Emily turun dari taksi, koper di tangannya terasa sangat berat, bukan hanya karena isinya, tetapi karena beban ekspektasi yang ia pikul. Sinar matahari Paris yang hangat tidak terasa sehangat yang ia bayangkan. Jalan-jalan berbatu yang terlihat romantis di film-film kini terasa bergelombang dan sulit ditapaki dengan sepatu bot yang tidak nyaman. Ia mencari alamat apartemen yang sudah dipesannya. Di sampingnya, beberapa orang berbicara dalam bahasa Prancis yang cepat, terdengar seperti melodi asing yang tak ia mengerti. Emily merasa seperti alien, sebuah keganjilan di antara keramaian kota yang begitu ramai ini.
Kesepian di kota besar adalah hal yang paling ia takuti, dan ketakutan itu langsung menjadi kenyataan. Apartemen kecil yang disewa Emily tidak seperti yang terlihat di foto-foto. Jendela kecilnya menghadap ke dinding batu, dan udaranya terasa pengap. Tak ada pemandangan Menara Eiffel yang dijanjikan dalam brosur. Hanya ada bau roti dan asap rokok dari kafe di bawah. Ini adalah kisah perjuangan di Paris, bukan cerita romantis yang ia baca dalam buku. Emily merasa ditipu, bukan oleh pemilik apartemen, tapi oleh harapannya sendiri.
Ia membuka koper, mengeluarkan beberapa helai baju. Di bawah tumpukan pakaian, ia menemukan buku catatan Adam, dengan beberapa halaman yang diisi dengan tulisan tangannya. Emily membuka halaman terakhir. Di sana, Adam menuliskan sebuah daftar tempat yang ingin mereka kunjungi bersama. Ada nama-nama tempat terkenal, dan ada pula nama-nama tempat rahasia yang ia temukan dari buku panduan lokal.
Air mata Emily menetes di halaman itu. Paris yang ia impikan adalah Paris bersama Adam. Paris yang ia kunjungi sekarang adalah Paris yang penuh dengan kenangan pahit. Ia merasa marah pada Adam, karena meninggalkannya sendirian di tempat asing ini. Ia marah pada dirinya sendiri, karena telah membiarkan harapan palsu ini membawanya ke sini.
Di tengah perasaan sulit beradaptasi di lingkungan baru, Emily mencoba mencari cara untuk bertahan. Ia tahu, mengatasi culture shock tidak bisa dilakukan dalam semalam. Ia harus berani keluar dari zona nyamannya, meskipun itu berarti berjalan sendirian di jalan-jalan yang asing. Sore itu, ia memutuskan untuk mencari makan. Ia memilih sebuah bistro kecil yang ramai, berharap keramaian itu bisa mengusir kesepiannya. Namun, ia malah merasa semakin terasing. Pasangan-pasangan yang duduk di sekitarnya tertawa dan bercengkerama, sementara ia duduk sendirian, hanya ditemani oleh secangkir kopi.
Saat Emily pulang ke apartemennya, ia merasa sangat lelah. Bukan hanya lelah fisik, tapi juga lelah emosional. Ia tidak menemukan Paris yang ia kenal dari film-film, melainkan Paris yang kejam, penuh dengan orang-orang asing yang tidak peduli. Ia menyadari bahwa ia telah mencoba merantau dan kesepian tanpa persiapan mental yang matang. Ia membuka kotak berisi surat-surat Adam, membaca kembali kalimat-kalimat yang penuh janji. Ia mencari kekuatan di sana. Ia tahu, perjalanan ini baru dimulai. Ia tidak bisa menyerah begitu saja. Ia harus menemukan cara untuk bertahan, untuk menghormati janji Adam. Namun, pada malam itu, Emily hanya ingin pulang. Pulang ke rumah, di mana kenangan Adam, meskipun menyakitkan, masih terasa nyaman dan akrab.
