Pangeran Samudra membenamkan wajahnya ke dalam rimbunnya semak pandan berduri, napasnya tersengal. Aroma tanah basah, daun-daun yang membusuk, dan lumpur sungai memenuhi hidungnya. Bau yang asing, bau yang jauh dari wewangian istana yang dikenalnya sejak kecil. Di belakangnya, suara-suara teriakan dan ringkikan kuda semakin dekat, memecah kesunyian malam di hutan Kalimantan. Setiap bunyi membuat jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, mereka datang untuk membunuhnya.
Samudra, yang belum genap lima belas tahun, telah menyaksikan ayahnya, Raja Sukarama, meninggal dalam keadaan yang misterius. Belum kering air mata kesedihannya, pamannya sendiri, Pangeran Tumenggung, mengambil alih takhta dengan paksa. Pengkhianatan itu datang begitu cepat, seperti kilat di malam tanpa bulan. Para pengikut setia ayahnya disingkirkan, dibuang, atau dibunuh tanpa ampun. Samudra yang seharusnya menjadi pewaris sah, kini hanyalah buronan.
Di sisinya, Gendut, pengawal setianya sejak ia masih kecil, memegang pedang dengan tangan gemetar. Gendut bukan prajurit yang paling tangkas, tetapi kesetiaannya tak pernah diragukan. Matanya yang bulat memantulkan ketakutan, namun ia berusaha keras menutupinya. "Pangeran, kita tidak bisa terus di sini," bisiknya serak. "Mereka akan menemukan kita.
"Aku tahu," Samudra membalas, suaranya tercekat. "Tapi ke mana lagi kita harus pergi?" Ia merasa tidak berdaya. Semua kekuasaan, semua kemewahan, telah direnggut darinya. Satu-satunya yang tersisa hanyalah sehelai pakaian lusuh dan kenangan akan kehidupan yang kini terasa seperti mimpi buruk.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar sangat dekat. Gendut mencengkeram bahu Samudra dan mendorongnya ke dalam sebuah lubang kecil yang tersembunyi di balik akar pohon beringin raksasa. "Masuk, Pangeran! Jangan bergerak!" perintah Gendut.
Samudra menuruti. Dari dalam lubang yang sempit, ia bisa melihat sepasang sepatu bot kulit yang berlumpur. Itu adalah pasukan Pangeran Tumenggung. Di dada salah satu prajurit, ia melihat lambang Rajawali emas, simbol kekuasaan yang kini menjadi lambang tirani. Pemimpin pasukan itu, seorang prajurit bertubuh kekar dengan bekas luka di pipi, menendang semak-semak di dekat mereka.
"Tidak ada apa-apa di sini," kata pemimpin itu dengan suara berat. "Mereka pasti menuju sungai. Sebarkan orang-orang! Pastikan bocah itu tidak lolos!"
Suara-suara itu perlahan menjauh. Gendut menghela napas lega, namun matanya tetap waspada. "Kita harus bergerak sekarang," bisiknya. "Malam ini kita menyusuri sungai, mencari perahu nelayan."
Mereka merayap keluar dari persembunyian, melintasi hutan yang gelap dan sunyi, hanya diterangi oleh rembulan yang samar-samar. Dalam perjalanan, pikiran Samudra melayang kembali ke masa lalu. Ia mengingat janji ayahnya, bahwa ia akan menjadi raja yang adil dan makmur. Janji itu kini terasa pahit, seperti racun yang meracuni jiwanya. Perasaan marah dan dendam mulai tumbuh di hatinya, memadamkan ketakutan yang semula menguasainya.
Jantung Samudra nyaris berhenti berdetak.Tidak ada apa-apa di sini," kata pemimpin itu dengan suara berat. "Mereka pasti menuju sungai. Sebarkan orang-orang! Pastikan bocah itu tidak lolos!"
Suara-suara itu perlahan menjauh. Gendut menghela napas lega, namun matanya tetap waspada. "Kita harus bergerak sekarang," bisiknya. "Malam ini kita menyusuri sungai, mencari perahu nelayan."
