Bab 3: Surat yang Tak Pernah Dikirim

Bab 3: Surat yang Tak Pernah Dikirim

Lev
0
Mengapa Zahra ingin tertidur dan tak bangun lagi? Ikuti kisah Zahra Al-Maliha dalam novel Islami paling menyentuh tahun 2026. Berlatar di Perth, Australia, sebuah perjalanan slice of life tentang depresi, kehilangan, dan menemukan kembali cahaya Allah di ujung Swan River. Baca 15 bab lengkap di sini.



Malam di Perth selalu terasa lebih panjang ketika kenangan mulai mengetuk pintu ingatan. Zahra Al-Maliha meringkuk di bawah selimut tebalnya, namun dingin yang ia rasakan bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari masa lalu yang terus mengejarnya hingga ke benua kangguru ini.

Di atas meja belajarnya yang rapi, terletak sebuah kotak kayu kecil berisi tumpukan kertas yang mulai menguning. Itu adalah surat-surat yang ia tulis untuk ibunya selama enam bulan terakhir di Jakarta, surat yang tak pernah sampai karena sang penerima telah lebih dulu berpulang ke haribaan-Nya sebelum sempat membacanya.

Zahra memejamkan mata, dan seketika ia terseret kembali ke sebuah sore yang hujan di Jakarta setahun yang lalu.

Kala itu, ruang tamu rumah mereka terasa mencekam. Ayahnya baru saja dimakamkan dua hari sebelumnya setelah serangan jantung mendadak akibat tekanan hutang perusahaan yang pailit. Zahra melihat ibunya duduk terpekur, menatap kosong ke arah dinding. Keanggunan yang biasanya terpancar dari wajah sang ibu lenyap, digantikan oleh gurat kelelahan yang luar biasa.

"Zahra," bisik ibunya kala itu, suaranya parau. "Jangan pernah membenci takdir. Allah tahu kita kuat."

Namun Zahra tidak kuat. Ia justru menyimpan kemarahan. Ia marah pada keadaan, marah pada rekan bisnis ayahnya yang berkhianat, dan diam-diam—ia mulai mempertanyakan keadilan Tuhan. Ketika ibunya akhirnya jatuh sakit karena komplikasi dan kesedihan yang berlarut, Zahralah yang menjaga di samping tempat tidur rumah sakit setiap malam sambil mengerjakan skripsinya.

Ia ingat betul bau antiseptik yang tajam, bunyi monitor jantung yang monoton, dan bagaimana ia berjanji pada ibunya, "Bu, kalau Zahra dapat beasiswa ke Australia, Ibu harus ikut. Kita mulai hidup baru di sana. Hanya kita berdua."

Ibunya hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini Zahra sadari adalah sebuah ucapan selamat tinggal yang tersirat. Ibunya meninggal dunia hanya tiga hari setelah surat penerimaan beasiswa UWA tiba di alamat mereka.

Zahra membuka matanya kembali. Apartemennya di East Perth kembali sunyi. Kenangan itu seperti sembilu yang menyayat batinnya. Ia merasa keberhasilannya mendapatkan beasiswa ini adalah sebuah lelucon yang kejam dari takdir. Untuk apa ia berada di Perth jika alasan utamanya berjuang sudah tidak ada lagi?

Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju meja dan mengambil salah satu surat. Jemarinya gemetar saat membaca baris demi baris tulisannya sendiri:

"Ibu, hari ini aku melihat tiket pesawatku. Hanya ada satu nama di sana. Aku merasa seperti pencuri yang melarikan diri dari medan perang sendirian. Mengapa Ibu membiarkan aku pergi ke tempat sejauh ini tanpa kompas? Aku takut, Bu. Aku ingin menyusul Ibu saja..."

Zahra meremas kertas itu. Rasa bersalah (survivor's guilt) menghantamnya. Ia merasa tidak pantas menikmati udara bersih Perth atau fasilitas kampus yang mewah sementara orang tuanya beristirahat di tanah makam yang sempit di Jakarta. Ia merasa hidupnya adalah sebuah kesalahan yang harus segera diakhiri.

Ia mengambil pena, lalu mulai menulis di balik kertas surat itu—sebuah pesan baru yang lebih gelap dari sebelumnya.

"Ya Allah, jika hidup adalah sebuah ujian, maka aku mengaku kalah. Aku menyerahkan kertas jawabanku sekarang. Aku tidak ingin melihat hari esok. Aku ingin tertidur, membawa semua surat ini, dan membacakannya langsung di depan Ibu di alam sana. Izinkan aku berhenti berjuang..."

Zahra meletakkan pena itu dengan tangan yang lemas. Di luar jendela, lampu-lampu jalanan Perth mulai padam satu per satu, menyisakan kegelapan yang pekat. Ia kembali berbaring, kali ini dengan perasaan yang lebih pasrah. Baginya, setiap detik yang ia lalui untuk bernapas terasa seperti pengkhianatan terhadap kesedihan yang ia jaga dengan rapat.

Ia tidak sadar bahwa di dalam tas ranselnya yang tergeletak di lantai, sebuah brosur dari State Library of Western Australia terselip, menandai babak baru yang akan ia hadapi esok hari—jika ia memang masih diizinkan untuk bangun.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default