Pertemuan Tak Terduga di Pantai Takisung: Lev Ryley dan Kisah Baru.
Perjalanan dari Banjarmasin ke Pantai Takisung di Pelaihari, Kalimantan Selatan tidak seberapa jauh, tapi terasa seperti melintasi dunia lain. Jauh dari hiruk pikuk kota dan tumpukan buku di perpustakaan ULM. Motor yang yang aku pakai melaju di antara pepohonan hijau yang lebat, dan udara perlahan berubah dari lembap kota menjadi semilir angin pantai. Perjalanan ini adalah bentuk pemberontakan kecilku dari rutinitas sebagai mahasiswa pustakawan.
Aku tiba di Pantai Takisung saat mentari mulai condong ke barat. Langit berubah warna, dari biru cerah menjadi oranye keemasan yang menawan. Pasir putih terhampar luas, dihiasi pohon-pohon nyiur yang melambai. Pengunjung tidak terlalu ramai, menciptakan suasana damai yang belum pernah kutemui di dalam buku. Aku mengambil posisi di bawah salah satu pohon, mengeluarkan buku dari tas, tapi pandanganku terus terarah pada pemandangan di depanku.
Di kejauhan, seorang gadis duduk di atas tikar kecil. Rambutnya tergerai indah, diterpa angin laut. Di depannya, ada kanvas kosong dan beberapa cat yang berserakan. Ia melukis. Tangannya yang lincah menorehkan warna-warna, seolah mencoba menangkap keindahan senja takisung di atas kanvas. Aku terpaku. Sosoknya mengingatkanku pada deskripsi karakter di novel romantis yang kubaca.
Aku tak bisa lagi menahan diri. Kuberanikan langkah, berjalan mendekat. Sebutir pasir terlempar oleh angin, mengenai lenganku. Aku menoleh ke sumbernya. Rupanya, sebuah ombak kecil baru saja menerpa bibir pantai. Aku melangkah kembali, menghindari air laut yang kian mendekat.
Tiba-tiba, langkahku terhenti. Kanvas gadis itu jatuh, terhempas angin. Aku tanpa berpikir langsung berlari, berusaha menyelamatkan kanvas itu dari sapuan ombak. "Awas!" teriakku.
Gadis itu menoleh, terkejut. Matanya yang cokelat bulat menatapku heran, tapi ia segera ikut berdiri. Aku berhasil menangkap kanvas itu tepat waktu, walau tanganku sedikit basah karena terpercik air.
"Terima kasih!" ucapnya dengan senyum lebar yang membuat matanya ikut melengkung. "Hampir saja lukisanku... Oh, astaga!"
"Iya, aku terlalu fokus melukis, sampai lupa diri," katanya sambil tertawa renyah. "Aku Vania, mahasiswa ULM juga."
Dunia terasa berhenti sejenak. Vania. Bahkan namanya pun terdengar seperti tokoh novel romantis yang selama ini kucari.
"Aku Lev. Mahasiswa ULM, jurusan pustakawan."
"Oh, perpustakaan? Pantas saja. Kurasa aku pernah melihatmu di sana."
Kami tertawa. Sebuah pertemuan pertama yang tak terduga, terjadi di antara pasir pantai dan suara ombak. Aku yang biasanya kaku dan canggung, kini bisa berbicara dengannya dengan santai. Perasaan aneh itu kembali, perasaan yang kutemukan hanya di dalam buku-buku.
"Melukis, ya?" tanyaku, melihat kanvasnya yang kini sudah berada di tangannya lagi.
"Iya. Aku mahasiswa PGSD, tapi melukis adalah hobiku," jawab Vania. "Senja di Pantai Takisung ini begitu indah, aku harus mengabadikannya."
Kami duduk di atas tikar, membiarkan senja terus berproses. Obrolan kami mengalir alami, tentang kuliah, hobi, dan impian. Aku yang biasanya hanya membaca kisah cinta orang lain, kini sedang menulis bab pertamanya sendiri. Di bawah langit senja yang memesona di Pelaihari, Kalimantan Selatan, Lev Ryley si pustakawan menemukan petualangan baru, bukan di antara halaman buku, tapi di samping seorang gadis bernama Vania, yang manis dan cantik.
Pesan untuk Pembaca:
*Novel romantis ini semakin seru! Lev Ryley si mahasiswa ULM bertemu Vania di Pantai Takisung.
*Apakah ini awal dari kisah cinta yang manis? Apa yang akan terjadi di Bab 3 saat mereka kembali ke Banjarmasin?
*Ikuti terus cerita mahasiswa ini, dan rasakan kehangatan senja takisung bersama mereka! #NovelRomantis #SadEnding #PantaiTakisung #Banjarmasin #MahasiswaULM
