Udara di padang rumput yang terbuka terasa dingin, namun Kael bisa merasakan energi sihir yang mengalir kuat di sekitarnya. Di seberang sana, seorang sosok berdiri tegak, memegang busur yang terbuat dari ranting pohon suci, busur yang diukir dengan detail rumit yang bercahaya hijau. Sosok itu adalah seorang wanita muda dari fraksi Fae, Lyra. Rambutnya berwarna perak kebiruan, terikat longgar dan dihiasi dengan beberapa bunga hutan. Matanya berwarna hijau zamrud, memantulkan cahaya dari jamur-jamur di sekitarnya, menatap Kael dengan penuh kecurigaan.
"Siapa kau, Human?" tanya Lyra, suaranya terdengar jernih namun dipenuhi permusuhan. "Bagaimana bisa kau sampai di sini? Wilayah kami tidak untuk manusia. Pergilah."
Kael, yang sudah menduga reaksi seperti ini, mengangkat kedua tangannya perlahan. "Namaku Kael. Aku datang bukan untuk berperang. Aku mengejar mereka yang menyerang desaku," jawabnya. "Jejak Mortii membawaku ke sini."
Lyra tersenyum sinis. "Jejak Mortii? Atau itu hanya alasanmu? Kami tahu apa yang dilakukan manusia. Mereka datang, menebang pohon, dan mencuri sihir kami. Mengapa kami harus percaya padamu?" Ia mengangkat busurnya, mengarahkan panah ke dada Kael. Panah itu terbuat dari kayu yang juga bersinar hijau, dan Kael bisa merasakan energi magisnya.
Kael tahu ia harus meyakinkan Lyra, dan satu-satunya cara adalah dengan kejujuran. "Aku mengerti kecurigaanmu. Fraksi Human telah melakukan banyak kesalahan. Tapi, ini bukan tentang fraksi. Ini tentang adikku, Elara, yang diculik. Dia hanya seorang anak kecil." Ia merogoh kantungnya, mengeluarkan kartu kecil Elara yang lusuh.
Lyra tertawa pahit. "Kartu? Apakah itu mainanmu? Aku tidak peduli dengan kisahmu. Pergi atau..."
"Tunggu," potong Kael. Ia mendekatkan kartu itu ke dada Lyra. Lyra terkejut, namun ia tidak dapat bergerak. Ia merasakan gema yang sama seperti yang Kael rasakan. Gema yang berbicara tentang kesedihan seorang kakak dan ketakutan seorang adik. Gema yang menceritakan serangan Mortii, bau hangus, dan puing-puing. Mata Lyra yang awalnya dipenuhi permusuhan kini dipenuhi dengan kebingungan.
"Apa itu?" tanya Lyra, suaranya sedikit gemetar. "Aku... aku bisa merasakannya. Bukan sihir biasa."
"Itu adalah gema," jawab Kael. "Kartu ini adalah kartu terakhir yang dibuat Elara. Gema ini adalah suaranya. Dia masih hidup, Lyra. Dan Mortii yang menculiknya melewati hutan ini."
Lyra menurunkan busurnya, pandangannya beralih dari kartu ke wajah Kael, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, yang ia lihat hanyalah kejujuran yang mendalam dan keputusasaan yang tulus. Lyra, yang juga merasakan adanya ketidakseimbangan yang mengancam hutan, mulai merasakan bahwa ini bukanlah kebetulan. Hutan Fae juga telah merasakan serangan sihir gelap Mortii, dan dia menyadari bahwa Kael tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri.
"Mengapa aku harus membantumu?" tanya Lyra, nadanya melembut.
"Bukan hanya aku yang membutuhkan bantuan," jawab Kael, suaranya tenang dan penuh keyakinan. "Kekuatan Mortii yang kau rasakan juga mengancam hutanmu. Mereka tidak hanya menculik Elara, mereka juga merusak alam. Jika kita tidak menghentikan mereka, hutan ini juga akan hancur."
Lyra terdiam, memikirkan kata-kata Kael. Ia memang merasakan ada sesuatu yang salah di dalam hutan. Beberapa pohon kuno yang seharusnya tidak bisa dihancurkan, kini layu dan mati. Ia juga merasakan aura kegelapan yang menjalar seperti penyakit di dalam hutan. Perang antar fraksi selama ini adalah tentang kekuasaan, tetapi kali ini, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mengancam keberadaan seluruh makhluk hidup.
"Baiklah," kata Lyra, akhirnya memutuskan. "Aku akan membantumu, Kael. Tapi dengan satu syarat."
Kael menatap Lyra, menunggu.
"Kau harus berjanji," lanjut Lyra, matanya menatap tajam ke mata Kael. "Apapun yang terjadi, kau tidak akan menyakiti hutan ini. Kau akan melindungi alam seperti kami melindunginya."
Kael mengangguk tanpa ragu. "Aku janji."
Lyra mengulurkan tangannya, dan Kael menyambutnya. Persekutuan pertama yang tak terduga antara Human dan Fae telah terbentuk, sebuah janji yang disaksikan oleh hutan purba itu sendiri. Mereka tidak tahu bahwa ini hanyalah awal dari petualangan yang jauh lebih besar, petualangan yang akan mengubah takdir Terravia selamanya.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
