Perjalanan Samudra dan Gendut bersama Bagus dan kelompoknya memakan waktu berhari-hari. Mereka menembus lebatnya hutan pedalaman, melintasi rawa-rawa yang berbau amis, dan menyeberangi anak-anak sungai yang arusnya deras. Bagus dan pasukannya terbiasa dengan medan ini, tubuh mereka bergerak lincah dan tanpa suara, menyatu dengan alam. Sementara itu, Samudra dan Gendut harus berjuang keras menyesuaikan diri. Kaki mereka lecet, tubuh mereka lelah, dan rasa lapar menjadi sahabat baru mereka.
Setiap malam, mereka berhenti di tempat persembunyian yang berbeda, membuat api unggun kecil di bawah naungan pohon rimbun untuk menghindari terdeteksi. Di sinilah, di tengah kegelapan hutan yang misterius, Samudra mulai memahami realitas kehidupannya yang baru. Ia mendengarkan cerita-cerita Bagus tentang kekejaman Pangeran Tumenggung: pajak yang mencekik rakyat, penindasan terhadap suku-suku pedalaman, dan janji-janji kosong yang selalu dilanggar. Setiap cerita memupuk kebencian di hati Samudra, mengubahnya dari seorang pangeran yang ketakutan menjadi seorang pemimpin yang bertekad.
"Kenapa kalian tidak melawan saja?" tanya Samudra suatu malam, menatap nyala api yang menari-nari.
Bagus, yang sedang menajamkan tombaknya, menoleh. Wajahnya yang penuh goresan luka terlihat tegas dalam cahaya api. "Kami melawan, Pangeran. Dengan cara kami. Menghindari mereka, menyerang saat mereka lengah. Tapi kami tidak punya pemimpin. Kami tidak punya simbol. Hanya sekelompok orang yang marah."
"Dan aku adalah simbol itu?" Samudra bertanya, menyadari bobot tanggung jawab yang kini ada di pundaknya."Kau pewaris sah, Pangeran. Kau bisa menyatukan kami," kata Bagus. "Kami tahu kau akan dicari sampai ke ujung dunia, tapi di pedalaman ini, hukum dan kekuasaan istana tidak berlaku. Di sini, yang berkuasa adalah kekuatan tekad."
Keberadaan Pangeran Samudra menarik perhatian lain. Suatu sore, saat mereka beristirahat di tepi sebuah danau yang tenang, sebuah perahu kecil tiba-tiba muncul dari balik rerimbunan. Di atas perahu, berdiri seorang pria bertubuh kurus namun berotot, dengan tato rumit di seluruh lengannya dan sebilah pisau terselip di pinggangnya. Matanya liar dan penuh tantangan.
"Aku Sangkuriang, kapten perompak sungai," katanya dengan suara berat. "Aku mendengar desas-desus. Pewaris takhta yang terusir, berlindung di pedalaman. Aku ingin melihatnya."
Bagus bersiap siaga, tetapi Samudra melangkah maju. "Aku Pangeran Samudra," katanya dengan suara mantap. "Aku tidak lagi berlindung. Aku sedang membangun kekuatan."
Sangkuriang tertawa terbahak-bahak. Tawa itu menggema di seluruh danau. "Pasukan? Kau? Bocah kecil dengan satu pengawal gemuk ini?"
"Kau tidak tahu apa yang kurasakan," jawab Samudra, matanya menyala. "Aku ingin merebut kembali kerajaanku."
Tawa Sangkuriang berhenti. Ia melihat tekad yang sama yang dilihat Bagus. "Menarik," gumamnya. "Aku benci Tumenggung. Dia membunuh keluargaku, merampas tanahku. Tapi aku tidak bekerja tanpa bayaran."
"Apa yang kau inginkan?" tanya Samudra.
"Aku ingin bagian," jawab Sangkuriang dengan senyum sinis. "Saat kau menjadi raja, aku ingin menguasai perdagangan di sungai. Berikan aku kekuasaan itu, dan pasukanku akan menjadi milikmu."
Ini adalah tawaran yang berbahaya. Samudra tahu perompak tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Namun, ia juga tahu ia membutuhkan Sangkuriang dan pasukannya. Ia menoleh ke Gendut, mencari nasihat. Gendut hanya menatapnya dengan penuh keyakinan. Samudra adalah tuannya, dan ia akan mengikutinya sampai mati.
Samudra menatap Sangkuriang lurus di mata. "Aku setuju," katanya tegas. "Aku tidak bisa menjanjikan kekuasaan, tapi aku berjanji akan memberikan bagian yang adil dari perdagangan. Jika kau berkhianat, aku sendiri yang akan memburumu."
Sangkuriang tersenyum puas. Ia menyalami Samudra. Kesepakatan tercipta. Sejak saat itu, pasukan Samudra tidak hanya terdiri dari gerilyawan hutan, tetapi juga perompak sungai yang tangguh. Masing-masing memiliki keahliannya sendiri: Bagus dengan pengetahuan medannya, Sangkuriang dengan kemampuan tempur di air, dan Samudra dengan keteguhan hati dan tekadnya.
Beberapa minggu berikutnya, mereka mulai berlatih. Samudra belajar cara menggunakan pedang dengan benar dari Gendut. Ia juga belajar taktik perang gerilya dari Bagus dan strategi pertempuran air dari Sangkuriang. Samudra tidak hanya belajar bertarung, ia belajar untuk menjadi seorang pemimpin. Ia mulai berinteraksi dengan setiap anggota pasukannya, mendengarkan keluh kesah mereka, dan memastikan mereka semua merasa dihargai. Perlahan, pasukannya yang semula adalah kelompok orang yang marah dan terbuang, mulai berubah menjadi sebuah unit yang solid, terikat oleh kesetiaan kepada seorang pangeran yang berani.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu pagi, seorang pengintai melaporkan bahwa pasukan Pangeran Tumenggung telah menemukan jejak mereka dan sedang menuju ke arah mereka. Pertempuran tidak bisa dihindari. Di hutan belantara, di tepi Sungai Barito yang lebar, Samudra dan pasukannya bersiap menghadapi musuh, siap bertarung untuk membalas dendam dan merebut kembali takhta yang direnggut dari mereka. Ini bukan lagi sekadar pelarian, ini adalah awal dari sebuah perang.
