Pursuit of Happiness - Farewell To Sweet Memories part 1
Februari 15, 2020
Di antara milyaran manusia aku bisa menemukanmu, aku tak sengaja menatap wajahmu dan melihat senyumanmu yang begitu memikat. Satu kata dariku aku bahagia pernah di pertemukan denganmu tak ada yang lebih bahagia dari ini, menemukanmu diantara bunga-bunga yang indah dan aku hanya ingin memetik satu yaitu kamu.
Beberapa tahun yang lalu aku bertemu dengan vania ketika aku berada di pantai, saat itu aku menatap lautan dengan sendu dengan tatapan kosong yang tak berarti hingga angin mulai kencang aku bergegas kembali dan saat itulah aku berpapasan dengannya, entah kenapa saat aku melihatnya dan Vania pun juga barangkali melihatku, aku tidak bisa berhenti untuk melihatnya walau hanya sebentar saja itu seperti takdir yang memang seharusnya mempertemukan kita, semesta memang bekerja dengan sendirinya itulah yang disebut pertemuan yang ditakdirkan dan kita hanya berlalu begitu saja tanpa perkenalan.
Tiap hari aku sangat berharap untuk bisa bertemu dengannya tapi aku belum tahu apapun tentang dirinya sama sekali. Waktu seolah-olah berpihak kepadaku setelah beberapa minggu aku ingin melupakannya, namun semesta berkata lain aku kembali melihat nya di Café itu Iya di kampusku sendiri, vania memakai jilbab birunya nampak semakin menyegarkan untuk di lihat. Dan aku memberanikan diri untuk mendekat tidak ingin kehilangan nya sekali lagi aku memastikan pertemuan kedua dapat bertukar nomer dengan nya dan mengenal nya lebih dalam lagi.
Segera aku beranjak ke arahnya, dengan sedikit terburu-buru, aku akhirnya bisa berada di dekatnya. Kemudian dia berpaling mengarah kepadaku, Untuk beberapa saat kami saling diam, dia menatapku heran. Aku tiba-tiba gugup, menyadari apa saja yang baru aku lakukan, mengejarnya dan menyapa nya padahal belum tahu namanya dan dia berhenti. Kini mataku pun kembali saling bertatapan dengannya. Waktu seakan-akan ingin aku hentikan untuk bisa menatap matanya lebih lama dan dalam, ada sesuatu keindahan saat aku melihat kedalam matanya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Ucapnya memecah keheningan
"Kamu tidak ingat aku?" Aku mengenyitkan kening, merasa malu jika seandainya dia tidak benar-benar menatapku saat itu atau hanya perasaku saja seolah-olah dia melihatku di pantai itu.
"Maaf kamu siapa ya?"
"Aku Lev Ryley, panggil saja aku Lev"
"Aku vania, panggil saja vania," balasnya menyambut uluran tanganku
"Vania, tidak ada nama belakang"
"Tidak, hanya Vania"
"Iya Vania" aku kehilangan fokus karena terlalu banyak menatap nya, alisnya yang tebal tertata rapi, senyumnya yang menyenangkan hati dan matanya yang sipit
"Aku yang waktu itu di pantai, yang hampir bertabrakan denganmu."
"Yang mana ya?" Vania mencoba memproses kembali ingatannya
"Jadi kamu memang tidak ingat ya"
"Tidak" vania dengan raut wajah penasaran
"Ya mungkin cuma aku yang melihatmu waktu di pantai itu"
"Iya maaf ya, aku terburu buru dan kurang memperhatikan saat itu."
"Ya tidak masalah kok," aku memberanikan diri mengajaknya duduk-duduk sebentar, tidak enak soalnya kalo bicara sambil berdiri, aku tak akan melewatkan momen ini, dia sudah mengusik ketenanganku sejak pertama kali bertemu di pantai saat itu, kali ini aku tidak akan melepaskannya lagi.
Banyak yang kami bicarakan saat itu. Semua hal tentang harapan, mencoba untuk memahaminya dan ternyata vania adalah lawan pas untuk berdebat tentang rumitnya kehidupan dan aku menemukan satu hal yang lebih dari kata selain indah untuk aku bilang, Vania adalah takdirku yang Tuhan kirimkan dia untuk aku.
Setelah beberapa kali pertemuan dengan vania, aku memberanikan untuk mengajaknya pergi ke pantai, tempat pertama kali di pertemukan dan Vania tanpa basa basi dia langsung mengiyakan ajakanku, ini kabar bahagia apakah vania mempunyai rasa yang sama dengan ku. Hemm aku tidak berani untuk memikirkan hal itu tapi aku juga senang dengan semua keadaan sekarang ini.
Kami menunggu senja di pantai. Berjalan setengah jam di Pasir yang lembut. Memandang kaki langit yang merah. Ombak menggulung membasahi tumit. Amat menyenangkan berjalan bersamamu, berkejaran. Tertawa bersama-sama. Itu semua membuat aku hidup kembali, melupakan sekelumit masalah yang ada dengan kebahagian sekärang.