Mereka merayap keluar dari persembunyian, melintasi hutan yang gelap dan sunyi, hanya diterangi oleh rembulan yang samar-samar. Dalam perjalanan, pikiran Samudra melayang kembali ke masa lalu. Ia mengingat janji ayahnya, bahwa ia akan menjadi raja yang adil dan makmur. Janji itu kini terasa pahit, seperti racun yang meracuni jiwanya. Perasaan marah dan dendam mulai tumbuh di hatinya, memadamkan ketakutan yang semula menguasainya.
Saat tiba di tepi Sungai Barito, mereka disambut oleh kegelapan dan keheningan. Perahu-perahu kecil nelayan berlabuh di pinggir sungai, mengapung perlahan di atas air yang tenang. "Kita ambil salah satu," kata Gendut. "Kita akan mendayung ke hilir, menjauh dari Daha."
Namun, di saat mereka hendak mendekati perahu, sebuah suara menginterupsi mereka dari kegelapan. "Siapa kalian?! Jangan berani-beraninya menyentuh perahu kami!"
Dari balik bayangan, muncul seorang pria dengan tombak di tangannya. Matanya tajam, tubuhnya tegap, dan ia mengenakan pakaian sederhana dari kulit kayu. Ia adalah seorang suku dayak yang tinggal di pedalaman.
Gendut bersiap siaga, tetapi Samudra menghentikannya."Maaf, kami bukan perampok," kata Samudra. "Kami hanya ingin menumpang. Kami sedang dalam pelarian."
Pria itu menatap Samudra dengan curiga. "Kalian terlihat seperti orang istana," katanya. "Pakaianmu... walau kotor, aku masih bisa melihat bekas benang emasnya."
"Dia adalah Pangeran Samudra," Gendut memotong, tidak bisa lagi menyembunyikan identitas tuannya. "Pewaris takhta yang terusir."
Pria itu terkejut. "Pangeran Samudra?" gumamnya. "Putra Raja Sukarama?" Ia lalu melihat luka-luka di tangan Samudra, bekas sayatan dari duri pandan, dan kekesalan yang terpancar dari matanya. Ia menurunkan tombaknya. "Aku pernah mendengar desas-desus. Pangeran Tumenggung merebut takhta. Dia mengirim pasukannya untuk memburu kalian?"
Samudra mengangguk. "Mereka akan datang. Tolong bantu kami."
Pria itu terdiam sejenak, menimbang-nimbang. "Namaku Bagus," katanya akhirnya. "Pemimpin gerilya di pedalaman. Aku membenci Tumenggung, seperti semua orang di sini. Tapi membantumu... itu akan membahayakan seluruh sukuku."
Kami tidak punya tujuan lain," Samudra memohon. "Hanya ingin melarikan diri untuk sementara waktu."
Bagus mengamati Samudra dengan saksama. Ia melihat sesuatu di mata pemuda itu: bukan hanya ketakutan, tetapi juga tekad yang membara. Ia melihat cerminan amarah yang sama yang ia rasakan terhadap Pangeran Tumenggung.
"Baiklah," kata Bagus dengan nada berat. "Aku akan membantu kalian. Tapi bukan dengan perahu. Itu terlalu berbahaya. Ikut aku."
Mereka mengikuti Bagus, menyusuri jalan setapak di sepanjang sungai, menuju sebuah tempat yang lebih tersembunyi. Di sana, mereka menemukan Bagus dan beberapa pengikutnya yang setia. Mereka semua tampak lelah, tetapi matanya penuh semangat perlawanan.
"Kita akan menyusuri hutan, Pangeran," kata Bagus. "Kita akan menghilang. Kita akan menjadi hantu di mata mereka. Di tempat ini, kita akan menunggu waktu yang tepat untuk kembali."
Samudra menatap Bagus, lalu Gendut. Malam itu, di bawah kerlip bintang yang redup, di tengah hutan yang gelap, ia menyadari bahwa perjalanannya belum berakhir. Ia bukan lagi seorang pangeran di istana megah, tetapi seorang buronan yang mencari perlindungan. Dan di dalam kegelapan itu, benih ambisi untuk kembali, untuk membalas dendam, dan untuk menyatukan kembali kerajaannya, mulai tumbuh dengan kuat. Perjalanannya baru saja dimulai.
