika empat sahabatnya datang menyusul. Mereka baru saja menyelesaikan kelas sore dan tahu betul di mana menemukan Fatimah jika ia sedang "menghilang".

"Sudah kuduga, kamu pasti sedang berdialog dengan air," celetuk Rina Rufida sambil duduk di samping Fatimah. Rina membawa kantong plastik berisi pentol kuah pedas yang aromanya menusuk hidung.

"Rin, menurutmu... apakah menjadi puitis itu sebuah kesalahan di dunia yang serba logis ini?" tanya Fatimah tiba-tiba.

Eva, si anak IT yang hidupnya penuh dengan angka 0 dan 1, menjawab sambil mengunyah pentol. "Logis itu perlu, Fat. Tapi tanpa rasa, hidup itu cuma seperti coding yang tidak punya interface. Membosankan. Kenapa tiba-tiba galau? Gara-gara status Facebook kakak tingkat ya?"

Fatimah menghela napas. "Tadi di kampus ada diskusi tentang prospek kerja. Banyak yang bilang lulusan Bahasa Indonesia paling-paling jadi guru honorer atau penulis yang bukunya cuma dipajang di gudang. Aku jadi takut, apakah pilihanku ini salah?"

Pelajaran dari Sungai Martapura

Abdalia Ulfah, yang paling dewasa secara emosional, menunjuk ke arah kelotok (perahu mesin khas Banjar) yang sedang melintas membelah sungai.

"Lihat kelotok itu, Fat. Dia lambat, suaranya bising, dan bentuknya tidak semewah kapal pesiar. Tapi tanpa dia, urang Banjar kehilangan nadinya. Dia membawa sayur, membawa manusia, membawa harapan dari hulu ke hilir," ujar Abdalia tenang.

"Maksudmu?" tanya Fatimah.

"Maksudku, setiap ilmu itu ada manfaatnya selama kamu menggunakannya untuk kebaikan," lanjut Abdalia. "Bahasa Indonesia bukan cuma soal puisi cinta monyet. Kamu bisa jadi guru yang menginspirasi, penulis yang mencerahkan umat, atau editor yang menjaga kebenaran informasi. Di mata Allah, bukan profesinya yang dilihat, tapi seberapa banyak manfaat yang kamu tebar dengan ilmumu."

Dina Selvina, yang sejak tadi sibuk membersihkan sisa saos di jarinya, ikut menimpali. "Iya, Fat! Lagipula, kalau tidak ada orang sepertimu, siapa yang bakal menuliskan kisah perjuangan kita berlima nanti? Siapa yang bakal bikin caption Instagram yang keren kalau nanti kita sudah punya HP Android?"

(Tahun 2013, Instagram baru saja mulai populer di kalangan pengguna Android, dan mereka berlima masih bermimpi memiliki ponsel yang bisa mengunggah foto dengan filter estetik).

Menemukan Cahaya dalam Kata-kata

Mendengar dukungan para sahabatnya, beban di pundak Fatimah terasa luruh. Ia menyadari bahwa kegalauannya adalah bisikan ketidakpastian yang tidak seharusnya ia pelihara. Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban, dan Allah telah menjamin rezeki setiap hamba-Nya yang bergerak.

Fatimah mengambil pulpennya kembali. Ia mulai menuliskan sesuatu di bukunya. Bukan puisi galau, melainkan sebuah tekad.

"Banjarmasin, 2013. Aku tidak akan membiarkan kata-kataku mati di ujung pena. Aku akan menuliskan kebenaran, mengajar dengan hati, dan membuktikan bahwa bahasa adalah jembatan menuju surga."

"Nah, begitu dong! Itu baru Fatimah-nya Kamar Nomor 5!" seru Rina sambil merangkul pundaknya.

Senja itu ditutup dengan mereka berlima berjalan kaki menuju Masjid Raya Sabilal Muhtadin untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah. Di bawah kubah besar masjid kebanggaan warga Kalimantan Selatan itu, Fatimah bersujud syukur. Ia sadar, di perantauan ini, ia tidak hanya belajar tentang subjek, predikat, dan objek, tapi juga tentang belajar mencintai ketetapan Allah melalui persahabatan yang tulus.

Insight untuk Pembaca  (Edisi 2026):

Masjid Raya Sabilal Muhtadin: Salah satu landmark paling ikonik di Banjarmasin yang terletak di jantung kota. Sejarah Masjid Sabilal Muhtadin.

Siring Martapura: Tempat nongkrong paling populer tahun 2013 yang kini di tahun 2026 telah menjadi pusat wisata sungai yang sangat modern.

Pesan Moral: Jangan meragukan jurusan kuliah yang Anda pilih. Setiap ilmu memiliki jalannya sendiri untuk bermanfaat bagi umat selama dijalani dengan niat yang benar (Lillahi Ta'ala).

Lanjut ke Bab 8: Pasar Terapung Muara Kuin: Wisata Subuh 5 Sahabat (Petualangan di Atas Air)...

Bagaimana keseruan mereka saat harus bangun pukul 4 subuh demi mengejar pasar terapung yang legendaris? Tetap ikuti kisahnya!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default