Senja itu hujan jatuh lagi dari langit menimpa pasir-pasir dan ombak nampak tidak bersahabat lagi untuk di selami. Kami memutuskan untuk berteduh di warung terdekat milik penjaga warung yang ada disana. Sambil menunggu hujan berhenti kami memesan dua gelas teh panas untuk menghangatkan tubuh agar tidak masuk angin. Setelah menunggu hujan reda kami memutuskan untuk pulang karena matahari sudah mulai terbenam di sore ini.
Aku tidak pernah seberbahagia ini merasakan senyuman dan hati yang menyatu betapa mengharukan nya, kau memilihku, kau ternyata juga mempunyai perasaan yang sama untuk ku ternyata perasaanku tidak pernah salah mencintai dari cinta yang berbalas. Setelah kita memutuskan untuk pulang sebelum itu aku memutuskan untuk mengutarakan apa yang aku rasakan dan ternyata kau juga mencintaiku. Gerimis dan lautan ini akan menjadi saksi cinta kita yang berharap bisa abadi untuk selamanya sampai maut memisahkan.
Semua kenangan itu nampak masih nyata dan hari ini juga aku berani untuk memutuskan hal yang terberat dalam hidupku yaitu belajar untuk melepaskan apa yang memang seharusnya pergi dan tinggal. Sungguh terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidupku. Cinta memang tidak perlu dipertemukan, cintalah yang menemukan kita.
Bila aku mengenang masa-masa itu, kenangan itu kembali muncul dalam ingatanku melalui serangkaian foto-foto. Aku melihat Vania di hari kami bersama, Vania berdiri di bibir pantai mengenakan pakaian serba hitam dan berdiri di sampingku seraya memeluk lenganku. Ketimbang memandang kamera, kita malah saling menatap, matamu berseri-seri dan suasana di sekelilingmu tampak menari-nari.
Apakah kau masih ingat pada waktu liburan singkat sebelum kita menghadapi ujian tengah semester. Kau di atas sebuah rakit di danau. Kau mengambil foto dengan kamera, kaki melebar, tangan mengepal di pinggang, bak penguasa alam semesta. Usiamu dua puluh tahun sementara aku juga sama. Ada sesuatu yang membanggakan kita sekarang, lebih dari apapun tanpa rasa takut. Cinta, demikian kita telah memutuskan sejak saat itu adalah sebuah kekuatan yang menguatkan kita setegar karang.
Liburan terakhir itu, Vania berkata lagi persis saat pertemuan kami beberapa hari yang lalu itu " semoga kebahagian kita tetap utuh selamanya ya sayang, kita berdua saling menguatkan. Jika pun kita harus berpisah setidaknya kita harus tetap bahagia." Tidak ada isyarat apapun yang tak menyenangkan dalam perkataan nya, atau sesuatu yang menyedihkan, malah Vania berbicara sambil tersenyum kepadaku. Benar-benar tidak ada perasaan sama sekali bahwa dia akan pergi untuk selamanya.
Meski kita hanya bisa bersama untuk sesaat, aku tetap bahagia dan berterima kasih. Karena pada akhirnya, semua hal memang akan selesai. Memiliki ujung kisah. Maka saat itu berakhir, aku tidak akan menangis sedih, aku akan tersenyum bahagia karena semua hal itu pernah terjadi.
Hari ini aku belajar tentang kepergian, keharusan untuk merelakan nya pergi dan tentang sesuatu yang tumbuh setelah lama di tinggalkan juga tentang perputaran hari yang berlalu tanpa terasa. Semua bergerak begitu cepat, aku mengenang banyak hal tentang belakangan ini. Hari-hari yang bahagia dan hari-hari kesedihan yang tak terduga. Tuhan selalu memberi kejutan untuk setiap kehidupanku agar lebih berwarna. Aku mulai belajar menerima diriku yang harus kehilangan nya karena dia adalah makhluk tuhan sama seperti aku, Tuhan berhak mengambil nya kapanpun dia mau dan aku harus merelakannya. Dan pertemuan dengan orang-orang yang baru setelahnya semoga aku bisa membuka hatiku kembali untuk orang lain.
Apa ini saatnya pindah, benar-benar meninggalkan nya tapi aku masih betah dengan seperti ini, meskipun aku kesepian dengan mencari kekasih baru itu bukan solusi nya aku harus membahagiakan diriku sendiri dulu sebelum bertemu orang lain yang mungkin akan menjadi jodohku. Aku menatap langit di atas. Semuanya seolah-olah membawaku semakin jauh. Dan seperti daun yang jatuh, akan ada daun baru yang tumbuh untuk membuat pohon tetap hidup. Untuk membuat pohon terlihat indah. Tuhan selalu punya kejutan atas penerimaan manusia pada kenyataan.
Aku mungkin tidak bisa memastikan kapan angin akan membawaku bertemu lagi dengan seseorang itu. Tapi, percayalah cinta akan selalu menemukan rumahnya. Jika kamu memang diciptakan untuk menjadi rumah bagi perasaanku. Kita akan di pertemukan entah sebab apa, Tuhan selalu punya kejutan atas kehidupan manusia, entah dimana atau dengan cara apa. Tapi percayalah waktu itu pasti akan datang.

Keren
BalasHapus