Cindy, dengan ekspresi dramatis yang berlebihan, sedang berlatih monolog untuk audisi, "Oh, cinta yang dingin dan pahit, seperti kopi tanpa gula!" teriaknya, wajahnya penuh kesedihan palsu.
Tiba-tiba, terdengar suara ledakan keras dari dapur. Asap hitam mengepul dari balik pintu. Andriy keluar dengan wajah coreng moreng, sebuah spatula berasap di tangan, "Ini seharusnya jadi crème brûlée!" keluhnya frustrasi. "Tapi entah kenapa, kompornya meledak."
Bella, yang sedang merenung di sofa dengan gitar di pangkuannya, mendongak. "Aku dapat inspirasi," gumamnya, mulai memetik senar. "Seharusnya aku tidak jatuh cinta dengan seorang koki, tapi aku malah jatuh cinta dengan bau gosong..."
Hermione, yang mencoba merekam episode podcast-nya yang serius tentang politik lokal, menghela napas. "Andriy, bisakah kamu tidak meledakkan dapur saat aku sedang melaporkan krisis lingkungan?" tegurnya, suaranya terdengar jengkel.
Di saat yang sama, Harry muncul dari tangga, memegang kamera yang rusak. "Lev, kamu yakin ini ide bagus untuk merekam adegan kejar-kejaran di dalam apartemen?"
Di belakangnya, Lev terhuyung-huyung dengan sebuah keranjang cucian di kepalanya. "Adegan 'Melarikan Diri dari Realita' akan sangat otentik," jawabnya sambil menabrak lemari es.
Suara alarm kebakaran mulai berbunyi nyaring. Semua orang panik. Bella mulai memetik gitarnya dengan lebih cepat, menciptakan melodi yang lebih intens. Cindy terus melanjutkan monolog dramanya, sekarang menggunakan asap sebagai properti alami.
"Ini bukan Comedy, ini neraka!" teriak Bella sambil panik.
Di tengah semua kekacauan ini, Harry memandang Cindy, yang masih berakting di tengah kepulan asap, dan merasakan sesuatu yang aneh. Bukan hanya karena api, tetapi ada percikan yang sama sekali tidak dia duga. Dan begitulah, di antara tawa dan bencana kecil, kisah mereka dimulai.
