Sekolah Dasar Tunas Bangsa, sebuah bangunan sederhana dengan cat putih yang mulai mengelupas, terletak tak jauh dari pusat kota Banjarmasin. Di sanalah Vania mengabdikan diri. Ia mencintai pekerjaannya, terlepas dari segala drama yang menyertainya. Kelas 3B adalah "kerajaan" kecilnya, tempat ia menjadi ratu yang adil dan kadang-kadang kewalahan menghadapi kelakuan rakyatnya yang ajaib.
"Ibu Guru! Ibu Guru!" seru seorang murid bertubuh gempal bernama Dodo, matanya berbinar penuh semangat. "Tadi Ibu dikejar-kejar bebek, ya? Saya lihat dari jendela rumah! Seru sekali!"
Seketika, seluruh kelas tertawa. Vania memaksakan senyum, berusaha terlihat profesional. Kejadian di Jembatan Barito tadi pagi ternyata sudah sampai di sekolah lebih dulu daripada dirinya. Kecepatan informasi di Banjarmasin kadang lebih cepat dari cahaya.
"Dodo, itu bukan hal yang baik untuk diceritakan di kelas. Ibu cuma sedang olahraga pagi," jawab Vania, berusaha mengendalikan situasi.
"Iya, Bu, olahraga lari dari bebek!" timpal seorang murid lain, Rara, dengan cengengesan.
Vania menghela napas. Kelasnya bukan hanya penuh warna, tapi juga penuh dengan celetukan yang sulit dibantah. Ia memutuskan untuk mengalihkan topik.
"Baiklah, anak-anak. Hari ini kita akan belajar tentang puisi. Ada yang tahu apa itu puisi?"
"Puisi itu yang isinya tentang cinta-cintaan, ya, Bu?" celetuk Naufal, murid paling usil di kelas.
"Bukan, Naufal. Puisi bisa tentang apa saja. Tentang keindahan alam, tentang persahabatan..."
"Atau tentang Ibu Guru yang cantik dikejar bebek?" potong Naufal lagi. Seluruh kelas kembali tertawa riuh. Vania merasa ingin menyematkan kata "usil" di rapor Naufal, tapi ia segera mengurungkan niat. Anak-anak memang tak ada salahnya. Yang salah mungkin nasibnya saja hari ini.
"Sudah, sudah. Sekarang Ibu mau kalian buat puisi. Temanya bebas. Yang paling bagus nanti Ibu beri hadiah."
Anak-anak mulai sibuk dengan pensil dan kertas mereka. Vania mengamati satu per satu. Ada yang serius, ada yang celingak-celinguk mencari inspirasi, dan ada juga yang malah menggambar bebek di buku tulisnya. Vania mendatangi meja Naufal. Bocah itu menyembunyikan kertasnya.
"Naufal, sudah dapat idenya?"
Naufal menggeleng. "Belum, Bu. Saya cuma kepikiran bebek terus."
Vania tersenyum. "Coba ganti temanya. Misalnya, tentang pahlawan. Siapa pahlawan favoritmu?"
"Ibu," jawab Naufal tanpa ragu.
Vania kaget. "Ibu?"
"Iya, pahlawan yang lari dari bebek," Naufal kembali cengengesan.
Vania mengusap dadanya. Sabar, Vania, sabar. Ia pindah ke meja Dodo, anak yang tadi pertama kali membocorkan insiden pagi ini. Dodo sedang serius menulis, bibirnya komat-kamit.
"Bisa Ibu lihat?" tanya Vania lembut.
Dodo mengangguk dan menunjukkan kertasnya. Vania membacanya.
Guruku
Guruku sangat baik
Walau dia dikejar bebek
Dia tetap senyum cantik
Semoga dapat jodoh yang baik
Vania nyaris tersedak air liur. Puisi Dodo sukses membuatnya merasa antara terharu, geli, dan malu. Apalagi bagian "dapat jodoh yang baik" itu. Ini pasti ulah teman-temannya yang sering menggoda Vania.
"Dodo, ini bagus. Tapi... kenapa ada tentang jodohnya?" tanya Vania, berusaha menahan tawa.
"Kata Ayah saya, kalau sudah cantik harus cepat dapat jodoh, Bu," jawab Dodo polos.
Vania hanya bisa tersenyum. Ia kembali ke mejanya, melihat jam. Tak terasa bel istirahat sudah berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar. Vania terdiam sejenak, memegang puisi buatan Dodo. Ia tidak tahu apakah ia harus tertawa atau menangis. Hari ini, ia sudah menjadi pahlawan bagi murid-muridnya pahlawan yang dikejar bebek.
Saat ia sedang membereskan mejanya, terdengar ketukan di pintu. Seorang guru olahraga yang gagah dan tampan, Pak Riko, berdiri di sana dengan senyum menawan.
"Vania, apa kamu mau makan siang bareng?" tawarnya.
Vania menelan ludah. Pak Riko adalah guru paling populer di kalangan murid perempuan. Vania sudah sering ditawari makan siang, tapi ia selalu menolak dengan alasan sibuk.
"Ehm, maaf, Pak Riko. Saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di sini," jawab Vania, berusaha terdengar sopan.
"Oh, begitu. Sayang sekali. Padahal saya mau berbagi pengalaman dikejar anjing," canda Pak Riko. "Oh, itu bukan anjing, tapi bebek, ya?"
Vania merutuki dirinya. Rupanya berita itu sudah menyebar ke seluruh guru. Ia hanya bisa mengangguk pasrah.
"Tidak apa-apa, Vania. Nanti kalau ada insiden lain, saya siap bantu." Pak Riko mengedipkan mata, lalu pergi.
Vania mendesah, lemas. Hidupnya di sekolah memang tak pernah membosankan. Selalu ada saja cerita lucu yang menjadi bumbu hari-harinya. Namun, di balik semua kekocakan itu, ada sedikit rasa kesepian. Puisi Dodo tentang jodoh membuatnya berpikir. Mungkinkah takdir sedang menyiapkan seseorang untuknya? Seseorang yang tidak akan menertawakannya saat ia dikejar bebek, tapi justru membantunya dengan senyum tulus?
Pertanyaan itu berputar di benaknya, membuat Vania penasaran. Tanpa ia sadari, kisah cintanya yang kocak dan tak terduga telah dimulai. Dimulai dari seekor bebek dan seorang pria misterius di Jembatan Barito.

30 bab
BalasHapus