The Last Dance - Without You
Seems like it was yesterday when I saw your face
You told me how proud you were, but I walked away
If only I knew what I know today
I would hold you in my arms. I would take the pain away
Thank you for all you've done. Forgive all your mistakes
There's nothing I wouldn't do, To hear your voice again
Sometimes I wanna call you, but I know you won't be there
Oh, I'm sorry for blaming you
For everything I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting you
Some days I feel broke inside, but I won't admit
Sometimes I just wanna hide 'cause it's you I miss
And it's so hard to say goodbye when it comes to this
By
Christina Aguilera
Beberapa waktu aku masih dapat melihatmu, aku melihatmu masih terlihat sama tepat sebelum kejadian itu. Kamu masih nampak bersinar dan menyinari hari-hariku di tiap harinya. Itu semakin sulit mempercayai jika kamu telah pergi dari sisiku untuk selamanya. Rasanya aku masih belum bisa melupakan kejadian itu.
Saat orangtuamu mengabariku jika kau sakit telah lama dan dengan teganya kau merahasiakan itu dariku, saat kau berada di rumah sakit orangtuamu dengan berani mengabariku dan aku justru senang karena orangtuamu mengabariku tapi mendengar kabar itu sungguh menggelisahkan dan menakutkan hingga membuat aku bersedih mendengar bahwa umurmu tidak akan lama lagi. Terasa menyakitkan memang saat kabar duka itu datang secara tiba-tiba.
Kamu tahu saat kita berkomunikasi dengan hp saat kamu berada dalam kamar rumah sakit, kamu yang sangat manis dan bersinar namun sekarang telah layu dan nampak lelah akibat sakit yang kau terima. Aku sangat kasihan saat melihatmu begitu dan aku tidak tega melihatmu apalagi saat kamu mengatakan kamu sangat takut jika mati sekarang dan aku pun juga. Biasanya aku tidak panik saat menghadapi kematian tapi saat melihatmu yang terkujur lemah dan tak berdaya aku sangat takut dan juga sedih melihat keadaanmu yang seperti sekarang. Dan semakin takut saat hp yang kau pegang terjatuh dan kau memejamkan mata kemudian kedamaian datang disisimu saat malam itu bersama rasa kehilanganku yang akhirnya jadi nyata, tiada lagi senyum yang bisa menghapus rasa kesedihanku pada malam itu dan hari-hari berikutnya.
Aku tidak ingin berbicara sekarang, aku hanya ingin mendengarkan lagu. Berada dalam kolam renang dan menenggelamkan diriku jadi orang-orang tidak akan bisa melihat air mataku yang jatuh dan aku tidak mempunyai waktu untuk melihat kau sakit dam pergi dari dunia ini.
Sejak kepergianmu aku sulit memejamkan mata karena saat memejamkan mata aku dapat melihatmu dan mengingatmu. Barangkali aku seharusnya tidur sebentar hingga rasa sakit ini hilang tapi aku tidak bisa tidur rasanya ketika aku hendak tidur tiba-tiba aku kembali mengingat kenangan itu dan rasanya terasa begitu menyakitkan.
Semua temanku menghilang lagi, itu terjadi kapan aku merasa patah hati karena aku tidak mempunyai waktu untuk berkomunikasi dengan mereka dan meninggalkan semua dibelakang. Aku mengatakan kepada diriku jika aku akan baik-baik saja, aku hanya merasa sakit, hanya mencoba menghiraukan semua apa yang terjadi.
Pernahkah kau merasakan, bangun di pagi dan ketika kau ingin menghubungi dia dan kau baru sadar bahwa dia telah tidak ada lagi di dunia. Kau tidak akan pernah bisa menghubunginya lagi. Mengingat bahwa orang yang kau cintai kini telah tidak ada dan betapa kau sangat merindukan sosoknya. Dia yang selalu mengabarimu setiap pagi untuk menyuruhmu shalat malam dan berdoa tentang kebahagian dunia dan akhirat dan hubungan kami agar dapat dipersatukan oleh Tuhan.
