Lev Ryley: Mahasiswa Pustakawan ULM yang Mencari Arti Hidup di Banjarmasin
Udara Banjarmasin selalu punya cerita. Hangat, lembap, dan kadang aroma sungai bercampur dengan hiruk pikuk kota. Aku, Lev Ryley, sudah terbiasa dengan semua itu. Empat tahun menempuh pendidikan sebagai mahasiswa ULM jurusan pustakawan membuatku lebih sering bertemu buku ketimbang orang. Bagi sebagian orang, perpustakaan adalah tempat membosankan. Tapi bagiku, ini adalah rumah.
Di antara rak-rak tinggi yang berjejer rapi, aku menemukan ketenangan. Suara bisik-bisik, langkah kaki yang berhati-hati, dan aroma kertas yang menguning adalah simfoni favoritku. Sebagai mahasiswa pustakawan, aku belajar cara merawat buku, mengklasifikasikannya, dan yang paling penting, mengelola cerita-cerita yang tersembunyi di dalamnya.
Sore itu, di salah satu sudut perpustakaan, aku duduk terdiam. Novel klasik di tanganku tidak mampu mengalihkan pikiranku. Sejujurnya, aku merasa ada yang kurang dalam hidupku. Aku punya buku, punya ilmu, tapi tidak punya kisah. Aku cemburu pada setiap novel romantis yang kubaca, dengan tokoh-tokohnya yang jatuh cinta, berjuang, dan menemukan makna hidup. Kisah-kisah itu terasa sangat jauh dariku, Lev Ryley, yang terlalu nyaman di balik tumpukan buku.
"Lev, apa kamu sudah menyelesaikan inventarisasi buku baru?" Suara Bu Riska, kepala perpustakaan, membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk, meletakkan novelku di meja. "Sudah, Bu. Tapi saya masih perlu mengecek ulang."
Bu Riska tersenyum. "Kamu selalu teliti. Bagus. Jangan terlalu banyak melamun, ya. Kamu itu mahasiswa yang cerdas, jangan cuma tenggelam di dunia buku."
Aku hanya tersenyum tipis. Bagaimana bisa aku menjelaskan padanya bahwa dunia buku lebih jujur dari dunia nyata? Dunia yang kutahu, hanya soal angka indeks dan judul-judul buku. Tidak ada kejutan, tidak ada petualangan. Padahal, jauh di dalam hatiku, kisah cinta seperti di novel-novel itu yang kucari.
Esok lusa adalah hari libur semester. Sebagian besar temanku memilih pulang kampung atau berlibur ke luar kota. Tapi aku? Aku tidak punya tujuan. Kebanyakan liburanku hanya diisi dengan membaca buku di kamar kos kecilku di Banjarmasin.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamku pada diri sendiri, mengusap sampul novel yang kusandarkan di dada. "Apa ada cerita yang menungguku di luar sana?"
Novel romantis ini bercerita tentang seorang pria yang menemukan takdirnya di tepi pantai. Sebuah ide kecil muncul di benakku. Pantai? Aku tak pernah ke sana. Satu-satunya pantai yang kudengar di dekat sini adalah Pantai Takisung di Pelaihari. Entah kenapa, ide itu terasa menarik. Mungkin di sana, di tempat yang jauh dari rak-rak perpustakaan, aku bisa menemukan petualangan baru.
Aku menutup novel dengan perlahan, merasakan debar aneh di dada. Apakah ini yang dinamakan 'awal dari sebuah cerita mahasiswa'? Aku tidak tahu, tapi aku merasa penasaran. Mungkin sudah saatnya Lev Ryley keluar dari perpustakaan dan menuliskan bab pertama dari kisah cintanya sendiri. Petualangan singkat itu akan dimulai, membawa harapan akan sesuatu yang lebih dari sekadar cerita fiksi.
Pesan untuk Pembaca (SEO):
Pembaca novel romantis, apakah kamu juga seorang mahasiswa yang merasa kesepian di tengah rutinitas? Ikuti kisah Lev Ryley dan petualangannya di Banjarmasin.
Apakah Lev Ryley akan menemukan takdirnya di Pantai Takisung? Jangan lewatkan Bab 2!
Novel ini cocok untuk kamu yang suka cerita mahasiswa dengan latar lokal dan ending yang mengharukan.
