Anatasya masih bisa merasakan debaran jantungnya. Bukan karena ia terkejut, tetapi karena rasa malu yang membuncah. Ia baru saja bertatap muka dengan pria di Sudut Rak, dan kecerobohannya terekam jelas di mata pria itu. Ia menyumpah dalam hati, berjanji akan lebih berhati-hati. Namun, pikirannya kembali melayang pada tatapan mata pria itu—tenang, dalam, dan sedikit geli.
Suasana tenang perpustakaan yang biasanya menjadi penenang hatinya, kini terasa aneh. Anatasya merasa seperti ada mata yang memperhatikannya dari pojok ruangan, meski ia tahu pria itu sudah kembali tenggelam dalam bukunya.
Belum sempat ia menenangkan diri, pintu utama perpustakaan terbuka dengan suara denting bel yang riang. Sosok seorang perempuan dengan rambut merah bergelombang dan jaket bulu palsu berwarna mencolok memasuki ruangan. Langkahnya ceria, seolah ia baru saja memenangkan lotere. Ia adalah Maja, sahabat terbaik Anatasya.
Maja adalah kebalikan Anatasya. Jika Anatasya adalah halaman buku yang tersusun rapi, Maja adalah tumpahan tinta yang membuat halaman itu menjadi karya seni abstrak. Jika Anatasya adalah kesunyian, Maja adalah musik yang keras. Mereka adalah dua kutub yang berlawanan, tetapi entah bagaimana, mereka saling melengkapi.
"Anatasya! Aku punya kejutan!" seru Maja, suaranya sedikit terlalu keras untuk ukuran perpustakaan yang tidak boleh terlalu keras bersuara.
Anatasya buru-buru meletakkan telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar Maja menurunkan suaranya. Beberapa pengunjung menoleh, termasuk pria di Sudut Rak yang menaikkan alisnya. Anatasya merasa pipinya kembali memanas.
"Apa lagi kali ini?" bisik Anatasya, menghampiri Maja. "Tolong jangan buat keributan. Ada orang yang mencoba membaca, tahu."
"Oh, ayolah! Ini kejutan besar!" Maja menarik Anatasya keluar dari balik meja informasi dan membawanya ke sebuah pojok yang lebih sepi. "Aku menemukan ide brilian untuk membuat hidupmu lebih berwarna."
Anatasya menatap Maja dengan waspada. Ide-ide brilian Maja selalu berakhir dengan kekacauan. "Maja, aku sudah cukup berwarna. Hidupku penuh dengan buku."
"Itu warna yang membosankan, sayang," kata Maja, memutar bola matanya. "Dengar, aku punya ide untuk pesta buku. Aku tahu, aku tahu, itu klise. Tapi, pesta buku yang berbeda! Kita akan mengundang semua penulis lokal, musisi, dan—"
"Maja," sela Anatasya, "kita tidak bisa mengadakan pesta di perpustakaan. Ini bukan klub malam."
"Ini bukan klub malam, tapi bisa jadi ruang seni!" Maja mengabaikan keberatan Anatasya. "Bayangkan! Musik jazz, puisi, dan orang-orang yang berinteraksi secara nyata! Bukan hanya orang-orang yang duduk diam dan membaca."
"Aku suka orang-orang yang duduk diam dan membaca," Anatasya mencoba membela diri, tetapi Maja sudah terlalu bersemangat.
Di tengah pembicaraan heboh mereka, Maja mengeluarkan segelas kopi yang dibelinya di jalan. "Ngomong-ngomong, aku bawakan ini untukmu. Kopi favoritmu, dengan krim ekstra dan sedikit kayu manis."
Anatasya tersenyum, merasa sedikit luluh. Maja memang sering membuat kekacauan, tetapi ia juga selalu perhatian.
"Terima kasih, Maja. Kau memang yang terbaik."
Tepat saat Anatasya akan meraih cangkir itu, Maja secara tidak sengaja menyenggol lengan Anatasya. Cangkir kopi itu terlepas dari genggaman Anatasya, dan dalam gerakan lambat yang menyakitkan, kopi panas itu tumpah.
Tidak mengenai lantai, tidak mengenai baju mereka. Kopi itu tumpah di atas setumpuk buku langka yang baru saja sampai pagi itu. Buku-buku tua yang berharga, kini basah dengan cairan kopi yang lengket dan berbau kayu manis.
Keduanya terdiam. Maja membeku, matanya membelalak. Anatasya menatap tumpukan buku yang bernoda cokelat itu, dan rasanya seperti ada bagian dari jiwanya yang ikut basah.
"Oh, nej," gumam Maja, dengan nada yang jauh lebih panik dari Anatasya. "Anatasya, aku, aku minta maaf."
Anatasya tidak menjawab. Ia hanya mengambil kain lap dari meja Gunilla dan mencoba membersihkan buku-buku itu. Tentu saja, buku-buku itu sudah basah dan rusak.
"A-aku akan membelikan yang baru," kata Maja, mencoba menawarkan solusi.
"Kau tidak bisa membelikan yang baru, Maja," bisik Anatasya.
"Ini buku-buku langka. Mereka tidak dicetak lagi."
Seorang pengunjung muda yang sedang membaca komik di dekat mereka melihat kejadian itu, dan ia mulai tertawa terbahak-bahak. Tawa itu menarik perhatian pengunjung lain, dan tak lama kemudian, seisi perpustakaan menatap ke arah mereka.
Anatasya merasa seluruh dunia runtuh. Ia ingin kabur, ingin menghilang, ingin kembali ke keheningan yang damai sebelum Maja datang. Tapi ia tak bisa. Ia hanya bisa berdiri di sana, menatap noda kopi yang kini membekas di buku-buku kesayangannya.
Lalu, ia melihat pria di Sudut Rak. Pria itu menatapnya, tetapi kali ini, ekspresinya bukan geli. Kali ini, ekspresinya adalah... simpati. Sedikit senyum tersungging di bibirnya, seolah ia mengerti kekacauan yang terjadi.
Anatasya tidak tahu apakah itu lebih baik atau lebih buruk. Bab baru dalam hidupnya yang rapi ini, kini dimulai dengan sebuah noda kopi, kekacauan yang diciptakan oleh sahabatnya, dan tatapan misterius dari seorang pria yang tidak ia kenal. Hidupnya benar-benar tidak akan pernah sama lagi. Dan ia tidak tahu apakah ia harus menangis atau tertawa.