Apakah memang kita harus seperti ini? Apakah ini memang jalan yang terbaik dari Tuhan untuk kita? Apakah dari semua bahagia di awal pertemuan kita yang begitu indah, menyenangkan dan membahagiakan. Yang pada awalnya kita dipertemukan oleh Tuhan namun pada akhirnya harus di pisahkan oleh Tuhan juga. Hingga akhirnya aku yang di tinggalkan seorang diri di dunia ini harus bersusah payah untuk bangkit dari rasa beratnya dari sebuah kesedihan dan aku tidak tahu caranya untuk meneruskan hidupku atau mencoba bertahan hidup sedikit lebih lama, karena aku merasa sakit di dalam hatiku.
Aku ingin bertemu denganmu sekali lagi saja. Karena aku merindukan melihat senyummu yang begitu indah dan mempesona, aku merindukan suara gelak tawamu saat menertawakanku, aku merindukan sekali lagi harum aroma tubuhmu dan masih banyak hal yang aku rindukan darimu.
Kenapa kita harus dipertemukan jika pada akhirnya harus dipisahkan, kenapa waktu begitu cepat berlalu tak aku sangka hubungan kita yang dua tahun lamanya harus berpisah dengan begitu kejamnya. Kita tak akan pernah bisa bertemu lagi sampai kematian juga datang padaku, jika sudah seperti ini, lantas apakah aku harus merelakanmu? Kau tahu aku sangat menyayangimu namun takdir tak pernah memihak kita, kita hanya bisa bersama sebentar ya begitulah takdir kita. Jalan yang telah di gariskan oleh Tuhan kita yang hanya mempertemukan kita di sebuah persimpangan. Ya kita yang saling merasa kesepian di pertemukan oleh Tuhan untuk saling membahagiakan satu sama lain namun pada akhirnya waktu tak pernah berpihak pada kita karena dari awal kita memang tak pernah di takdirkan untuk bersama.
Kau tahu di tahun-tahun sejak kepergianmu, tak ada kehadiranmu disisiku membuat aku merasa kehilangan jalan hidupku dan untuk meneruskan kuliahku saja aku malas-malasan karena aku merasa kehilangan separuh hidupku yang telah dibawa pergi olehmu. Setiap pagi aku selalu mengatakan aku akan bahagia jika meski tanpa kamu ada disisiku, aku akan menemukan sesorang yang mampu mengobati luka di masa lalu agar kau merasa tidak bersalah karena telah pergi lebih dulu dariku tapi begitulah janji kita, janti tentang kematian.
Sejak kau pergi, aku tak akan pernah bisa membencimu, apalagi membenci Tuhan yang telah mengambilmu dariku. Semenjak kau pergi, hampir dari semua teman-teman dan keluargaku mencoba menghiburku atas semua musibah yang menimpaku agar aku bisa tersenyum lagi dan ceria seperti dulu, namun pada akhirnya aku memang merasa tak pantas untuk tersenyum di dunia ini lagi karena kebahagianku telah terenggut dengan sadis.
Karena selain seluruh fisik dan jiwamu pergi, kau juga pergi mengambil separuh mimpi kita dan alasan bahagiaku di masa depan. Tiap kali aku ingin tersenyum rasanya tak sanggup aku lakukan karena memikirkanmu yang terkubur di dalam tanah dan itu membuat aku merasa tidak kuat untuk melihatnya.
Sejak kau pergi, aku tak pernah berani lagi untuk jatuh cinta, meskipun banyak orang-orang yang ingin singgah dihatiku tapi aku malah mengecewakan mereka dan merasa tidak peduli dengan mereka dan akhirnya mereka menyerah dan pergi dengan hati yang terluka, sungguh aku tidak pernah sejahat ini sejak aku merasakan terluka yang parah.
Entahlah, kepergianmu membuatku aku merasa hilang arah dalam menjalani hari-hari membahagiakan yang meskipun itu sederhana tapi hal itu membuat aku bisa tersenyum. Karena kepergiamu mengajarkan aku jangan terlalu dalam mencintai seseorang karena jika terlalu mencintai seseorang itu justru akan menyakitkan hatimu karena yang pantas dicintai hanyalah Tuhan Allah SWT dan nabi Muhammad Saw dan orangtua kita.
