Pagi itu, Cindy sudah siap dengan coat tebalnya. Ia melihat Lev masih mengenakan jaket yang sama seperti saat mereka tiba, dan tersenyum. "Ayo, Lev. Kita tidak akan kedinginan hari ini. Aku punya rencana bagus."
"Rencana apa?" tanya Lev, sambil menyeruput kopi yang dibuatkan Cindy.
"Wisata budaya, dari Masjid sampai Kastil," jawab Cindy, matanya berbinar. "Dresden punya banyak sekali tempat menarik. Dan aku tahu kamu butuh sesuatu yang bisa membuatmu merasa nyaman."
Destinasi pertama mereka adalah Masjid Fatih, salah satu masjid di Dresden yang menjadi pusat kegiatan komunitas muslim di sana. Lev merasa sedikit canggung saat memasuki masjid itu. Sudah lama ia tidak ke masjid, apalagi di tempat yang begitu jauh dari rumah. Namun, begitu ia melangkah masuk, ia langsung merasa tenang. Aroma wewangian dan kesyahduan suasana membuat hatinya berdesir.
Cindy menuntun Lev ke arah jamaah yang sedang duduk-duduk. "Assalamu'alaikum," sapa Cindy, dengan ramah.
Seorang wanita paruh baya berhijab membalas sapaan itu dengan senyum. "Wa'alaikumussalam. Oh, kamu Cindy, ya? Sudah lama tidak ke sini."
Cindy memperkenalkan Lev sebagai sepupunya dari Indonesia. Wanita itu, yang ternyata bernama Ibu Sarah, menyambut Lev dengan hangat. "Selamat datang di Dresden, Nak. Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan-sungkan. Kami di sini seperti keluarga."
Lev merasa terharu. Di tengah kota yang asing, ia menemukan kehangatan seperti di rumah. Ia berinteraksi dengan beberapa anggota komunitas muslim di sana, dan merasa nyaman. Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia, berbagi cerita, dan saling mengenal. Cindy tersenyum melihat Lev yang kembali terbuka.
Setelah dari masjid, mereka melanjutkan perjalanan ke Zwinger, sebuah kastil megah dengan arsitektur Baroque yang indah. Lev langsung terpana. Ini adalah tempat yang Vania impikan untuk dikunjungi. Cindy mengajak Lev berkeliling, menceritakan sejarah Zwinger dengan detail.
"Vania pasti suka di sini," bisik Lev, matanya menerawang.
"Dia pasti suka," jawab Cindy. "Sekarang, kamu bisa menceritakan padanya betapa indahnya tempat ini."
Mereka berjalan-jalan di sekitar kastil, melihat taman yang terawat rapi, kolam air mancur, dan patung-patung yang megah. Mereka berfoto bersama, dengan latar belakang kastil yang indah. Lev terlihat lebih ceria, bahkan beberapa kali tertawa saat Cindy mencoba berpose konyol.
Di tengah perjalanan, Cindy melihat ada sebuah pertunjukan kecil di halaman kastil. Ada seorang pria yang memainkan musik dengan biola. Cindy langsung menarik Lev mendekat. "Ayo kita lihat! Aku suka musik biola."
Mereka berdiri di antara kerumunan, mendengarkan musik biola yang indah. Cindy melihat ekspresi Lev yang begitu menikmati musik itu. Ia melihat ketenangan di wajahnya.
Selesai pertunjukan, Cindy mengajak Lev makan di sebuah kafe kecil di dekat kastil. Mereka duduk di teras, memesan waffle dan kopi.
"Bagaimana, Lev?" tanya Cindy, saat mereka sedang makan. "Apakah kamu merasa lebih baik?"
Lev tersenyum. "Ya, Cindy. Jauh lebih baik. Terima kasih."
Cindy menggenggam tangan Lev. "Sama-sama. Ini baru awal, Lev. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan. Kita akan keliling kota, mengunjungi tempat-tempat yang Vania impikan. Dan kamu akan tahu, bahwa meskipun Vania tidak ada, keindahan itu tetap ada di sekitarmu."
Lev menatap Cindy, matanya penuh dengan rasa terima kasih. Ia tahu, perjalanan ini bukan hanya tentang melihat Dresden, tapi juga tentang menemukan kembali dirinya. Dan ia sangat bersyukur, ia memiliki Cindy, seorang sepupu yang konyol tapi penuh kasih, yang membantunya dalam perjalanan itu.
Ein Herz in Dresden, Doctor Cindy, Dresden
