Bab 13: Salju Pertama dan Pelajaran Sederhana

Bab 13: Salju Pertama dan Pelajaran Sederhana

Lev
0

Pagi itu, Lev terbangun karena cahaya putih yang memantul dari jendela. Ia menggosok matanya, masih setengah sadar. Ketika ia melihat keluar jendela, ia terkejut. Salju pertama turun di Stockholm. Butiran-butiran putih kecil menutupi jalanan, pepohonan, dan atap-atap rumah. Semuanya terlihat seperti terbungkus selimut kapas yang tebal dan lembut.
Lev merasakan kegembiraan yang aneh. Di Banjarmasin, ia hanya pernah melihat hujan, tidak pernah salju. Ini adalah pertama kalinya ia melihat salju, dan ia merasa seperti seorang anak kecil yang mendapatkan hadiah. Ia mengambil ponselnya, dan memotret pemandangan itu. Ia ingin mengirimkannya kepada Rifqi, untuk menunjukkan betapa indahnya dunia di luar Banjarmasin.

Ia mengirim pesan kepada Anatasya: "Anatasya, di luar ada salju!"

Beberapa saat kemudian, Anatasya membalas: "Tentu saja, Lev! Ini musim dingin! Cepat pakai baju hangatmu, aku akan menjemputmu. Kita akan membuat malaikat salju!"

Lev tertawa. Membuat malaikat salju? Ia tidak pernah melakukannya. Ia merasa antusias. Ia memakai baju hangatnya, mantel tebal, syal, dan sarung tangan. Ia mengambil ponselnya, dan keluar dari apartemennya.
Di luar, Anatasya sudah menunggunya dengan senyum lebar. Ia memakai mantel tebal berwarna merah, yang kontras dengan salju putih.

"Sudah siap, Lev?" tanya Anatasya.

"Aku... tidak tahu harus bagaimana," jawab Lev.

"Tidak apa-apa, aku akan mengajarimu," kata Anatasya.
 "Pertama, kamu harus berbaring di salju."

Lev ragu sejenak, tapi ia akhirnya mengikuti Anatasya. Ia berbaring di salju yang lembut dan dingin.

"Sekarang, gerakkan tanganmu ke atas dan ke bawah, seperti membuat sayap," Anatasya memberikan instruksi. "Dan kakimu ke samping, seperti membuat ekor."

Lev melakukan apa yang dikatakan Anatasya. Setelah beberapa saat, ia bangkit. Ia melihat jejak yang ia tinggalkan di salju. Bentuknya seperti malaikat, dengan sayap dan ekor.

"Wow!" kata Lev. "Ini... indah sekali."

Anatasya tertawa. "Ini hanya malaikat salju, Lev. Masih banyak hal indah yang bisa kamu lihat di sini."

Mereka berdua berjalan di salju, tertawa, dan bermain. Mereka membuat bola salju, dan melemparnya satu sama lain. Lev merasa seperti kembali menjadi anak kecil. Ia merasa bahagia, bahagia yang sudah lama tidak ia rasakan.
Di tengah permainan, Anatasya tiba-tiba berhenti. Ia menunjuk ke sebuah bangku yang tertutup salju. "Kita duduk di sana, Lev. Aku ingin bercerita."

Mereka duduk di bangku, dan Anatasya mulai bercerita. "Dulu, saat aku masih kecil, aku selalu membuat malaikat salju bersama ayahku. Ayahku selalu bilang, malaikat salju itu seperti hidup kita. Tidak akan ada dua malaikat salju yang sama. Setiap malaikat salju itu unik, dan memiliki keindahannya sendiri."

Lev mendengarkan dengan saksama. "Ayahmu... di mana sekarang?"

Anatasya tersenyum. "Ayahku sudah meninggal, Lev. Dia meninggal karena sakit."

Lev terdiam. "Aku... turut berduka, Anatasya."

"Tidak apa-apa, Lev," kata Anatasya. "Ayahku selalu bilang, 'Jangan terlalu lama bersedih, karena kesedihanmu akan membuatmu buta akan keindahan yang ada di sekitarmu.' Dan aku selalu mengingat kata-kata itu."

Lev menatap Anatasya. Ia merasa kagum. Anatasya juga pernah merasakan kehilangan, sama sepertinya. Tapi, Anatasya berhasil bangkit. Anatasya berhasil menemukan kebahagiaan baru.

"Anatasya," kata Lev. "Aku... berterima kasih."

"Untuk apa, Lev?"

"Untuk pelajaran ini," jawab Lev. "Aku... akan mencoba untuk tidak terlalu lama bersedih."

Anatasya tersenyum. "Kamu pasti bisa, Lev. Aku akan selalu ada di sini untuk membantumu."

Malam itu, Lev kembali ke apartemennya. Ia melihat foto Vania, dan sebuah senyum tulus terukir di wajahnya. Ia merasa bahwa Vania tidak akan sedih melihatnya bermain salju. Vania pasti akan senang, karena ia sudah bisa tersenyum lagi. Ia merasa bahwa ia bisa bahagia lagi, tanpa melupakan Vania. Ia siap untuk melanjutkan hidup.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default