Di tahun-tahun berikutnya perjuangan tentang memulai membuka hati lagi, perjuangan untuk mencari kesibukan agar bisa sedikit melupakanmu, perjuangan untuk melewati malam, menahan sesak karena setiap aku memejamkan mata aku kembali mengingatmu.
Kau tahu apa yag kusesali, kenangan terakhir kami hanya pada saat liburan di akhir semester dan setelah itu jarak memisahkan kami untuk bertemu. Aku berharap sebelum Vania Mati aku bisa bisa bertemu dengannya sekali lagi dan mengatakan selamat tinggal dengan cara yang pantas. tapi kami hanya bisa bertemu lewat telepon saja.
Aku tak bisa mendengarkan lagi diam-diam. Apa yang kau katakana dulu, menusuk jiwaku. Jangan bilang pria lebih cepat lupa daripada wanita, bahwa cintanya lebih cepat pudar. Aku setengan menderita, setengah berharap. Kaulah selama ini aku pikirkan dan tak ada yang bisa menggantikanmu seutuhnya.
Tak pernah aku duga hubungan ini akan berakhir begitu saja. Takdir memisahkan kami bersama hujan yang sangat deras tanpa tahu kapan hujan itu berhenti. Semua begitu kelabu dan tak ada seorangpun yang dapat meradakan rasa sedihku yang disertai irama hujan, seolah-olah alampun tahu bagaimana rasanya aku yang kehilangan. Gelap dan kelabu.
Masih teringat jelas senyum yg seindah pelangi bahkan lebih indah daripada itu tapi waktu menghentikan itu semua. 365 hari hujan sudah turun dari langit dan tak pernah akan tahu berhenti dan akhirnya dalam hari-hariku bahkan pelangi tak pernah datang lagi bersama awan kelabu. Kemudian bagaimana aku harus memulai hari-hariku kembali. Tak pernahkah aku berpikir untuk kehilanganmu seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa berjumpa denganmu lagi. Oh Tuhan aku lelah dan tidak betah hidup di dunia ini, bisakah Engkau mengambilku juga sekarang jika itu memang yang terbaik untuk hidupku.
Bagaimana mungkin saat aku melihat kehidupan orang lain mereka dengan mudah dapat apa yang mereka inginkan. Sedangkan aku rasanya mengapa menjalani hidup terasa begitu berat untuk melanjutkan kehidupan ini padahal aku selalu mengingat-Nya dan meminta untuk dimudahkan melalui kehidupan ini. Kemudian apa yang salah denganku? Mengapa Tuhan memberi cobaan hidup yang begitu. Sungguh aku tak pernah bertahan sekuat ini, berapa lama lagi hingga aku bisa lulus dari segala ujian dari-Mu Tuhan dan jika aku tak sanggup bisakah Engkau berikan aku kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi dunia ini.
Bila waktu akan menjemputku juga, maka izinkanlah aku utk mengatakan selamat tinggal pada hari-hariku yang membosankn karena hidup tanpa kamu, betapa hatiku lemah karena merindukan kamu. Jalan seperti apa agar aku bisa melihatmu lagi, jika dengan kematian aku bisa bertemu dengan kamu aku siap andai Tuhan juga akan menjemputku dari dunia fana ini.
Meskipun betapa rapuhnya aku terhadap godaan dunia ini dan tak pernah terpikir aku dapat menikmati dunia ini lagi karena tdk pernah terpikir sedikitpun aku bisa meluangkan waktuku lagi utk have fun. Yg aku pikirkan now hanya how aku akan menghadapi kematianku sendiri, dimanakah aku akan mati? Entah seberapa lama lagi aku bisa bertahan menghadapi dunia ini tapi yang jelas aku tidak ingin lagi hidup jika tanpa kamu lagi disisiku.
#ini adalah akhir kisah bagian dari the Last Dance dan ini bukan kisah Vania Larasati lagi tapi disambung kembali oleh kisah Levℛyley untuk mengakhiri chapters ini. Thank you. Happy Reading
