Di dunia Terravia, empat fraksi—Human, Fae, Neander, dan Mortii—hidup dalam ketidakseimbangan yang terus-menerus. Selama berabad-abad, perang telah menjadi satu-satunya bahasa yang mereka mengerti, semua dipicu oleh hilangnya artefak kuno, Heart of the Sanctuary. Artefak ini, yang diyakini mampu membawa kedamaian atau kehancuran total, menjadi sumber kebencian dan tuduhan antar fraksi.
Kael, seorang pembuat kartu biasa dengan kemampuan unik merasakan "gema" dari kartu yang hilang, hidup jauh dari kekacauan itu. Namun, kehidupannya yang damai hancur ketika serangan Mortii menghancurkan desanya dan menculik adiknya, Elara. Didorong oleh rasa sakit dan dendam, Kael memutuskan untuk memulai perjalanan yang mustahil: menemukan Heart of the Sanctuary untuk mengakhiri perang dan menyelamatkan Elara.
Dalam perjalanannya, Kael tidak sendirian. Ia membentuk aliansi yang tak terduga dengan pahlawan dari fraksi lain: Lyra, seorang Fae tangkas yang berjuang untuk melindungi hutan purba; dan Brokk, seorang Neander perkasa yang melindungi sukunya dari kehancuran. Bersama-sama, mereka berhadapan dengan Lord Malakor, pahlawan Mortii yang haus kekuasaan dan dalang di balik penculikan Elara.
Di tengah pertarungan yang semakin memanas, Kael dan kawan-kawan mulai mengungkap kebenaran yang jauh lebih kelam dari yang mereka kira. Ternyata, ada kekuatan kuno dan jahat yang secara diam-diam memanipulasi keempat fraksi, menjebak mereka dalam siklus konflik abadi. Mampukah aliansi yang tidak biasa ini menemukan kebenaran, menghentikan kekuatan gelap, dan membawa kedamaian kembali ke Terravia sebelum semuanya terlambat?
Bab 1: Gema dari Debu dan Dendam
Matahari sore di Terravia mewarnai langit dengan jingga yang menyedihkan. Namun, di desa kecil bernama Havenwood, warna itu tidak menyiratkan keindahan, melainkan darah dan api. Rumah-rumah yang terbuat dari kayu pinus kini tinggal arang. Asap tipis masih mengepul dari atap yang runtuh, membawa serta aroma pahit dari kenangan yang terbakar. Di tengah kehancuran itu, berdirilah seorang pemuda bernama Kael, matanya kosong, menatap puing-puing desanya.
Kael bukanlah seorang prajurit. Ia adalah seorang pembuat kartu, seorang pengrajin yang hidupnya diabdikan untuk menciptakan kartu-kartu kuat dari bahan-bahan yang diambil dari alam. Tangannya kasar dan kapalan, tetapi jari-jarinya cekatan, mampu menyulap selembar kulit dan tinta menjadi perwujudan kekuatan. Sampai serangan itu terjadi. Serangan Mortii. Mereka datang seperti bayangan, tanpa suara, sebelum kehancuran datang seperti badai.Elara..." lirih Kael, suaranya tercekat. Ia terus mencari, menggali tumpukan abu dengan tangan kosong, berharap menemukan petunjuk. Jantungnya berdebar kencang, menolak untuk menerima kenyataan yang ada di depan mata.
Kemudian, sesuatu yang kecil dan keras menyentuh ujung jarinya. Kael menariknya keluar dari abu: selembar kartu yang sudah kotor dan sedikit hangus, tetapi desainnya masih terlihat. Itu adalah kartu terakhir yang dibuat Elara, kartu makhluk kecil berbulu yang hanya ia ciptakan sebagai mainan. Ketika Kael menyentuhnya, getaran aneh menjalari tubuhnya. Itu adalah "gema". Bukan gema dari ingatan, tetapi gema dari jiwa. Gema yang berbicara tanpa kata, tetapi memuat emosi yang kuat: ketakutan, kesedihan, tetapi juga secercah harapan.
"Dia masih hidup," bisik Kael pada dirinya sendiri, suaranya mulai dipenuhi tekad. Kartu itu bergetar lagi, seolah membenarkan ucapannya. Kael tahu kemampuan langkanya ini bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah takdir.Dendam membara di dalam dirinya, tetapi ia tahu bahwa ia tidak bisa menghadapi pasukan Mortii sendirian. Ia harus mencari jalan. Ingatannya kembali pada cerita-cerita kuno yang sering ia dengar dari para pengelana.
Cerita tentang artefak yang mampu mengembalikan kedamaian, Heart of the Sanctuary. Artefak itu konon diletakkan di tempat yang hanya bisa dijangkau oleh pahlawan yang paling berani, sebuah tempat tersembunyi yang dilindungi oleh empat pilar, satu untuk setiap fraksi.
Namun, pencarian itu bukan tanpa risiko. Heart of the Sanctuary telah menjadi legenda, sebuah mitos yang dipercayai hilang.
Setiap fraksi menuduh fraksi lain mencurinya, menjadikan artefak itu sebagai alasan utama pertempuran mereka. Untuk mendapatkan artefak itu, Kael harus berhadapan dengan musuh-musuhnya, dan mungkin juga sekutunya.Kael berdiri tegak, membiarkan angin membelai rambutnya.
Ia menggenggam kartu Elara dengan erat, seperti menggenggam harapan terakhirnya. Ia tidak lagi peduli dengan politik fraksi atau perang abadi. Yang ia pedulikan hanyalah satu hal: menemukan adiknya dan membawa keadilan bagi desanya. Dan jika itu berarti ia harus membongkar rahasia terdalam dunia ini, maka ia akan melakukannya. Perjalanan Kael, seorang pembuat kartu biasa, untuk menjadi seorang pahlawan, baru saja dimulai. Dengan satu langkah, ia meninggalkan puing-puing masa lalunya, melangkah menuju masa depan yang tidak pasti, dipandu oleh gema kartu yang hilang.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
